Skip to main content

Posts

Showing posts with the label talk to myself

Terberkati Seperti Walter Mitty

Machapuchare, Himalaya from Sarangkot, Pokhara, Nepal,  31/3/2013 I feel blessed like Walter Mitty, to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life. Untuk semua moment 'terdiam terpaku'  ketika kebahagian hanya dirasakan bukan dipikirkan, ketika semua udara yang terhirup, menggenapi kepenuhan diri..  Aku hanya bisa berbisik lirih pada diriku sendiri: Aku terberkati, aku orang yang sangat beruntung. (Nonton  The Secret Life of Walter Mitty  memanggil semua rasa penuh pada semua perjalanan yang telah terlampaui, dan membuatku ingin berjalan lagi dan penuh lagi.. )

Kapanpun, Kalau Mau..!

Phnom Penh, foto oleh vitarlenology "Kamu bisa bahagia kapanpun, kalau mau!"  - Agustinus Wibowo - Kata-kata ini muncul tak sengaja dari perbincangan bersama  Agustinus saat ia berkunjung ke Bandung. Dan sampai saat ini, kata-katanya itu nempel di kepalaku. Ya, kapanpun, kalau mau. Kalau ga mau? berarti ga akan menemukan kapan yang disebut sebagai 'kapanpun' itu. Bukankah bahagia itu bisa datang setiap detik bersama dengan setiap hembusan nafas? kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana, tanpa syarat dan pamrih. Namun, jika kebahagiaan itu bisa begitu sederhana, mengapa banyak orang merasa sulit merasa bahagia? Dan mengapa kebahagiaan mesti dipersulit kalau ia bisa datang dengan mudah. Aku menyakini bahwa kebahagiaan itu selalu datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan memang benar ia bisa datang kapanpun. Menjadi 'kebahagiaan' ketika yang datang dan berbeda-beda itu mau aku terima sebagai kebahagiaan. Kalau tidak mau, ya tidak akan terasa sebagai se...

Pekerjaan Menuju Bahagia

foto oleh vitarlenology "Hal terbaik di dunia ini adalah sesuatu yang dikerjakan oleh tangan." Tulisan itu tanpa sengaja kutemukan di sebuah rajutan tangan milik seorang teman. Tentu saja aku membenarkan sekaligus meyakininya. Apalagi setelah beberapa tahun terakhir ini, aku memutuskan untuk fokus dalam urusan pekerjaan tangan ini (baca: sebagai penjilid alias book binder). Sejak kecil aku membuat mainanku sendiri. Kesenangan ini memang terkondisikan oleh lingkungan keluarga. Ibuku meski bekerja di kantor, ia selalu menjahit sendiri baju untuk anak-anaknya. Sementara bapakku itu hobinya otomotif dan sangat senang mobil tua. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai tengah malam, sepulang kantor hanya untuk mengutak-atik Opel Rekord Olympia tahun 1954nya itu. Selain terkondisikan, karena kedua orang tuaku bukan orang tua yang cukup berlebihan untuk membelikan mainan atau kesukaan anak-anaknya. Bapak lebih senang membelikan buku cara membuat atau buku aneka percob...

Pilihan Antara Hobi Dan (Atau) Serius Berbisnis

foto diambil dari  sini  Kelly Rand di buku Handmade to Sell membuat dikotomi (pemisahan) yang menarik antara penggiat hobi dan pembisnis. Dikotomi yang dibuat Kelly ini untuk menjawab pertanyaan mendasar yang seringkali muncul: mengapa kita membuat barang buatan tangan/handmade. Menurut Kelly, penggiat hobi bisa di cirikan sebagai berikut: Membuat barang buatan tangan di waktu luang Membuat barang buatan tangan itu untuk dipakai sendiri atau untuk teman dan kerabat. Biasanya memberikan cuma-cuma barang buatan tangan sebagai hadiah. Membuat barang buatan tangan sebagai pelepas ketegangan atau stres. Membuat barang buatan tangan sebagai sarana penyaluran kreativitas. Menjual barang buatan tangan biasanya hanya sekedar untuk mencari kesenangan dan tambahan uang saku. Dalam konteks negara maju, membuat barang buatan tangan sebagai hobi, bahan-bahan yang dibeli, pelatihan yang diikuti serta biaya yang dikeluarkan untuk proses produksinya, tidak mungkin dimasukan k...

