Sunday, November 08, 2009

Hasta La Vista


Sore di Kaliurang KM5,  foto oleh vitarlenology

Terpaksa mengatakan hasta la vista atau mendengar orang lain mengatakan itu, ternyata sama ga enaknya. Apalagi jika itu dikatakan saat aku masih berkeyakinan bahwa itu bukan keputusan yang semestinya aku ambil. Itu adalah keputusan terakhir. Atau, hal itu terucap dari orang yang tidak cukup punya energi menghadapi tantangan bekerja bersamaku. Aku jadi merasakan ulang, apakah aku yang terlalu tidak sabar menghadapi orang yang aku yakin dia mampu melakukannya? atau aku yang terlalu 'kurang kerjaan' memberikan tantangan berlebih pada orang yang ternyata tidak cukup punya semangat untuk menjalaninya. Bisa jadi tantanganku itu tidak cukup berarti baginya. Jadi daripada membuang-buang waktu menghadapinya lebih baik dihindari saja. Ya,  mungkin ini caraku menghibur diriku sendiri dari rasa kecewa saat orang yang aku yakin mampu, ternyata lebih memilih tidak menerima tantangan dariku dan meninggalkanku.

Life goes on. Hidup senantiasa bergerak terus. Maju. Terpaksa melepaskan dan berusaha merelakan orang-orang yang aku yakini bisa, begitu caranya belajar menerima kehidupan dan ketidak mengertian dalam hidup. Mungkin aku terlalu menaruh harapan besar pada orang-orang seperti itu. Yang aku proyeksikan adalah keinginanku bukan keinginannya. Dan saat keinginanku itu tak kesampaian, aku harus berdamai dengan diriku sendiri dan rasa kecewaku.  Aku meyakinkan diriku, bahwa ini adalah proses seleksi teman perjalanku. Cita-citaku ini membangun apa yang disebut 'literasi dalam keseharian' tidak selalu ditemani oleh teman perjalanan yang sama yang bisa setia dari awal memulai langkah sampai saat ini. Kenyataan sendiri telah membuktikan itu. Bahkan di awal saat cita-cita ini disepakati bersama (oleh dua pendiri tobucil lainnya), di masa persiapan aku sudah ditinggalkan. Terpaksa menghadapi kondisi dan situasi dimana aku harus berjalan terlebih dahulu, karena waktu perjalanan dan semua yang sudah ditentukan tidak dapat ditarik mundur. Di perjalananku itu yang lain mengikuti dari belakang sementara aku meraba-raba apa yang akan kuhadapi nanti sambil mencoba menemukan keyakinan diriku sendiri bahwa temanku itu benar-benar ada menyertaiku, meski kehadirannya kadang seringkali tidak berhasil meyakinkanku. Sampai akhirnya aku benar-benar sadar, sendirian karena yang lain memutuskan untuk menempuh jalan yang lain, dan aku memutuskan untuk terus, semua harapan dan keyakinan yang aku bangun dan aku bagi bersama, terpaksa runtuh dan perlahan-lahan kubangun lagi yang baru. Seperti sebuah perancangan ulang tahapan proses, karena terlalu banyak hal tak terduga dan tak diperhitungkan sama sekali.

Pada  bangun baru proses perjalanan selanjutnya, kuputuskan menyusun perjalanan cita-citaku itu seperti modul-modul yang bisa kusambung-sambungkan seperti bentukan yang sudah kurencanakan. Namun ada saatnya, aku harus melepaskan salah satu modul itu, karena ternyata modul itu bukanlah modul yang cukup kuat untuk disambungkan dengan yang lain. Apa yang mesti kulakukan pada titik ini? memaksakannya berkait dan melemahkan bangunan bentuk yang sedang disusun, atau terpaksa menyingkirkannya untuk menyelamatkan  yang lain (pada titik ini, aku menganggap menyingkirkan dan membuat menyingkir, tipis sekali perbedaannya. Dua hal ini hanya membedakan rasa bersalahku segaris saja. Menyingkirkan berarti rasa bersalahku lebih tebal satu garis, sementara membuat menyingkir dengan sendirinya hanya membuat rasa bersalahku berkurang satu garis saja. Dua-duanya tetap menyisakan perasaan bersalah karena diri telah gagal membuat orang lain mengerti, gagal membuat modul yang baik seperti yang kuharapkan). Namun begitulah hukum alam bekerja. Bahkan  Gregor Mendel membuktikan, selalu ada  sifat-sifat resesif yang diturunkan secara acak pada setiap mahluk hidup. Kadang kita sulit menduganya kapan sifat itu akan muncul, tapi pada saat kemunculannya, pilihannya adalah memisahkannya atau membuatnya berjuang keras menyesuaikan diri dengan  keadaan mayoritas. Namun segregasi dan isolasi seringkali bukan pilihan tepat untuk hidup sebagai yang bebeda. Alam dan kenyataan menuntut percampuran dan hukum survival of the fitness membuat pilihannya menjadi sederhana saja. Sahabatku si pembalap gadungan bilang, menjadi looser selamanya, atau menjadi hebat dan tangguh kerena bisa menyandi penyintas dengan keberbedaan dan keresesifannya itu.  Dan setiap orang adalah penyintas untuk keresesifannya dan keberbedaannya masing-masing. Bagiku kemudian, ujung-ujungnya semua kembali ke persoalan negosiasi soal mengerti dan dimengerti dan menerima bahwa orang lain memang belum bisa mengerti.

Satu hal yang aku sadari dari proses melepaskan ini adalah, bahwa dimengerti atau tidak itu hanya persoalan waktu. Sekarang mungkin belum (daripa mengatakan tidak sama sekali) mengerti, mungkin nanti. Toh setiap orang punya waktunya sendiri. Lagi-lagi aku mengingat perkataan temanku si pembalap gadungan itu, bahwa hal yang lumrah ketika kita mencoba untuk berpikir lebih visioner dan jauh ke depan, orang menjadi sulit menangkap apa yang kita maksud, karena semua itu belum ada dalam bayangan mereka. Bahkan bagi si visioner sendiri yang dia visikan itu belum tentu sesuatu yang benar-benar  jelas. Orang yang visioner seringkali lebih membutuhkan dukungan untuk memperkuat keyakinan bahwa dia bisa menemukan cara untuk merealisasikan visinya itu. Dengan keyakinan itu si visioner punya kekuatan untuk trial and error dengan caranya. Dukungan keyakinan itu seperti jaminan toleransi bahwa dia bisa memiliki keleluasaan untuk menemukan caranya merealisasikan visi dan misinya itu.

