Tuesday, December 08, 2009

Tuhan, Terima Kasih!




Hari kemarin rasanya penuh banget. Selalu saja ada masalah di menit-menit terakhir menjelang deadline produksi (kali ini produksi souvenir pernikahan sahabatku). Hampir menyerah, tapi pemecahan selalu datang tak terduga. Mesin jahit Singer 1977 (seumur denganku), menggantikan Brother untuk sementara. Dan saat aku hampir gila karena itu benangnya putus melulu, pencerahan tiba-tiba datang. Kepikiran untuk mengubah setelan gigi bawahnya dan masalah terselesaikan.

***

Lagi sibuk2nya menjahit, tiba-tiba tetangga di jalan Flores datang dengan wajah hampir menangis kesal. Ia merasa harus bertemu denganku untuk mengadukan kekesalannya itu. Baiklah, sini aku dengerin. Soal hotel baru di belokan antara jalan Flores dan jalan Aceh yang tiba-tiba hadir 5 lt dan mengganggu ketrentraman warga sekitar. Tetanggaku yang sangat sensitif itu, sampai sakit karena keributan suara blower, lalu-lalang mobil barang yang keluar masuk tepat di depan rumahnya, pohon-pohon mahal yang runcing-runcing tapi di tata tanpa selera yang baik maka jadinya norak.. dan penyeselannya menandatangani persetujuan pembangunan itu.
'Jadi aku harus gimana dong len, aku pengen komplain, nulis di facebook, tapi aku takut nanti jadi Prita kedua..'

***

Pulang badanku terasa ringsek, lelah secara fisik dan mental. Dan batuk alergiku mulai menjadi. Tiba-tiba temanku yang lain di jam 11 malam itu, menghubungiku. Dia menemukan seorang bocah laki-laki gagu di pinggir jalan dalam keadaan memprihatinkan. Tadinya kasihan sebatas simpati saja tanpa tindakan. Tapi si kecil Layka anak temanku itu bilang: 'Bubu, kasihan ya Aa..' suara tulus Layka yang jernih itu, membuat temanku memutuskan membawa anak  itu pulang ke rumahnya. Sesampai di rumah, temanku bingung dengan apa yang harus dia lakukan. Dalam kebingungannya dia menghubungiku, menanyakan apakah ada tempat penampungan untuk anak-anak yang dia temukan itu? Aku beri dia nomer panti asuhan yang pernah beberapa kali aku kunjungi sebagai tempat penampungan anak-anak pengungsian konflik di Atambua tempo hari. Ku sms sahabatku si pembalap gadungan, menceritakan soal bocah ini. Sahabatku itu langsung menelepon dengan keparanoid-annya tapi cukup memberi masukan yang berharga untuk diperhatikan. Bahwa yang pertama harus di lakukan jika menemukan anak hilang seperti itu adalah melapor ke polisi, biar ga di sangka menculik. Aku menghubungi temanku lagi, memintanya segera menelepon polisi malam itu juga (karena tadinya temanku itu mau melaporkannya pagi ini). Sementara bocah itu, tengah lelap tertidur di rumah temanku, setelah dimandikan oleh pembantunya, diberi makan dan diberi pakaian yang layak (waktu ditemukan bocah laki-laki ini, berpakaian anak perempuan).

Selesai ke'ajaiban-keajaiban' di hari kemarin. Setelah mandi, ibuku yang baik hati itu, membaluri tubuhku yang lelah dan kecapean itu. Bukan minyak panasnya yang menghangatkan, tapi kasih sayangnya yang membuat kelelahan itu hilang. Sebelum tidur, aku cek fb temanku, ingin melihat foto bocah itu.. matanya membuat aku ingin menangis. Aku share fotonya pada sahabatku si pembalap gadungan. Saat membaringkan tubuhku di tempat tidur, badanku meminta pikiranku berhenti berpikir dan lelap.

---

Alarm HPku berbunyi Pk. 05.30. Aku matikan, tapi aku lihat ada sms dari sahabatku si pembalap gadungan yang sudah melihat foto bocah laki-laki itu di hampir pk. 02 pagi. Dia sama harunya denganku, kata-kata sahabatku itu membuat aku ga bisa meneruskan tidur. Belum sempat aku membalasnya, telpon di rumahku berdering dan ibuku menjawab dengan kehebohan tersendiri. Adiknya yang mengidap schizophrenia dan menetap di Yogja itu,  meninggal sekitar sejam yang lalu. Pagi ini, seluruh rumah mendadak sibuk, karena ibu dan kakak perempuanku harus segera berangkat ke Yogjakarta dengan kereta pk. 07.00.