Perjalanan Menuju Rumah Senja

Aceh 56 Bandung "Hal yang membuatku tidak terlalu memikirkan soal Rumah Senja adalah karena aku ga yakin ada teman yang mau berkomitmen membangun impian itu." "Loh kamu kan masih punya saya.. kamu bisa membangunnya bersama saya." Pembalap gadungan datang beberapa siang yang lalu, mengatakan bahwa ia akan mengambil cuti mengajar (semacam sabatical program) selama 1 tahun.  Dia sendiri belum punya tujuan dengan sabatical programnya itu. Tapi tiba-tiba dia mengingatkan kembali mimpi yang pernah aku tulis beberapa tahun lalu (2 April 2009), tentang rumah masa depan bernama Rumah Senja , rumah tempat aku dan orang-orang yang setuju dengan gagasan itu, bisa menghabiskan hari tua bersama-sama. Tiba-tiba saja aku seperti diingatkan kembali dan menjadi kebetulan yang saling berkait, ketika beberapa waktu terakhir ini aku telah membulatkan tekad akan menghabiskan hari tuaku di Yogja, bukan di Bandung. Pulang kampung dan mengamini kejawaanku. Lalu si Pembalap Gadunga...

Surat Untuk Sahabat di Tahun Ke 35

353003 Memasuki usia 35 tahun, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Malah cukup menyenangkan. Banyak sahabat yang ternyata masih menemani dan yang penting adalah ketenangan karena kesipan mental untuk memasukinya. Mungkin inilah yang disebut menjadi dewasa. Dan rasanya di usia ini aku benar-benar siap untuk itu. Waktu kecil dulu, aku selalu takut menjadi dewasa. Karena menurutku pada waktu itu, menjadi dewasa adalah ga asyik, kehilangan spontanitas, terlalu banyak basa-basi, harus menyerah pada kenyataan, terlalu banyak ketakutan, kehilangan idealisme, kehilangan semangat bermain, terjebak dalam kemapanan dan hal-hal lain  yang pada saat itu terlalu mengerikan dan menakutkan bagiku di masa kecil dulu. namun, tanpa disadari kenyataan hidup yang kujalani menuntutku berpikir lebih dewasa dari usiaku. Bacaan, khayalan, cita-citaku, apa yang kuinginkan, apa yang kualami di keluarga juga lingkungan di sekitarku, hasrat mencari tau, serta keyakinanku, tern...

Ibuku Seluas Samudra

Hari ini ibuku genap 71 tahun. Namun dia yang memberiku hadiah super istimewa. Sebuah dukungan yang aku tau, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Dia percaya, bahwa seberbeda keyakinan  apapun yang akan mendampingiku nanti, dia akan selalu mendukungku. Karena ibu percaya, itulah jalan kebaikan yang harus aku perjuangkan. Sebagai ibu bekal berharga yang ia berikan padaku adalah  kesempatan dan kepercayaan  padaku untuk berjuang dengan pilihan-pilihan hidupku. Dunia boleh menentang pilihanku, namun restu ibu yang akan selalu menemaniku. Terima kasih ibu, kau beri aku tauladan atas kebesaran dan keluasan hatimu. Selamat ulang tahun. Ibuku dasar samudera tempat lautan berpijak dan sauh melabuh

Membebaskan Pertanyaan

Suatu pagi di jendela gudang selatan foto oleh vitarlenology Katanya setinggi-tingginya maaf adalah ketika kita mampu menerima dengan iklas ketika orang lain tidak bisa mengerti niat baik kita. Tapi ternyata itu sulit. Meski ketika berhasil mencobanya hati terasa lebih longgar karena kita akan terhindar dari banyak pertanyaan tentang mengapa orang lain tidak bisa mengerti kita.  Ternyata, tidak semua hal yang tidak kita mengerti perlu dipelihara sebagai pertanyaan yang menggantung dan membebani. Seringkali ketika pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan menyesaki hati, dia malah mengungkung pikiran dan rasa untuk leluasa mencari jawab. Bebaskan saja pertanyaan-pertanyaan itu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Siapa tau, ketika kita iklaskan, waktu malah memberikan jawabannya dan hidup menunjukkan jalan pengertian baru atas apa yang sulit kita pahami selama ini. Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang perlu di lepaskan, di iklaskan.