Jadi kukira mengatakan hasta la vista pada orang yang kuanggap bisa tapi ternyata belum, seperti menaruh sebuah harapan bahwa 'kita mungkin suatu hari nanti akan bertemu lagi dalam situasi dan kondisi yang lebih baik. mungkin di titik ketika aku, kamu sudah bisa saling mengerti keinginan masing-masing. Jadi, sampai bertemu lagi, hasta la vista baby..

Terima kasih sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik yang kamu mampu selama berjalan bersamaku.

Tuesday, November 03, 2009

Jangan Katakan 'Tidak Bisa' Padaku, Sebelum Kau Mencobanya


'head inside the box' foto by vitarlenology, 2009

Apa yang harus kulakukan, ketika menghadapi seseorang yang kutawari sebuah kesempatan untuk berkembang (tentunya dengan keyakinan bahwa dia bisa melakukannya), tapi jawaban yang kudapatkan adalah "saya ga mau. Ga aja, karena perasaan saya mengatakan demikian. Takutnya nanti kalau dipaksakan malah merusak semua yang sudah saya kerjakan." Aku tentu saja marah tapi lebih besar merasa kecewa karena aku tidak menyukai sikap menyerah sebelum mencoba.  Bagaimana jika perasaannya itu disesatkan oleh ketakutan untuk mencoba hal baru?  Rasanya seperti sebuah harapan baik di runtuhkan oleh ketakutan keluar dari zona aman. Apalagi jika jawaban itu datang dari orang yang aku yakin bahwa dia bisa melakukannya dan selama ini aku memberinya kesempatan untuk belajar dan melakukan kesalahan. Aku punya cukup banyak toleransi untuk kesalahan dalam belajar daripada penolakan sebelum mencoba.  Lalu sahabatku si pembalap gadungan itu bilang '.. hey c'est la vie.. been there done that! and I ain't regret it.. if they can't manage with my way (which I believe it's for they own goodness in the future).. hasta la vista sucker!' 

Dalam sebuah kelompok kerja, tidak mudah membuat setiap anggota kelompok bisa dengan mudah bergerak senantiasa sebagai bagian dari dinamika merespon perubahan dan perkembangan yang ada. Jauh lebih mudah jika setiap orang bisa menemukan ritme peregerakannya dalam dinamika kelompok, meski mereka bergerak pelan daripada satu pihak memutuskan diam di tempat karena takut keluar dari lingkaran kenyamanannya. Apalagi jika yang dilakukan oleh kelompok ini adalah sebuah pekerjaan dimana kelompok itu sendiri yang mesti menemukan sistem, cara dan aturan mainnya sendiri untuk sebuah misi yang disepakati bersama.

Sebagai team leader, tentunya untuk sampai pada keputusan 'hasta la vista loser..' ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan, untuk memberi nilai pada keputusan itu: apakah putusan itu menjadi 'adil' atau emosional belaka. Dalam hal ini, aku berusaha keras mengesampingkan rasa kecewa atas penolakan itu, egoku yang merasa ditolak otoritasnya coba menyisih dulu, dan rasionalitasku mengemuka untuk menemukan jalan membela kepentingan yang lebih besar: tujuan dari kerja bersama dalam kelompok ini.  Apakah penolakan ini akan berdampak pada kekacauan sistem kerja dalam kelompok? kontra produktif dengan visi, misi dan tujuan yang hendak di capai? atau secara sistemik tidak berdampak apa-apa, hanya ego pribadi sebagai team leader saja yang terusik? Jika ternyata yang pertama, tentu pertimbangan dari anggota kelompok yang lain yang merasakan dampak dari 'ketakutan yang tak beralasan itu', perlu memberikan pandangannya. Jalan apa yang mesti di tempuh untuk menghadapi sikap anggota kelompok yang seperti itu. Prosedur apa yang disepakati untuk memastikan bahwa hal ini jangan sampai mengganggu  kerja dan pencapaian anggota kelompok yang lain. Lalu pilihan-pilihan apa saja untuk menyelesaikan masalah ini. Dari pilihan yang terbaik menurut kelompok sampai yang terburuk: 'hasta la vista ..'

Dalam situasi seperti ini, team leader bertindak seperti hakim yang menyelesaikan dan memutuskan. Untuk itu, semua rasa marah dan kecewa harus bisa diselesaikan terlebih dahulu. Tentunya aku mesti memahami dimana posisiku sesungguhnya. Sahabatku si pembalap gadungan mengingatkanku dengan dua pertanyaan: 'should I step back right now or this is my kingdom and I'm the queen?'. Dua-duanya sama mengandung resiko yang pertama: penolakan satu jika dibiarkan akan menimbulkan penolakan-penolakan lain. Ini bukan sekedar persoalan menegakkan otoritas, tapi bagaimana belajar mempertahankan keyakinan dengan argumentasi yang bisa diterima.  Sebuah tim yang dibangun dari gagasan yang lemah secara argumentasi akan sulit untuk menemukan dan membangun karakternya sendiri. Yang kedua resikonya seperti yang diingatkan sahabatku: 'prepare for another addition in your enemy list. Untuk resiko ini, rasanya aku sudah terbiasa menghadapi situasi dimana tidak semua orang setuju dan mengamini keputusanku. Ada bagian dari ketidak setujuan itu yang bisa aku simpan sebagai modalku membangun argumentasi dari keputusan-keputusan yang aku ambil, tapi sebagaian besar dari ketidak setujuan itu justru memberikan peluang bahwa tidak semua orang memilih apa yang aku pilih, karena itu lakukanlah tindakan yang tidak disetujui semua orang itu dengan sebaik-baiknya. Temukan argumentasi yang bisa memberi pandangan lain pada orang-orang mulanya tidak setuju menjadi 'sedikit setuju' karena menemukan cara pandang yang berbeda atas keputusanku. Itu yang akan membuat musuh-musuhmu sekalipun menaruh hormat padamu (setidaknya pelajaran hidup seperti ini banyak kutemukan ketika menonton kehidupan para kriminal: Godfather, The Sopranos). Dengan mengerti resiko-resiko ini, kurasa kemarahan dan rasa kecewa akan menemukan argumentasi rasionalnya jika aku paham dan sadar betul diposisi mana aku berdiri.