Aku tau, ibuku itu sangat sayang pada adiknya itu, meski kondisinya seperti itu. Jika ke Yogja bersama keluarga, kami selalu mengunjunginya. Dia tinggal di sebuah kamar di daerah Lempuyangan, Yogja.  Kamar itu dibangun di tanah kecil tinggalan  eyang putriku. Aku selalu takjub dengan kamar tempat tinggal omku. Hanya ada dipan saja untuk tidur, tapi seluruh temboknya dia gambari dengan segala macam gambar yang hanya dia lah yang bisa melakukannya. Rumus-rumus fisika dan matematika, kutipan pidato bung Karno dan dunia schizoprenicnya. Om ku ini, juara sekolah di SMA IPA terbaik di Yogja pada masanya (aku lupa nama sekolahnya). Dia sangat ingin menjadi insinyur sipil. Kepintarannya itu membuat dia lulus tes di teknik sipil UGM, tapi kakekku saat itu hidup dalam kehancuran ekonomi, tidak sanggup membiayai omku ini. Untuk mengobati kekecewaannya, omku mendaftar di marinir dan kabur saat mengikuti pendidikan. Pada saat waras, omku pernah mengaku pada ibuku, bahwa dia mengalami siksaan fisik di pendidikan marinir itu dan mulai mendengarkan suara-suara di kepalanya. Perawatan demi perawatan pernah omku jalani, tapi rupanya schizophrenianya ga bisa disembuhkan. Ibuku pernah merawatnya, karena omku ini, sangat menurut pada alm. bapakku, tapi suatu saat dia pernah mengamuk dan melempar termos panas kepada kakak perempuanku yang saat itu masih kecil. Sempat di rawat di rumah sakit jiwa juga, namun rupanya dia lebih memilih tinggal di Lempuyangan, tempat dimana ia dibesarkan. Dan sekarang dia juga memilih meninggalkan dunia di tempat itu.

***

Rasanya kok berturut-turut dalam sebulan terakhir ini. Kata-katamu muncul seperti pop up di kepalaku ''Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'. Yang tampak terlihat hebat saat ini bagiku adalah garis-garis tanganku yang makin lama makin rumit dan silang sengkarut.

 Saat berjalan di sepanjang trotoar lapangan saparua menuju tempat sarapan tadi pagi, aku bilang sama Tuhan, "Apapun yang akan Kau berikan padaku, berikanlah.. seberat apapun itu, aku tidak akan melawan dan menghindarinya. Aku akan menerimanya dan iklas. Karena aku yakin, Kamu tau batasku. Jika Kau anggap, aku mampu, aku pasti bisa menemukan jalan untuk menghadapinya..."

**

Terima kasih Tuhan, untuk semua ke'ajaiban-keajaib'an ini.

Friday, December 04, 2009

Berhikmat di Hari Sabtu



Setelah semalam mimpi aneh..(tapi menyenangkan), disambung sarapan pagi di warung purnama bersama sahabat-sahabat tercinta: Tanto, Reza, Yus dan spesial guest star: mas apep, sesampainya di tobucil postcard dari sahabatku di datang menyambut. Dia mengirikman quote yang pas banget dengan hatiku saat ini:
"Jika kita menutup tubuh agar tak menggigil, aku bisa mengerti, Namun mengapa kita tutup perasaan kita, walaupun jika kita menyadari, bahwa perasaan kita bisa beku?"
aku merasakan'mu' sangat, meski itu aneh, tapi aku tidak akan menutupnya..

Monday, November 30, 2009

Setelah Merasa Kehilangan, Lantas Apa?


Purnama di Aceh 56. Foto: vitarlenology 

 'Kenapa semua datang  beruntun, yang satu mengundurkan diri, yang satu meninggal, tiba-tiba itu semua jadi pertanyaan di kepalaku.'
'Yah.. nasib aja no more no less, biar km tambah hebat :)'

***

Rasanya memang seperti hang over berkepanjangan, meski sahabatku bilang, 'Jangan lama-lama berkabungnya ya.. :D', tapi setiap peristiwa kehilangan selalu meninggalkan jejak traumatiknya. Bukan hal yang mudah juga untuk menjelaskan, sebelah mananya yang bisa membuat merasa hang over berkepanjangan itu. Istirahat yang cukup, makan yang enak-enak, masak buat temen-temen yang seneng di masakin, ngeblog, mungkin bisa membantu mengurangi 'hang over' itu, tapi ya ga serta merta menghilangkannya secara cepat. Tergantung seberapa berat 'hang over'nya.