Selamat Datang Naga Air

Di tahun naga air ini, sepertinya kesibukan mental dan fisik berkali lipat dari tahun sebelumnya. Banyak sekali pekerjaan di awal tahun tapi cuaca sepertinya juga lagi sibuk menyimbangkan diri dengan beban bumi yang begitu berat. Semua sedang beradaptasi dan berusaha menemukan keseimbangan baru meski hanya sepersekian detik. Bandung didera angin dingin yang dengan mudah menumbangkan kesehatan. Segelas teh jahe atau air jahe, setiap hari mungkin bisa menghangatkan, setidaknya bisa melegakan tenggorokkan. Selamat merenangi tahun naga air :) 

Museum Punya Siapa?

foto oleh vitarlenology Beberapa waktu lalu, seorang teman memberitahukan bahwa sebuah museum pemerintah di Bandung membuka lowongan sukarelawan. Berbekal niat, ingin mengamalkan ilmu dan pengalaman permuseuman yang pernah kuperoleh beberapa tahun lalu, aku pun mendaftar sebagai sukarelawan. Rasanya sayang aja kalau ilmu dan pengalamanku itu tidak kuamalkan di museum di kota tempat tinggalku ini. Baru ikut dua kali pertemuan, aku udah nyaris putus asa. Museum yang kutemukan tidak seperti yang kuharapkan (aku sempat menyalahkan diri sendiri, menganggap diriku bodoh karena menaruh harapan pada museum pemerintah). Fakta yang kutemukan, seorang kepala museum pemerintah itu merangkap kerja sebagai kurator museum, artistik, humas, programer, bendahara, bahkan eksekutor urusan teknis. Akibatnya, sulit sekali menemukan kualitas pada proses penyelenggaraan pameran yang serius, karena pekerjaan yang tumpang tindih itu tadi. Padahal referensi yang dijadikan acuan dalam penyelenggaraan pamer...

Pertanggung Jawaban Energi

Singapore Art Museum, Agustus 2011. Photo by Vitarlenology "Please take responsibility for the energy you bring into this space." Hampir setahun terakhir ini, aku belajar Tai Chi. Sebuah ilmu bagaimana mengolah energi yang ada dalam diri yang menemukan keseimbangannya dengan energi semesta. Hal yang memotivasiku untuk belajar Tai Chi yang biasanya populer dilakukan oleh para orang tua adalah sebuah adegan di film (aku lupa judulnya) yang diperankan oleh Jet Li. Di film itu, Jet Li mengalami gangguan jiwa setelah di kalahkan oleh musuhnya. Dalam kondisi seperti itu yang dilakukannya adalah memandangi bagaimana air di dalam baskom bergerak-gerak mengikuti angin yang bertipu. Dari situ, Jet Li justru menemukan rahasia untuk mengalahkan musuh yaitu melawan musuh dengan energi si musuh itu sendiri. Semakin besar energi musuh yang digunakan untuk menyerangnya, semakin besar pula energi yang didapatkannya untuk menyerang balik si musuh. Jadi sebenernya Jet Li, tidak mengelua...

Hey Para Orang Tua, Kejujuran Macam Apa yang Ingin Kau Ajarkan Pada Anak-anakmu?

Orang tua murid seorang sisa SD berinisial AL yang melaporkan kecurangan sekolah, karena membiarkan muridnya mencontek masal pada saat ujian, malah dilabrak banyak orang tua murid lainnya. Akibat laporan ini, kepala sekolah dicopot dari jabatannya. Para orang tua murid yang marah ini, tidak terima orang tua AL melaporkan kecurangan itu dan membuat ujian akhir terancam harus di ulang lagi. Orang tua AL yang berprofesi sebagai buruh dan penjahit ini, malah dimaki-maki. Reaksi ini membuat orang tua AL minta maaf karena tidak bermaksud mempermalukan nama sekolah. (Baca berita lebih lengkapnya di sini dan di sini ). Aku bener-bener terpaku bisu. MASYARAKAT  MACAM APA INI???? yang salah dibenarkan, yang benar malah disalahkan. Semula aku masih mengira, apa ini mimpi buruk? karena film-film Hollywood yang sering dituduh merusak moral generasi muda, sejauh yang aku tonton justru mengajarkan nilai moral sebaliknya: 'Kejujuran adalah hal penting yang harus kamu bela sampai mati sekalipun...