Baiklah. Rasanya yang pertama harus kulakukan untuk mengahadapi penolakan ini adalah: menjelaskan kembali, mengapa aku memberinya sebuah penawaran dan meminta sebuah perubahan sudut pandang darinya. Menjelaskan alasan mengapa hal itu penting dilakukan untuk mencapai visi, misi dan tujuan bersama yang telah disepakati. Sekaligus juga menegaskan kembali tugas dan otoritas masing-masing. Tak lupa  menjelaskan apa resiko dan konsekuensi dari penolakan itu dan  jika akhirnya dia bisa bersepakat dan menerima tawaran itu, selanjutnya aku akan memberikan jaminan dukungan apa saja yang bisa dia dapatkan dariku sebagai team leader dan dari anggota kelompok lainnya. Hal yang paling diperlukan  untuk menemukan kesepakatan bergerak  bersama-sama dalam sebuah dinamika kelompok adalah keterbukaan termasuk terbuka dalam hal kelebihan dan kekurangan masing-masing dan tentunya  terbuka untuk bekerjasama serta menyadari dirinya bagian dari kelompok kerja bersama. Semua sama-sama belajar, semua sama-sama saling menguatkan dan mendampingi untuk menemukan kekuatan dan mengalahkan rasa takut untuk menemukan kebaruan-kebaruan dari cara melihat. Percayalah, semua yang kau takutkan itu, tidak semenakutkan yang kamu kira saat kau mencoba menjalaninya.

Namun, jika semua upaya itu hanya membuat kamu semakin bertahan dengan penolakanmu, with all due respect I'll said: 'hasta la vista, baby..'


thanks yus, you're god damned right.. xoxo!

Friday, October 30, 2009

40 Miles from Denver



Aku lagi suka Yonder Mountain String Band. 40 Miles from Denver salah satu lagu favoritku.

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a lonely road to travel on
But I've stood here waiting much too long
And I'd rather leave this minute than try to carry on

And I'd be 40 miles from Denver headed east bound on the track
I'd be 40 miles from Denver and trying to get back
To that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there

It's a cold, cold moon out tonight
And it's a cold, cold point on your knife
Could I call myself a man if I left by the morning light?

And I'd be 40 miles from Denver when you woke up all alone
I'd be 40 miles from Denver and three days from my home
In that cool mountain air, on an Appalachian trail
Ohh, life is better there (4x)
[ 40 Miles From Denver Lyrics on http://www.lyricsmania.com/

Friday, October 23, 2009

Tumbuh Bersama



Bagaimana tumbuh bersama-sama dalam sebuah ikatan pernikahan itu? Sebuah pembicaraan menarik muncul beberapa waktu lalu. Sambil menikmati coklat, kopi dan cheese cake bersama dua orang teman yang pernikahannya sedang dalam 'masalah'. Dua orang temanku ini, sama-sama menghadapi persoalan ketidak seimbangan ruang aktulasasi diri dari salah satu pasangan yang menyebabkan ketidak nyamanan salah satu pihak. "Don't join this club.. ," temanku si pembalap gadungan itu, memperingatkanku. Dia tidak ingin ketika aku menikah, mengalami masalah yang dialaminya sekarang.

Pertanyaan ini sebenarnya menjadi pertanyaanku sejak lama. Sepengamatanku, ruang tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan itu seringkali menjadi medan pertempuran yang penuh persaingan dan ketegangan. Selalu ada pihak yang merasa di kalahkan dan dianggap menang sendiri. Akhirnya tumbuh bersama itu seperti situasi dua pohon besar yang tumbuh berdesak-desakan di dalam pot sempit. Tanaman itu pada akhirnya tumbuh seperti bonsai yang dikerdilkan. Atau seperti dua ladang yang terpisah jauh yang satu menggarap sawah yang satu menggarap ladang jagung.

Namun sebelum bertanya bagaimana tumbuh bersama dalam ikatan pernikahan, kurasa penting untuk bertanya, apakah pasangan kita sadar bahwa ketika komitmen pernikahan itu dinyatakan, masing-masing akan tumbuh dan berkembang bersama-sama. Menjadi dua batang pohon yang tumbuh berdampingan. Mungkin banyak yang tidak menyadari hal itu. Aku memperhatikan, banyak pasangan yang menuntut pasangannya melebur dalam hidup salah satu di antara mereka. Dunianya tidak boleh lebih besar dari dunia pasangannya. Pernikahan kemudian menjadi komitmen untuk berkompetisi dengan dunianya masing-masing, bukan lagi komitmen untuk memperluas ruang dengan mengapresiasi ruang masing-masing.

Ya tentu saja hal ini mudah dikatakan sebagai teori, tapi bukan hal yang mudah untuk di jalani. Apalagi jika yang mengatakannya belum menikah seperti aku. Dengan mudah aku akan dibilang sok tau "Kamu kan belum merasakan sendiri.." heheheh.. ya apa yang kutulis di sini adalah pandanganku dalam rangka "Don't join this club". Pemahamanku yang kuperoleh dari mengamati kehidupan pernikahan sahabat-sahabatku yang beraneka ragam dan beberapa diantaranya berada di ujung tanduk karena sulit menemukan ruang negosiasi itu.

Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, bisakah tumbuh sendiri itu seperti tanaman-tanaman di hutan. Sebagian saling menumpang,  sebagian tegak memayungi, tapi semua bisa leluasa dan menumbuhkan potensinya. Tiba-tiba aku jadi kepikiran: 'tapi tumbuhan di hutan itu kan banyak sekali jenisnya. Meski tumbuh bersama-sama, belum tentu semua bisa tumbuh jadi kanopi. Ada yang justru menempati posisi kasta terendah dalam dunia tumbuhan. Setiap tumbuhan kanopi justru menjadi tumpangan tumbuhan-tumbuhan lain. Setiap tumbuhan kanopi itu seperti keluarga yang menaungi banyak kehidupan di dalamnya untuk juga tumbuh bersama-sama.' Mmm.. kalo gitu, mungkin pertanyaan utama pada diri sendiri yang paling mendasar adalah: 'mau menjadi seperti pohon apa aku ini?' Namanya juga pasangan, pasti ada peran dan posisinya masing-masing yang menjadi bagian untuk membentuk fungsi dan peran yang lebih besar. Kurasa untuk bisa menjawab ini, pertanyaan paling mendasar setiap orang: 'mau menjadi manusia seperti apa aku ini?' setelah selesai dengan persoalan mengenali diri sendiri, barulah  bisa mengenali orang lain, mengenali jenis pohon seperti apa dia dan kemungkinan-kemungkinan untuk tumbuh bersama..

Mmmm...

Tuesday, October 20, 2009

Janji Pertemuan


Memandang Rumah dari Turangga, foto by tarlen

Seseorang bisa dipercaya atau tidak bisa dilihat dari janji yang dibuatnya. Bahkan secara jelas kitab suci menyebutkan, salah satu ciri orang yang munafik adalah orang yang jika berjanji dia selalu ingkar. Tidak perlu menyebutkan janji-janji yang besar: berjanji membuat dunia menjadi lebih baik misalnya. Janji-janji yang sederhana yang dianggap remeh temeh pun bisa jadi indikator apakah kita bisa mempercayai seseorang atau tidak. Janji pertemuan misalnya. Seringkali dianggap remeh. Janji bertemu hari Selasa Pk. 17.00. Setelah ditunggu sampai Pk. 17.10 yang berjanji tidak juga menampakkan batang hidungnya. Apalagi memberi kabar soal keterlambatan yang ada ketika di konfirmasi dengan entengnya mengatakan "aduh sorry, gue lupa. Besok lagi deh kita ketemu."

Perilaku seperti itu, sekali dua kali mungkin masih bisa di toleransi. Tapi jika itu jadi kebiasaan? Mmmm.. Ya, aku memang kesal dengan dengan perilaku salah seorang teman yang seringkali dengan mudah membatalkan janji hanya karena abai. Sementara aku sudah mengeplot waktuku, menggeser pertemuan dengan orang lain, untuk bisa komitmen pada janji yang sudah ditentukan dengannya. Namun beberapa kali yang terjadi seperti itu: di batalkan mendadak dengan alasan yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan tidak menghargai janji yang sudah dibuatnya sendiri. Dan parahnya seringkali yang bersangkutan tidak memberi kabar sama sekali, membuat aku menunggu dan merusak jadwalku yang lain. Saat aku konfimasi dengan mudahnya yang bersangkutan bilang: 'lupa'.


Aku jadi memeriksa kembali teman yang memiliki kebiasaan seperti ini. Aku tidak bermaksud menilai hidupnya, namun yang kuamati kebiasaan seperti ini berpengaruh juga pada keteguhan hatinya dalam menyelesaikan masalah. Kurang disiplin pada diri sendiri dan selalu punya argumen untuk membenarkan ketidak mampuannya atau kegagalannya dalam berkomitmen. Padahal untuk bisa mendisiplinkan diri sendiri ya bisa dimulai dengan menepati janji pertemuan yang seringkali di anggap remeh temeh itu. Kebalikannya, teman yang selalu menepati janji, jika terlambatpun memberi kabar, kuamati mereka lebih yakin dengan apa yang dia jalani. Tentunya karena orang seperti ini belajar berdisiplin dan komitmen lewat hal-hal kecil. Tentu saja dia bisa lebih menghargai dirinya sendiri dan orang lain. Bersama orang seperti ini, aku selalu merasa aku bisa mengandalkannya, ga ada keragu-raguan padanya.

Ku kira, ini bukan persoalan budaya atau kebiasaan jam karet yang identik dengan kultur bangsa ini. Tapi membiasakan diri menepati janji, tepat waktu, sebenarnya itu pilihan yang bisa dengan kesadaran dan tanggung jawab, dipilih menjadi komitmen pada diri sendiri. Bagaimana bisa berkomitmen pada hal-hal besar: cita-cita, rumah tangga, kemanusiaan, jika hal sederhana seperti janji pertemuan saja dengan mudah bisa dilanggar dan selalu ada saja alasan pembenarannya. Dalam hal ini aku teringat kata-kata Mario Teguh: "Tuhan akan memberikan kebaikan dan karunia kepada kita, jika kita berusaha memantaskan diri kita untuk menerima kebaikan dan karunia itu." Apakah kita sudah cukup pantas menerima karunia untuk menjalani hal-hal besar yang membutuhkan komitmen tinggi dan tanggung jawab besar, jika 'memantaskan' hal yang sederhana dengan menepati janji-janji pada temen sendiri saja, kita seringkali tidak mampu.

Jangan berjanji jika tidak mampu menepatinya.

Thursday, September 17, 2009

Mengerti Dengan Akal, Rasa dan Keyakinan

Foto by Tarlen

Apakah ada ajaran agama yang tidak masuk akal? Dan pagi tadi Qurais Shihab dalam acara Tafsir Al Mishbah menjelaskan bahwa, tidak mungkin ajaran agama itu tidak masuk diakal. Setiap ajaran agama itu dapat dijelaskan dengan akal. Hanya saja perlu diketahui bahwa untuk mencapai penalaran atas agama, tidak semua orang punya bekal yang cukup. Shihab mencontohkan: Jika kita pergi ke sebuah pedalaman, dimana masyarakatnya belum mengenal televisi sama sekali, lalu kita menjelaskan soal televisi, apakah mereka bisa mengerti? buat masyarakat pedalaman itu, mungkin televisi terdengar sebagai alat yang tidak masuk dalam akal mereka, tapi dalam konteks ini, televisi bukanlah sesuatu yang tidak masuk di akal.