Aku sendiri ga tau, apa yang sebenernya aku rasakan. Apakah kesedihan itu karena temanku yang meninggal? Atau aku teringat pada kehilangan atas kematian 14 tahun lalu dan aku butuh 12 tahun untuk menyembuhkannya? Bisa jadi aku sedih karena meratapi diriku sendiri. Bukan karena orang yang pergi meninggalkanku. Karena bisa jadi mereka sebenernya udah ga ada urusan lagi denganku. Apalagi mereka yang meninggal. Sudah sibuk dengan ruang dan waktu mereka sendiri. Jadi apa sesungguhnya rasa sedih, traumatik, gloomy, ketika tau bahwa di hati ini ada bagian ruang yang tiba-tiba kosong karena penghuninya tidak lagi bisa aku jumpai. Rasa takut bahwa setelah orang itu pergi meninggalkanku, kenangannya akan memudar seiring waktu? lalu apakah kesedihan bisa jadi alat untuk mengawetkannya? Tapi rasanya juga, setelah melewati proses penyembuhan yang panjang selama 12 tahun, kesedihan bukanlah metode yang ampuh juga mengawetkan kenangan atas orang yang meninggalkanku.

Bukan. Bukan kesedihan. Kesedihan sendiri bergerak, berubah seiring waktu, dia menjalani proses 'meruang' menemukan bentuknya yang baru, berinteraksi dengan waktu dan kehidupan. Kesedihan bukan bahan pengawet mujarab untuk menyimpan kenangan orang yang pergi. Atau kemarahan? Rasanya bukan juga. Kemarahan sama saja dengan kesedihan. Selain meruang dia juga bersifat korosif. Jadi boro-boro mengawetkan. Kemarahan dan kesedihan justru mengikis kenangan itu sendiri.

Setelah orang-orang yang aku sayangi pergi, lantas apa?

Aku sedang menimbang-nimbang perkataan sahabatku si pembalap gadungan itu, bahwa mungkin ini memang nasib, tidak lebih dan tidak kurang.Tanpa bersusah payah mengupayakannya, nasib senantiasa datang dengan sendirinya. Begitu juga dengan kehilangan. Siapa yang benar-benar menginginkan kehilangan? ku rasa tak pernah ada yang menginginkannya, tapi siapa yang benar-benar bisa menghindarinya?  tidak ada juga. Lalu bagaimana nasib itu bisa diterima tidak kurang dan tidak lebih? pas sesuai dengan takaran? bagaimana menakarnya? bagaimana mengetahui bahwa itu tidak kurang dan tidak lebih? aku tidak tau. Aku sedang mencari tau. Meskipun mungkin tanpa aku sadari aku tau, tapi aku ga ngerti aja. Dua belas tahun menjalani proses penyembuhan dari rasa kehilangan, bukan berarti aku mengerti. Buktinya setiap kali mengalami kehilangan, selalu saja memberi lubang di hati yang aku sendiri ga ngerti, kok bisa berlubang lagi. Meski lubangnya beda-beda, tapi tetep aja rasanya ada yang bolong dan butuh ditambal. Lama atau sebentarnya, bergantung dengan lubang yang ditambalnya.

Hidup mungkin akan memberikan kehilangan-kehilangan yang lain yang membuat aku menjadi sedikit lebih mengerti atau mungkin malah semakin tidak mengerti perkara kehilangan ini. Mungkin menakar yang nasib yang tidak lebih dan tidak kurang itu, hanya bisa dengan merasakannya. Ketika kehilangan itu, tidak menimbulkan kemacetan menjalani hidup, membunuh cita-cita, menimbulkan alergi baik gatal-gatal maupun batuk-batuk atau hidung meler terus menerus, atau tidak mengakibatkan gejala-gejala culang- cileung, cileupeung, cineuteung, cirambay, cineungneung.. itu tandanya kehilangan yang menjadi nasib itu ada pada takaran yang pas, tidak lebih dan tidak kurang,

....mungkin... aku hanya menduga-duga..

Thursday, November 26, 2009

Perjalanan Kembali Pulang (Untuk Sahabat: Paskalis Trikaritasanto )




Beberapa menit setelah aku datang berhujan-hujan, membawa tumpukan screen sablon dan gembolan bersisi kaos-kaos kosong yang hendak di sablon. Kira-kira Pk. 17.00 WIB
"Kayanya gua jarang banget liat lu naik motor.."
"Masak sih? aku kan sehari-hari naik motor.."
"Lebih sering liat si Upi yang naik motor daripada elu.."
"Haha.. jangan-jangan kamu ketuker antara aku dan si Upi.."
Lalu kami tertawa bersama. Setelah itu dia kembali duduk di bangku depan tobucil, menunggu murid-murid bimbingan klab menulisnya datang dan aku kembali pada pekerjaanku memotong-motong stiker DJava.

Beberapa menit kemudian:
"Pey, itu siapa sih yang batuk, kok gitu banget.. papahnya Reni ya .. biasanya suka batuk heboh gitu.."
" Iya kayanya mba.."
Kami: aku dan Ipey, cekikikan mendengar suara batuk yang ga wajar itu. Sama sekali tidak menyadari bahwa itu bukan papahnya Reni, tapi teman kami, Paskalis.