Shihab juga mengingatkan, bahwa ketika sesuatu itu terasa tidak masuk di akal atau menurut kita tidak dapat di nalar oleh rasio, kita seringkali lupa bahwa ada alat lain untuk bisa membuat kita mengerti: Perasaan/hati dan jiwa/keimanan dan keyakinan. Shihab mencontohkan kembali: jika ada seorang ibu yang memiliki anak yang bodoh dan buruk rupa, lalu datang orang menawarkan seorang anak yang gagah dan sangat pintar untuk di tukar dengan anak yang bodoh itu. Tentu si Ibu akan lebih memilih anak yang bodoh dan buruk rupa karena pertimbangan perasaan karena itu adalah darah dagingnya sendiri.

***

Penjelasan soal memahami agama bukan hanya dengan akal semata tapi juga dengan perasaan dan keyakinan ini, mengingatkanku pada seorang teman yang begitu mengedepankan rasio untuk memahami bukan cuma agama tapi juga dirinya sendiri. Hasilnya, semakin besar ia berusaha merasiokan semuanya, semakin besar pula kekosongan yang ditimbulkannya karena ternyata semakin banyak hal yang tidak bisa dia pahami.

Aku sempat mengalami fase seperti itu. Dimana semua hal yang tidak aku mengerti aku kejar dengan pertanyaan yang menuntut untuk terjawab. Tapi hasilnya, semakin menemukan jawaban, semakin tidak memuaskan jawaban itu. Temanku yang satu lagi mengatakan, cobalah menemukannya dengan hati dengan rasa, menurut temanku dengan begitu aku akan menemukan keyakinanku kembali. Hal sederhana yang dia contohkan mulai belajar merasakan adalah dengan memperbanyak kontak dengan alam semesta. Dengan langit, dengan angin, dedaunan, burung-burung, rasakan kehadiran mereka di sekelilingku. Bicara pada mereka bahwa kamu menyadari mereka hadir dan aku merasakannya. Justru empat bulan di Amerika setahun lalu, aku mendapatkan kepekaan untuk merasa. Karena aku sendirian di tempat yang asing. Cara untuk bertahan hidup bukan sekedar dengan rasio dan akal saja, tapi juga dengan rasa. Ketika berpapasan dengan orang-orang di taman, subway, keramaian, tanpa memiliki kemampuan untuk merasa bahwa aku adalah bagian dari semesta dan semesta yang menaungiku terhubung denganku, aku akan sulit mendapatkan keyakinan bahwa aku bisa bertahan hidup di tempat yang sangat asing ini. Saat itu justru aku menyakini bahwa orang-orang yang kutemui adalah orang-orang yang baik yang membawa kebaikan untukku. Alhamdulillah. Empat bulan, meski perasaan kesepian karena terpisah dari sesuatu yang aku kenal selama ini, tidak membuatku kehilangan diriku. Aku justru menemukan diriku yang lain. Diriku yang punya kemampuan untuk merasa dan meyakini sesuatu. Itu sebabnya, bagiku setiap perjalanan kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan spiritualku.

Saat pergi ke Sembakung Januari lalu, aku bener-bener ga tau sama sekali soal Sembakung. Persis seperti contoh orang pedalaman yang tidak kebayang bagaimana televisi itu. Tapi perasaanku membimbingku untuk sampai pada keyakinan, aku akan menemukan jalan untuk bukan hanya sampai di Sembakung, tapi juga bisa bertahan hidup sampai satu bulan di sana. Aku meyakini kebaikan yang menurut perasaanku akan kutemukan disana. Dan ternyata aku bukan hanya menemukan pemahaman baru dari pengetahuan bernama Hak-Hak Minoritas, tapi juga aku mendapatkan keluarga baru yang menerimaku dengan tulus. Mereka mungkin tidak bisa mengerti seperti apa hidup yang kujalani di luar Sembakung, tapi mereka merasa aku terhubung dengan mereka.

***

Merasakan semesta, membuat Tuhan terasa hadir dimanapun aku berada. Aku bisa merasakannya kapanpun aku mau. Aku menalarnya setiap saat bersamaan dengan aku merasakan dan meyakininya setiap saat. Ketika hanya nalar yang mendominasi caraku mengharirkan Tuhan, aku hanya akan mengalami banyak kekecewaan, karena yang terjadi kehadiranNya mesti sesuai dengan kalkulasi pikiranku. Padahal, aku sendiri tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengenalnya. Akan banyak hal yang tak terduka dan di luar prediksiku sama sekali. Kemampuan merasakanNya, akan membawaku pada kesiapan diri untuk menerima kemungkinan-kemungkinan di luar perkiraan nalarku. Dan keyakinan memberikan keteguhan hati untuk menghilangankan keraguan atas kehadiranNya.

Memang, seringkali nalar membawaku pada jebakan-jebakan yang justru menghilangkan kemampuanku untuk merasakannya. Karena seringkali mengerti dalam tataran nalar saja sepertinya sudah cukup. Jika aku berhenti pada tingkat ini saja, itu seperti aku buru-buru mengimani sebuah hubungan virtual saja. Hubungan itu hanya ada dalam pikiran, abstrak, semu, karena aku tidak merasakan kehadirannya yang nyata. Dan keyakinan yang hanya sebatas nalar saja, dengan mudah bisa digoyahkan. Karena itu tadi, perjalanan pikiran itu seperti sebuah labirin yang membingungkan dan penuh dengan jebakan kebuntuan. Rasalah yang kemudian menghadirkan pengalaman nyata. Pengalaman yang bisa teraba. Bukan hanya pikiran yang mengalaminya, tapi juga tubuh yang menjadi satu kesatuan dengan pikiran. Dan pengalaman itu menjadi utuh saat jiwa meyakininya bahwa aku benar-benar mengalaminya, dengan pikiran, rasa dan keyakinan.