Aku masih memotong-motong stiker DJava dan menonton film 'Cheri' saat wiku bertanya berapa nomor taksi. "7561234.." aku menyahuti dan belum menyadari apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Upi masuk dan meminta bantuan, "Ri, bantuin angkat Paskalis, dia kejang-kejang.." Aku buru-buru keluar. Di gang kecil ke arah toilet luar tobucil, terjadi kehebohan. Paskalis sedang berusaha di gotong rame-rame. Kehebohan di tengah hujan yang lumayan lebat mengguyur. Pak Bangbang dari kantor sebelah menyiapkan mobilnya. Dan sekejap saja, Paskalis dan istrinya yang datang tepat di saat Paskalis terkena serangan kejang, berlalu menuju Rumah Sakit PMI yang paling dekat dengan tobucil. Wiku mengikuti dengan motor, menembus hujan.

Kurang dari setengah jam, Wiku mengsms-ku. Saat itu 18:15 Wib.
'len blm sadar uy.. minta doa na, nya biar supaya cpt sadar...' Aku buru-buru menyampaikan pada teman-teman meminta mereka berdoa untuk Paskalis. Tiga menit kemudian, 18:18 Wib, Wiku meneleponku. "Len, sudah meninggal, urang teu nyaho kudu kumaha?" Ternyata PMI tidak dapat menangani dan Paskalis buru-buru dilarikan ke RS Boromeus atas permintaan mba Wati, istrinya.

Aku, Eri, Upi, Nunu, bergegas menyusul Wiku ke Ruang UGD RS Boromeus. Belum banyak orang di situ. Wiku tampak kebingungan. Hanya ada dua laki-laki; teman dan saudara Paskalis dan mba Wati yang menangis tak sadar. Ku temani mba Wati. Aku sendiri tak tau harus bilang apa, aku hanya sanggup memeluknya dan menemaninya saja tanpa kata-kata.

"Ayah jangan tinggalkan bunda, bunda ga siap... ayo pulang, kasihan sophi..ayo pulang, kamu belum jauh, ayo kembali....bunda cinta ayah.. ayah yang tebaik buat bunda.. ayo kembali..mba.. panggil alis, suruh dia kembali, kasihan sophi mba.. aku ga siap ditinggal dia..."

Aku tau bagaimana perasaan mba Wati saat itu. Ku tatap Paskalis sudah terbujur kaku di tempat tidur UGD RS. Boromeus. Ku sentuh tangannya. Dingin. Rasa dingin yang sama seperti yang pernah kurasakan 14 tahun yang lalu, saat kusaksikan bapakku meninggal dalam genggaman tanganku. Paskalis temanku itu, benar-benar sudah pergi menyisakan kekosongan  dalam hati setiap orang yang ada di situ. Kemudian datang beberapa orang teman mba Wati dan Paskalis, meratap sedih kepergian Paskalis. Salah satunya menggantikanku menemani mba Wati. Aku butuh keluar dari ruangan itu, mencoba mencari tapak dimana aku bisa menemukan bobotku kembali. Di dalam kamar UGD itu, aku seperti ada dalam ruang kosong. Hampa tanpa bobot.

'Temanku kena serangan, kejang2 di tobucil, trus meninggal di perjalanan ke boromeus. Padahal sblmnya sempat ngobrol biasa. Aku ky hilang bobot begini...' sebuah sms ku kirimkan pada sahabatku si pembalap gadungan. 19:52, sahabatku itu meneleponku. Mendengar suaraku yang menyisakan isak, dia memutuskan datang menemaniku. Saat itu, sahabatku sedang di lab robotiknya yang tidak jauh dari RS Boromeus. 20:04. dia sudah sampai di UGD. Sahabatku itu ga kenal Paskalis. Tapi dia tau bagaimana rasanya tiba-tiba kehilangan bobot dalam situasi seperti itu. Ketika kami masuk ke ruangan itu, suster sedang membersihkan Paskalis dan bersiap-siap membawanya ke rumah duka, tidak jauh dari rumah sakit. Setelah jenazahnya dibawa ke rumah duka, kami memutuskan menyusulnya teman-teman lain dan kemudian ke rumah duka bersama-sama.

"Len, cerita gitu, biar saya ga bingung harus gimana."
"Aku juga bingung harus cerita apa.."
Sahabatku itu lalu mendekapku erat. Tidak lama, tapi cukup membuat kesedihan yang tertahan sejak tadi, luruh dan menemukan pijakannya. Perlahan-lahan, kekosongan itu terisi dan menemukan bobotnya kembali. "Yuk, kita makan dulu sambil nyusul temen-temenmu yang lain, kamu harus makan dan harus memutuskan apa yang mesti dilakukan selanjutnya".