Tuesday, September 15, 2009

Perjalanan Memaafkan

foto by tarlen


Hanya tinggal beberapa hari saja, rutinitas tahunan: berkirim sms maaf lahir dan batin, akan terulang lagi. Rutinitas kata 'maaf' yang hadir dengan redaksional yang begitu di pikirkan, puitis, lucu, atau ala kadarnya. Semuanya dengan maksud ucapan meminta maaf. Begitulah setiap tahun. Dan tentu saja provider seluler yang paling di untungkan dalam hal ini.

Maaf. Maaf Lahir dan Batin. Sebuah kata yang sedemikian mudah di ucapkan, tapi sulit memaknainya. Karena kata yang sama akan kembali berulang di Idul Fitri berikutnya dan seterusnya dan seterusnya. Namun apa sesungguhnya maaf itu? Beberapa tahun terakhir ini, kata maaf justru menggangguku. Mengusik bahkan menggugat banyak hal dalam diriku. Apa artinya, ketika aku mengatakan: 'Aku memaafkanmu' tapi setiap kali teringat rasa sakit yang ditimbulkan oleh ketidak mengertian seseorang yang muncul adalah rasa ngilu di hati yang entah sebelah mana. Apa juga artinya, berjabatan tangan, berpelukan, bertangis-tangisan saat bermaaf-maafan, jika yang setiap kali menghadapi hal-hal yang mengesalkan dari orang lain yang ada adalah marah dan benci di hati.

Lalu seperti apa maaf itu sesungguhnya? apa tindakan yang semestinya menyertai kata itu setelah di ucapkan pada orang lain? apakah setelah aku bilang: 'aku memaafkanmu', aku mendiskonek seluruh hubunganku dengan'mu' karena mengingatmu begitu menyakiti jiwa dan ragaku (setidaknya aku bisa tiba-tiba batuk-batuk atau gatal-gatal karena alergi ketika hal yang menyebalkan darimu muncul di kepalaku?) atau ketika aku bilang: 'mohon maaf lahir dan batin' itu berarti aku mesti memberi kesempatan lain bagi orang-orang yang sudah membuatku kecewa. Entah kesempatan itu untuk memperbaiki diri atau mengulangi kesalahan yang sama dan menambah kadar kekecewaanku padanya?

Mungkin selama ini aku bukan orang yang cukup pandai memberi maaf pada orang lain. Ketika orang yang begitu menyakiti hatiku meminta maaf, aku cenderung menerima maafnya dengan mengosongkan hatiku dari jejak apapun yang pernah ditinggalkan orang itu padaku. Bahkan aku menihilkan kehadiran dan keterhubungannya dengan diriku. Jika orang itu sungguh-sungguh meminta maaf atas segala kesalahannya dia bisa memulai kembali berhubungan denganku dari awal. Menorehkan kembali jejaknya dalam diriku, tapi jangan berharap dia akan menuliskannya di atas lembaran kertas putih bersih. Memang aku akan menyodorkan kembali kertas kosong padanya, tapi kertas itu meninggalkan jejak hapusan yang mungkin saja tidak sepenuhnya bersih. Bagaimanapun, jejak-jejak itu tersimpan dalam kekosongan yang baru. Seperti menulis diatas kertas dengan bolpen tanpa tinta. Tidak terlihat tulisannya, tapi tekanannya terekam di situ. Kamu hanya tinggal mengarsir tekanannya dengan pensil, maka muncullah kembali jejak-jejak itu. Atau, timpa saja dengan tulisan baru. Toh mungkin masih bisa di hapus juga. Meski jika sering di hapus, kertasnya bisa benar-benar sobek dan rusak.

Sejauh ini, aku memilih cara itu dalam menjalani kata: maaf dan memaafkan. Hapus, di tip-ex juga boleh, tapi jangan harap mendapatkan kertas yang benar-benar baru di kesempatan berikutnya. Setiap orang, termasuk juga aku hanya bisa mendapatkan selembar kertas saja. Besar kecil ruangnya, tergantung kita yang mengelola isinya. Persis seperti logika menulis atau menggambari selembar kertas A4. Mau di tulis dengan pensil, bolpen, spidol, itu semua kita yang memutuskan. Tapi kertasnya hanya selembar saja, karena di dunia ini, tidak banyak orang-orang yang mendapatkan kesempatan hidup kedua setelah mengalami pengalaman 'near death experience'.

Sejauh ini, baru sampai situ perjalanan maaf dan memaafkan yang bisa kulakukan. Aku bukan orang yang senang membalas kesalahan orang lain. Daripada membalas, aku lebih memilih untuk mencoba untuk mengerti posisi diriku dalam tindakan yang orang lain lakukan kepadaku dan setelah itu aku akan berusaha untuk menghapusnya dan menjadikannya lembaran kosong kembali. Hal ini pun belum tentu merupakan perjalanan maaf yang tepat dengan tujuan kebaikan dari maaf itu sendiri.

Jadi sampai dimana perjalanan maaf dan memafkanku ini akan menuju? entah lah.. jangan-jangan perjalanan maaf itu seperti menuju garis cakrawala. Tidak akan benar-benar sampai pada maaf itu sendiri, kecuali mendekatinya..


Tuesday, September 08, 2009

Pertanyaan-pertanyaan Untuk Diri di Bulan Ramadhan


Gambar dari sampul single 'Conquest' The White Stripes

"... This Ramadan we challenge you to fast. No matter what your take on religion is, the lessons of Ramadan can provide the spiritual oomph that many of us are lacking. By forcing a moratorium on consumption we can gain empathy for the needy, learn to control desires, understand the body’s capabilities and limits and confront weaknesses of the mind..." Adbusters

Ajakan Adbusters untuk berpuasa dalam rangka memahami arti menahan diri untuk mengkonsumsi secara spiritual, sungguh mengejutkan aku. Sebuah ajakan yang menurutku sangat berani yang dilakukan oleh sebuah jurnal 'mental environment' dan promotor 'culture jam' yang terbit di tengah-tengah komunitas sekuler dan agnostik. Tulisan yang mendukung ajakan ini di tulis oleh salah satu kontributor mereka, Ziauddin Sardar yang berasal dari Pakistan. Penjelasan Sardar tentang ramadhan sebenarnya hal yang sangat umum diketahui bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia. Penjelasannya ga jauh beda dengan penjelasan para ustadz di sini. Yang justru menarik adalah komentar bereaksi dari tulisan ini. Pro dan kontra mengenai hal ini, justru menyadarkanku untuk melihat kembali apa semangat ramadhan dan menahan nafsu mengkonsumsi.