Kami bergabung dengan Upi, Erie dan Nunu yang sudah terlebih dahulu makan di tukang nasi goreng depan RS. Sepanjang makan, sahabatku itu bercerita tentang bagaimana dia menghadapi kematian ayahnya dulu, juga mahasiswanya yang tiba-tiba terkena serangan epilepsi. Sahabatku ini, tidak sesentimentil aku dalam menghadapi kematian. Sikapnya yang ringan menghadapi situasi seperti itu dan keputusannya untuk hadir dan ada bersamaku pada saat itu, membantuku dengan cara yang sulit terjelaskan untuk menemukan bobot ditengah ruang kosong yang hadir seiring kepergian Paskalis.

Setelah makan kami ke rumah duka. Bertemu keluarganya yang meminta penjelasan tentang saat terakhir kehidupan Paskalis, karena sebagian orang menyangka Paskalis meninggal karena kecelakaan. Sesudahnya kami berpamitan dengan keluarganya. Aku dan sahabatku berpisah di tempat parkir Rumah Sakit. Ia kembali ke lab robotiknya, aku dan teman-teman lain kembali ke tobucil.

Di tobucil, kekosongan itu terasa mengambang. Bangku di depan tobucil yang beberapa jam lalu masih diduduki Paskalis, tasnya, motornya yang terparkir di halaman tobucil. Semua hadir tapi dengan rasa yang kini kosong, karena Paskalis pergi meninggalkannya tiba-tiba. Aku memutuskan pulang. Memasang kabar duka cita di status fb tobucil dan setelah itu badanku tak sanggup lagi untuk terjaga. Aku lelap sementara tubuhku bekerja keras, memulihkan diri dari kelelahan fisik dan mental yang mendera sepanjang hari.

***

Tadi pagi:

Tanto membangunkanku dengan telepon. Kepalaku pusing, ternyata jejak kekosongan itu masih ada meski dekapan sahabatku juga masih terasa. Dan aku  masih ada di sini, kembali ke tobucil. Sementara kamu, Paskalis, sudah kembali pulang, kehadapan Sang Pencipta.

***

Untuk Paskalis Trikaritasanto (13 april 1974 — 26 november 2009). Ketulusanmu, dedikasimu dan komitmenmu pada klab nulis tobucil & klabs, abadi selalu di hatiku, di hati setiap anggota klab menulis. Terima kasih untuk hidup dan kehadiranmu di hati kami. Selamat jalan sahabat. Selamat kembali pulang ke kerajaanNya.

***

[Yus, terima kasih kamu sudah hadir menemaniku]

Monday, November 23, 2009

Nostalgia Kebersamaan Sekawanan Menjelang Umur Mereka yang Ke-40 Tahun


'cukup  mooi indie ga?' foto by vitarlenology

Malam minggu kemarin, aku menjumpai sahabatku si pembalap gadungan di lab robotiknya. Meski hujan mendera-dera sepanjang siang sampai malam, tak mengurangi semangatku menjumpainya. Kangen saja berjumpa dengannya. Coklat panas menemani kami, berbagi cerita tentang hidup  masing-masing sebulan terakhir ini. Tiba-tiba, hp sahabatku berdering. Teman-teman lamanya waktu di UKM Teater mahasiswa dulu, datang mengunjunginya di lab. Aku hadir, menangkap kisah sekelumit masa lalu sahabatku yang sedang mengumpulkan semangatnya untuk menulis desertasi doktornya itu. Sambil aku jadi tau kisah-kisah kegilaan UKM teater Institut paling kondang di negeri ini.

Pertemuan kawan lama, tentu tak jauh dari kisah-kisah nostalgia. Mengenang kembali kejadian-kejadian 'lucu' dan kegilaan-kegilaan yang pernah dilakukan. Singkat kata, tiga orang teman sahabatku itu kembali mengenang-ngenang indahnya kebersamaan mereka di UKM yang sangat mereka banggakan itu. Dan aku sebagai orang yang tidak terlibat dalam kesejarahan mereka, mengambil peran sebagai pendengar. Mulai dari kisah-kisah yang biasa-biasa sampai yang ganjil sama sekali.

Sepintas dari yang mereka kisahkan, hidup tiga orang teman sahabatku itu nampaknya bisa dibilang lumayan mapan. Yang dua membuka jasa konsultan bisnis dan yang satu bekerja di sebuah pertambangan dengan gaji ribuan dollar perbulannya. Sabahatku, di mata teman-temannya tentu saja dianggap orang sukses dengan prestasi robotiknya. Tanggal 10 November lalu, Slamet Rahardjo mewawancarai sahabatku di sebuah stasiun televisi dan menyebutnya sebagai pahlawan Indonesia moderen. Sahabatku, tentu saja ngakak-ngakak, tapi dalam hati saja. Dia tidak merasa seperti itu. Semua sorotan yang tiba-tiba berlimpah ruah datang kepadanya, ditanggapinya dengan sangat santai. Dan aku yakin sahabatku ini bisa terhindar dari krisis eksistensi di usia 40-an nanti.