Aku sepakat dengan salah satu komentar yang menyatakan bahwa banyak muslim yang menjalankan ibadah Ramadhan, menjadi begitu hipokrit. Seharian menahan lapar dan haus, namun saat waktunya berbuka tiba, nafsunya untuk memakan segala yang ada, menjadi dua kali lipat. Kenyataan yang kutemui pun menunjukkan, di bulan Ramadhan, bulan yang semestinya membawa semangat untuk merenungkan kembali 'kontrol diri' secara spiritual untuk memuaskan nafsu keduniawian ini, justru menjadi bulan dimana belanja menjadi berkali-kali lipat dari biasanya dengan alasan merayakan kemenangan di hari Idul Fitri.Apakah itu hal yang bisa dimaklumi, atau hal kontradiktif yang semestinya mengganggu?

Sebuah pertanyaan klise namun mendasar kembali muncul, menggugat diriku sendiri: lantas apa inti dari menyucikan diri di bulan ramadhan, jika satu bulan berlalu, kita kembali pada kebiasaan lama mengumbar hawa nafsu termasuk nafsu untuk mengkonsumsi dan ketamakan untuk menguasai apapun yang bisa di kuasai?

***

Seorang ustad berceramah di mesjid dekat rumahku. Suaranya menggema lewat loud speaker sampai-sampai duduk di dalam kamarku pun, aku bisa mendengar ceramah itu dengan jelas. Ustad itu menggangguku, ketika dia mengatakan: "Sungguh orang-orang tidak tau malu, makan di warung-warung makan pinggir jalan di siang hari, di saat orang-orang sedang berpuasa. Para pemilik warung-warung itu pun tak punya malu, karena menjajakan makanan di bulan puasa ini." Reaksiku dalam hati adalah membantah tuduhan tak tau malu itu dengan bertanya pada diriku sendiri, "Loh, mungkin yang berpuasa yang seharusnya malu, karena begitu manjanya, sampai-sampai meminta 'seluruh dunia' ikut berpuasa, biar dia ga tergoda oleh makanan-makanan enak di siang hari. Bagaimana bisa menganggap dirinya beriman karena berpuasa, jika puasanya sendiri ga mengalami ujian."

Hidup di negara dengan agama mayoritas seperti Indonesia, seringkali membuat pemeluk agama mayoritas lupa untuk tidak semestinya mendapat perlakukan istimewa seperti itu. Bagaimana bisa memberi dampak mendisiplinkan diri dengan berpuasa, jika yang selalu dituntut adalah dunia harus memaklumi bahwa dia sedang berpuasa. Sehingga semua mejadi wajar: atas nama puasa, tempat makan bisa di razia begitu saja, bisa tidur sepanjang hari karena sedang berpuasa, bisa malas bekerja dengan alasan berpuasa, bisa makan sepuasnya dikala berbuka. Kurasa puasa yang seperti itu tidak memberi dampak apa-apa terhadap upaya pendisiplinan diri.

***

Logika yang kurasa aneh, ketika orang sibuk makan sedemikian banyak, lalu buru-buru makan pil atau kapsul peluntur lemak atau sibuk sedot lemak, ketika berat badan dirasa sudah melampaui batas penampilan ideal. Kurasa logika seperti ini juga berlaku pada banyak ritual puasa. Seperti aku bilang tadi, seharian menahan lapar dan haus, ketika buka puasa, semua dimakan sampai kekenyangan. Atau, sebulan berpuasa, sebelas bulan lainnya, kembali korupsi, kembali berkhianat pada diri sendiri dan orang lain, mengikuti nafsu menguasai apa yang bisa dikuasai. Apa guna puasa yang seperti itu? Apa jadinya tubuh dan jiwa jika diperlakukan seperti itu? di rem mendadak hanya karena bulan puasa, tapi setelah itu di gas pol sampai ga tau caranya mengerem.. Sesuatu yang lumrah? atau sesungguhnya ga wajar?

***

Di bulan Ramadhan ini pula, aku kembali merasakan guncangan gempa bumi. Bukan hanya mengguncang tanah tempatku berpijak, namun mengguncang tubuh dan jiwaku juga. Bumi yang bergerak itu sedang berusaha menemukan keseimbangannya. Bagaimana dengan aku, manusia yang senantiasa bergerak setiap hari? kemana sesungguhnya aku bergerak? mencari keseimbangan kah? atau justru menjauhi keseimbangan dengan ketamakan dan kerakusan? Dan baru kusadari beberapa hari ini, sejak setahun lalu, aku selalu mendapat gempa bumi untuk tubuh dan jiwaku di setiap bulan ramadhan, sakit yang tiba-tiba. Entah itu demam yang sangat tinggi yang datang tiba-tiba seperti sebuah tamparan keras yang tak terlihat wajah si penamparnya. Atau gejala-gejala alergi yang datang perlahan-lahan tapi memukul-mukul kesaradanku bahwa bukan hanya tubuhku yang perlu diperhatikan tapi juga jiwaku. Jiwa yang mengendalikan tubuh.

***

Tuhan,
Jika bulan ini memang Kau maksudkan bagi manusia untuk menguji batas kelemahan tubuh dan jiwanya, aku sadari, aku ini umatmu yang sungguh-sungguh lemah.
Jika karena kelemahanku ini, aku mengambil hak orang lain yang semestinya tidak ku ambil,
maka dari segala kelemahan itu, berikan aku kekuatan untuk mengembalikan hak orang lain yang sudah aku ambil atas nama cinta, atas nama semua pembenaran rasional dan nafsu, kembalikan kesadaranku untuk menjagaku dari kerakusan yang hanya membuatku kehilangan kemampuan menahan diri dan menempatkan yang hak sesuai dengan haknya..