Udara dingin dan hujan, membuat kami semua merasa lapar dan memutuskan untuk pergi keluar dan makan malam bersama, tidak jauh dari lab robotik sahabatku itu. Saat makan, barulah aku tau maksud dari kunjungan tiga orang teman sahabatku itu. Atas dasar rasa rindu akan suasana kebersamaan yang membentuk mereka sedemikian rupa di UKM Teater itu, teman-temannya mengajak sahabatku membuat 'sesuatu' bersama-sama lagi. Bahkan mereka ingin menyatukan kembali teman-teman lama mereka di UKM itu untuk membangun kembali sesuatu bersama-sama. Bagi mereka dan tentu juga sahabatku, apa yang telah dilalui bersama di UKM Teater itu memberi pengaruh yang cukup besar pada kehidupan mereka saat ini. Semua kegilaan-kegilaan yang pernah mereka lakukan dan kultur komunal yang membentuk mereka, seperti sebuah training camp kehidupan yang meskipun singkat, tapi penting artinya bagi hidup mereka masing-masing.

Aku menyimak gagasan yang ditawarkan teman-teman sahabatku itu. Sangat abstrak sih. Sahabatku itu berkata padaku saat teman-temannya pulang, 'ga kebayang aja gimana cara mewujudkannya.' Aku ga akan membahas gagasan apa itu, karena bisa jadi gagasan itu masih di rahasiakan. Lagi pula yang menarik buatku sebenernya soal nostalgia kebersamaannya itu. Karena aku memperhatikan nostalgia kebersamaan ini terjadi bukan hanya pada teman-teman sahabatku saja, tapi juga di beberapa kelompok pertemanan yang pernah aku jumpai. Kekompakkan yang pernah dialami pada suatu masa di waktu muda, lalu ketika beranjak tua, merindukan kembali suasana itu. Lantas bermimpi bisa mengulanginya kembali dengan membangun proyek atau bisnis bersama. Banyak yang 'gagal' mengulang, karena setiap orang yang pernah begitu kompak itu bertumbuh. Berubah. Berkembang sesuai waktu dan hidup yang dijalaninya. Dan bukankah kekompakan itu sendiri bergerak mengikuti konteksnya?

Aku hanya kepikiran aja soal nostalgia kebersamaan itu. Salah satu sepupuku pernah punya gagasan yang kurang lebih sama dengan teman-teman sahabatku itu: membangun usaha keluarga, untuk meminimalisir 'gap' ekonomi  dan kesejahteraan sosial antara sepupu-sepupuku yang lain dan tentu saja dengan semangat nostalgia kekompakkan kami di masa kecil dulu. Niatnya pengen sama rasa sama rata. Tapi kemudian niatnya bubar di tengah jalan, ketika sadar bahwa menyamakan 'akselerasi' langkah antar sepupu-sepupuku saja hal yang luar biasa sulitnya. Meski seketurunan, namun sejarah kami pada perkembangannya dipisahkan oleh konteks yang berbeda arah satu sama lain. Ya, memang betul saat kecil dulu kami sedemikian kompaknya dan menghabiskan banyak waktu bersama, tapi setelah kami sama-sama bertumbuh, kami menempuh sejarah kami masing-masing. Ketika dipertemukan lagi, rasa kekompakkannya tak pernah lagi sama. Bahkan bagiku pribadi, banyak garis terputus yang aku kenali (belum tentu aku pahami) dari hidup sepupu-sepupuku itu.

Mungkin teman-teman sahabatku itu juga sama bingungnya dengan sahabatku tentang bagaimana mengulang kisah sukses kekompakkan mereka membangun sesuatu seperti yang pernah mereka lakukan di UKM teater di masa muda dulu. Jika mereka berhasil merekonstruksi kembali perjalanan kekompakkan itu, aku yang cenderung ga yakin kekompakkan yang sama bisa terulang untuk kedua kalinya, bisa meralat pandanganku itu. Setidaknya bisa memberikan sedikit harapan keberhasilan yang sama, jika ada contoh sukses.

Satu hal lagi yang terdengar mengelikan di telingaku, ketika teman-teman sahabatku ini berkata: 'ya kita perlu melakukan ini sebelum umur 40, kan life begin at forty.' Tiba-tiba aku langsung teringat tulisanku dengan judul yang sama. Aku malah jadi menduga-duga, jangan-jangan dorongan melakukan sesuatu bersama-sama kembali itu atas dasar nostalgia kebersamaan berkaitan dengan gejala-gejala krisis di usia 40-an? Mmmm..

what do you think, yus?

dan aku bisa membayangkan, seorang teman yang tidak setuju jika hal-hal seperti ini aku hubung-hubungkan dengan soal krisis usia 40-an..hehehe.. karena dia udah 41 tahun dan merasa bahwa dirinya selalu baik-baik aja... padahal... meneketehe..

Sunday, November 22, 2009

Postcard From Bayreuth



Sebuah postcard dari sahabatku di Bayreuth menyambutku di meja kerja yang kutinggalkan hampir dua minggu. Sahabatku itu, menuliskan sebuah quote yang dia terjemahkan dari postcard ini dan rasanya mewakili banyak kejadian yang terjadi akhir-akhir ini..
"Suatu saat mungkin aku akan tahu banyak hal yang ada di dunia, tapi kemudian aku bangun dan tetap merasa dan bertindak bodoh.."
thanks a million Dian..

Friday, November 20, 2009

Sebutir Kacang Meninggalkan Kulit


Jalan pulang pantai sundak foto oleh vitarlenology

Siang tadi di tengah hujan dan kehangatan meja kerjaku:

Kamu meminta pelukan. Aku memberikannya. Tapi yang kurasakan hampa saja. Seperti kulit kacang tanpa isi. Rasanya tidak sepenuh pelukan ibu. Aku tidak mengenalimu lagi. Suratmu membuatku merasa, aku ini bid'ah untuk proses kreatifmu. Aku merasa berhadapan dengan seorang fundamentalis. Mmm.. ralat, mungkin seorang idealis pemula yang sangat-sangat yakin dengan dunia di balik cakrawala sana seperti yang ada dalam bayanganmu sendiri. Kamu benar. Aku yang mulai menjadi semakin pragmatis oleh pengalaman. Dan idealismemu memberi hak kenaif-an mutlak atas apa yang pilih. Lalu keberbedaan menjadi jurang yang tak terjembatani antara aku dan kamu.

Fine. Kamu di seberang sana. Dan aku di sini. Silahkan saja.

Aku menatap matamu, mencoba menemukan jembatan. Yang kutemukan hanya rasa dingin dan kelam gerbang benteng kekakuan hatimu. Tak ada peluang untuk kompromi. Percuma aku menembusnya. Aku terlalu pragmatis untuk menawarkan perubahan padamu. Mungkin bukan hanya pragmatis, tapi juga malas atau  merasa perlu menghemat energi dan pikiran dan memilih memikirkan yang bisa dikompromikan.

Kembali aku mencari dirimu dari matamu. Berharap menemukan  kata-kata bijak yang seringkali kau katakan, kau nasehatkan dan kau tuliskan. Tapi aku tak menemukanmu. Dirimu bukanlah  kata-kata bijakmu itu.  Aku hanya menemukan kamu yang ada dalam tulisanmu. Berjarak dan tak ada orang lain dalam kehangatan yang kau ciptakan. Mentari hanya untuk dirimu saja. Bukan orang lain sepertiku dan mungkin juga bukan untuk ibumu. Mungkin memang bukan sekarang bagimu mengerti apa artinya menjadi diri sendiri dan menjadi apa yang kau tulis. Suatu saat kamulah yang memutuskan nilai kebaikan dan keburukannya. Bukan aku, bukan papamu, bukan pula orang-orang yang berusaha membantumu.

Jika Rama bertanya sore ini: adakah alasan untuk menyayangi dan membantu? rasanya bagiku padamu adalah alasannya untuk menyayangi dan membantu itu sendiri. Aku tidak tau apakah itu mengandung ketulusan atau tidak karena personalitas dan pekerjaan menjadi kacau setelah bingung harus ditempatkan dimana.

Sama seperti keimanan yang kau temukan pada proses berkaryamu, aku pun menemukan keyakinan pada proses perjalananku membangun ruang: aku hanya mengantarmu sampai kau bisa terbang bebas. Apakah itu berarti kau bisa menjadi penyintas atau tidak. Dirimu itu ada ditanganmu sendiri.

Kulepaskan kamu pergi.

Untuk A.R.S. yang tak lagi aku kenali..


Aceh 56. 19:10

Wednesday, November 18, 2009

Tiga Belas Hari


foto oleh vitarlenology

Malam terakhir bersama wajah-wajah polos memanggilku tante. "Jangan pulang tante, tinggal lah lebih lama lagi.."
Maaf sayang, aku harus pulang, kembali bekerja. Menyelesaikan urusan-urusan di rumah kecilku itu. Aku segera kembali menjumpai kalian lagi. Love you so much.