Sesungguhnya hanya Engkaulah yang Maha Adil, Maha Kuat dan Maha segalanya.
KepadaMu lah aku bergantung, dan KepadaMu lah aku memohon kelapangan hati dan pikiran untuk menemukan kebenaran dan keyakinan atas jalanMu.

Amin.

Friday, September 04, 2009

Surat Untuk Tubuh

Drawing karya R.E. Hartanto

Tubuhku sayang,
Aku tau kamu sedang protes akhir-akhir ini dengan alergi hidung yang semakin menjadi-jadi akhir-akhir ini. Kamu datang menginterupsi kenyamanan hari-hariku, membuat aku terpaksa bernafas dengan mulut, bukan dengan hidung karena kamu sedang protes mengeblock jalan nafasku..

Aku tau, aku suka ga adil sama kamu, tubuh. Memaksa kamu melakukan banyak hal yang mungkin kamu tidak suka. Atau mengajakmu berpikir terlalu keras, sampai-sampai kamu bingung dan sulit mencernanya. Atau berusaha keras menghapus pikiran yang bagimu tidak mungkin bisa dilupakan.

Kita seringkali sulit menemukan titik temu yang seimbang buat kita berdua: kamu, tubuhku, dan aku, diriku ini. Tapi, aku menyadari, kamu adalah teman yang sangat mengerti aku. Kamu selalu memperingatkan aku ketika diriku ini menjalani hidup di luar kemampuan dan kesadarannya. Kadang aku mengabaikan protes-protes kecilmu itu dan tersadarkan saat kamu bener-bener protes besar seperti sekarang ini.

Baiklah tubuh, aku minta maaf padamu jika selama ini diriku ini seringkali memaksamu. Izinkan aku menyelesaikan pekerjaan yang mungkin kamu sudah tidak mau melakukannya. Izinkan aku untuk menyelesaikannya. Tanpa izinmu, aku tidak bisa melakukannya. Setelah itu, aku berjanji memperbaiki hubunganku denganmu. Melihatmu dengan cara yang lebih adil.

Terima kasih tubuh, tanpa dukungan darimu, diriku ini tidak akan bisa menjadi dan menemukan bentuknya.
Terima kasih dan maafkan untuk ketidak adilanku selama ini..

Tuesday, September 01, 2009

Merantau (2009)


*** 1/2

Satu dari sedikit film Indonesia yang bikin aku penasaran. Lihat trailernya di Youtube membuatku menduga-duga 'ini film sepertinya tidak seperti film-film Indonesia yang lain..'. Mungkin aku memang sedikit under estimate pada film-film Indonesia kebanyakan, karena ceritanya seringkali kedodoram. Atau kalau ceritanya oke, penggarapannya yang kedodoran. Kalau engga ya sejenis film Indonesia yang 'Garin banget'.

Merantau jadi menarik karena dia film action yang mengeksplorasi jurus-jurus silat tradisional Minangkabau tanpa berusaha menjadi eksotis. Menurutku ceritanya juga ga berlebihan dan 'kepahlawanan' yang ditampilkan jagoannya pun masih dalam taraf wajar alias ga lebay. Ga ada bumbu-bumbu romance ga perlu dan yang penting berantemnya ga nanggung dan koreografinya cukup bagus. Semua ada pada takaran yang cukup menurutku.

Film ini ceritanya di tulis dan digarap oleh sutradara asing bernama G.H. Evans dan di produseri oleh istrinya yang orang Indonesia bernama Maya Barack- Evans. Bintang filmnya juga ga ada yang beken kecuali Christine Hakim sebagai ibu dari pemeran utamanya Iko Uwais. Alex Abba yang lumayan di kenal, di film ini juga ga sekedar muncul tanpa kemampuan. Aktingnya cukup lumayan. Bahkan pemain-pemain lain yang mungkin baru pertama kali main film pun aktingnya cukup lumayan. Yayan Ruhian juara silat nasional yang menjadi tokoh abu-abu bernama Eric pun aktingnya jauh lebih bagus daripada para bintang sinetron yang mengaku-ngaku bisa akting.

Jika berharap akan menemukan drama mengharu biru soal hidup di tanah rantau, ga bakalan di temukan di film ini, karena film ini beneran mengedepankan petualangan heroik tokohnya menyelamatkan seorang perempuan bernama Astri dari sindikat Trafficking. Dan Evans sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, cukup bisa menahan diri untuk tidak berlebihan dalam mendramatisir tokoh utamanya. Evans cukup 'tega' dengan nasib tokoh utamanya yang berangkat dari logika kenaifan dan metafor bahwa yang dilawan bukanlah hal yang sederhana.

Selama hampir dua jam, Evans berhasil membuatku dan penonton lain tidak merasa bosan dengan film garapannya. Sempat muncul pertanyaan dalam benakku ' seandainya sutradara dan Director of Photographynya bukan orang asing, apakah film ini masih bisa semenarik ini ?' lagi-lagi aku belum yakin sama kemampuan sutradara, penulis dan DOP negeri sendiri. Karena aku melihat kecenderungan penulis cerita dan sutradara Indonesia yang senang melebih-lebihkan takaran. Ada hal-hal yang seharusnya berlebihan, seringkali malah pas-pasan, sementara ada hal-hal yang semestinya seadanya, malah di lebih-lebihkan. Kukira masih sulit untuk menemukan sutradara dan penulis cerita yang matang dan bijak alias bisa menempatkan persoalan dan drama sesuai dengan takarannya. Dan kukira lewat Merantau, para sutradara dan penulis cerita Indonesia akan belajar dari apa yang sudah dilakukan Evans.

Selain 'make up' dan darah yang masih kurang dan sedikit mengganggu, selebihnya film ini menurutku cukup berhasil sebagai sebuah film action silat Indonesia.

Tentang Merantau bisa buka websitenya: http://www.merantau-movie.com/