Tiga belas hari, menemukan remedy, perdamaian baru dengan diri.
Mungkin tugasku adalah mendampingimu menemukan keputusan yang salah, hingga kau bisa menarik pelajaran dari pengalaman itu. Meski urusan belajar bukan tanggung jawabku. Kamu yang memutuskan akan mengambil pembelajaran itu atau tidak. Aku hanya cukup mengantarkanmu saja.
DJava memberi kunci petualangan baru pada pemahaman proses kreatif yang selama ini selalu menakjubkan untukku: bagiamana bisa partitur-partitur itu menjelma menjadi musik klasik yang sedemikian rupa. Memanageri konser Jawa Bali, terlibat dalam proses produksi konser, membuatku semakin yakin, keindahan yang hadir senantiasa, kapanpun kehadiran itu diinginkan, tidak akan mungkin terwujud tanpa kerja keras. DJava, the most promising string quartet in this country, aku beruntung mendapatkan kesempatan luar biasa memanageri kalian. Kalian menginspirasiku dan memberiku kebaruan-kebaruan, banyak.
Kebaruan-kebaruan itu adalah pilihan. Dan aku memilih mendapatkannya sebanyak mungkin (rasanya tak sabar menunggu saatnya perjalanan bersamamu tiba. Maret 2010. Aku dan umurku yang ke 33 bersamamu menjejak Phuket. Lalu kita akan berkata pada diri kita masing-masing; aku akan kembali menikmati indahnya sore dan udara sejuk Volunteery Park dan kamu kan sampai di negeri Paganini, menyambangi makamnya memberi hormat pada inspirasinya padamu.
Lalu perdamaian juga berarti mengahadapi kejawaan yang lekat dan inheren itu.
Seperti meralat penyangkalan identitas dan aku sedang mempersiapkan diriku di tahun depan, menghadapinya face to face, kejawaanku itu.

Aku kan pulang, menjumpai meja kerjaku. Menjumpai rumah kecilku dan seluruh penghuninya.
Menyongsong teman-temanku. Aku rindu coklat panas toko coklat bersama pembalap gadungan. Aku rindu pasar baru dan gang tamim bersama Mei. Aku rindu warung purnama bersama cicik. Aku rindu jendela kamarku. Aku ingin memeluk ibuku. Aku merindukan kota yang kualami dengan kecintaan dan kebencian.


Setelah pulang nanti, aku akan kembali merindukan berbaring di kamar ini lagi. Bermain bersama kalian lagi.

Bahkan Meener Jansen, tak sabar menunggu kepulanganku:
Welcome home neng!
Not yet. I'll be home on this friday.. :D

Thursday, November 12, 2009

This is It (2009)


**** 1/2

Dua kali nonton film ini, di Bandung dan di Jogja. Dua-duanya tetap membuatku terharu. Ternyata bukan hal yang mudah menjadi 'King of Pop' dan sampai akhir hayatnya ke 'perfeksionisan' Michael Jackson (MJ) dalam mengemas pertunjukkannya, menjadi bukti bahwa gelar yang dia sandang itu bukan serta mereta menempel tanpa tanggung jawab.

Semula film ini dimaksudkan MJ sebagai film yang akan dipersembahkan buat ketiga anaknya. Dokumentasi pribadi yang juga luar biasa. Namun dengan kematiannya 18 hari sebelum konser This is It, film dokumentasi proses persiapan dan gladi resik konser ini, menjadi penting bukan hanya bagi para penggemarnya, manum bagi semua orang yang ingin melihat sisi lain MJ. Semua kru yang bekerja bersama MJ, mengakui bahwa MJ adalah sosok yang sangat bersahaja dan lembut. Aku dan mungkin penonton lain bisa merasakan dibalik ke perfeksionisannya, MJ adalah sosok yang rapuh. Seperti patung porselein yang lembut tapi mudah pecah. Kedikdayaan dirinya dibangun dari kerapuhan jiwanya dan banyak kegetiran hidup yang harus ia lalui. Sangat terasa ketika bekerja bersama dengan para kru, MJ dipenuhi dengan rasa welas asih. Mengganggap bahwa semua orang yang mendukung pekerjaannya adalah satu keluarga dan semua bekerja berlandaskan rasa cinta dan saling menghormati. Film yang di sutradarai Keny Ortega ini memperlihatkan bagaimana setiap lagu yang rencananya akan dibawakan MJ dalam konser This is it, di persiapkan dengan sungguh-sungguh dan kerja keras dari semua kru yang terlibat. This is It menjadi film dokumenter konser paling laku dalam sejarah perfilman dunia.

Menonton This is It membuatku menyadari, menjadi sosok yang inspirasional itu sama artinya bekerja keras berkali-kali lipat dari orang kebanyakan. Ketulusan dan perjuangan untuk berusaha tulus dengan kerja keras itu yang menentukan keabadian dari inspirasi itu. Badan boleh terkubur dalam tanah, tapi yang membuat seseorang selalu hidup adalah inspirasinya. Dan kurasa sepanjang hidupnya MJ bekerja keras untuk itu. Film ini membuktikannya.

Tuesday, November 10, 2009

Never Gonna Give You Up - Stone Gossard

Interpretasi Stone Gossard, gitarisnya Pearl Jam atas lagunya Rick Astley yang kondang di pertengahan 80-an.. wow