Ibu, Bapak dan Sinkronisasi Keyakinan

Saat kondisi bapakku tiba-tiba kritis dan sakratul maut datang menjelang, ibuku bertanya pada bapakku: "Pak, Kamu ingin menghadap Tuhan ditunggui pastor atau orang-orang mesjid? Ibu ikhlas, kalau bapak, mau kembali menghadap Tuhan dalam Katolik, ibu tidak akan menghalangi.." Bapakku dengan nafas terakhirnya yang tersengal-sengal, menjawab: "Bapak ingin menghadap Tuhan dalam Islam. Bapak sudah yakin bu.."  *** Saat menikahi ibuku, bapakku menyetujui mengikuti agama ibuku daripada tetap dalam Katolik. Dua kalimat syahadat menjadi mas kawin pernikahan mereka. Namun pindah agama bukan persoalan mengganti tulisan di KTP atau kartu identitas dari agama A mejadi B. Bersaksi bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan tiada rasul selain Muhamad, tidak serta merta mengiringi berpindahnya sebuah keyakinan. Meski pindah agama, bapakku membesarkan anak-anaknya tetap dalam disiplin dan logika Katolik yang begitu kental. Bapakku memang tidak pernah mengemukakan doktrin-doktrin Kato...

I Follow You Into The Dark *)

James Franco If there's no one beside you when your soul embarks Then I'll follow you into the dark - Death Cab for Cutie - Hal yang cukup mengagetkan namun sekaligus bisa dimengerti di awal bulan ini adalah James Franco mendelete account twitternya. Setelah sebulan setengah, James 'berkicau' pada para penggemarnya lewat foto-foto, video aktivitas dia sehari-hari_ sehingga aku yang ada di Bandung, tiba-tiba bisa merasa menjadi teman dekatnya. Bagaimana tidak, keseharian James yang selama ini (sebelum dia buka account twitter) adalah sesuatu yang jauh dan hanya dalam bayangan belaka, setelah bertwitter ria, tiba-tiba sampai isi email buat James saja, penggemarnya bisa tau. Aku rasa mendelete account dengan lebih dari empat ratus ribu follower, bukan hal mudah. Memutuskan  untuk tidak lagi 'dibuntuti' empat ratus ribu pengikut, menurutku itu tindakan yang sangat berani. Itu sama artinya dengan mengambil resiko mengecewakan empat ratus ribu pengikut yang ...

Kerinduan Abadi di Hari Ulang Tahun

Ternyata aku masih merindukanmu sebagai teman dekatku, teman berbagi ide dan resah gelisah.. tapi kamu hanya bisa jadi ibu saja dan itu pun sudah cukup berat. Ya sudah. Aku terima saja. Aku simpan saja keinginan itu sebagai kerinduan abadiku saja. Tidak semua yang kuinginkan dan kuharapkan dapat terpenuhi dan biarkan saja begitu karena hidup akan mempertemukannya dengan orang-orang yang tak disangka-sangka, pertemuan-pertemuan yang seperti kebetulan (padahal bukan) untuk memenuhinya. Ibu mungkin tidak bisa jadi teman dekat, tapi teman-teman yang kusebut sahabat, bisa. Jadi kurasa, seperti halnya tidak ada yang abadi dalam hidup, kerinduanpun tak akan pernah jadi abadi. Ada yang mengosongkan, pasti ada yang mengisinya. Dan kerinduanku pada bapak, mungkin tak bisa disebut abadi, karena rasanya berbeda-beda setiap harinya. Mungkin malah tidak  bisa lagi disebut rindu, karena merindukan yang jelas-jelas tidak akan pernah kembali itu pekerjaan yang sia-sia. Dengan menyimpan semua rasa...

Kawan Sepermimpian

 foto by vitarlenology Beberapa hari lalu aku terhubung dengan adik seorang teman yang dulu pernah membangun cita-cita bersama. Lalu temanku itu meninggalkanku begitu saja untuk cita-cita yang lain. Si adik, tiba-tiba muncul dan memberi dukungan terhadap cita-cita yang pernah kubangun bersama kakaknya. Diam-diam ternyata si adik menyimak dan mengikuti sepak terjangku selama sepuluh tahun terakhir ini. Aku jadi teringat, masa-masa ketika si kakak meneleponku setiap malam dan bermimpi bersama tentang apa yang kukerjakan selama sepuluh tahun ini, bahwa ini akan menjadi begini dan begitu di masa datang. Benar-benar hampir setiap malam. Setiap ada ide baru, sekecil apapun, si kakak akan menelepon dan membahas panjang lebar denganku. Saat si kakak memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pindah ke kota lain untuk menjalani pekerjaan lain, aku sempat terpukul dan bertanya: "bagaimana dengan semua rencana-rencana dan impian yang kita bangun bersama?" Dengan enteng, si kakak ...

Mendefinisikan Kembali Peran di Tahun Kesepuluh

 Foto dari vitarlenology flickr album Beberapa waktu terakhir, beberapa teman memutuskan untuk meninggalkan tobucil dengan alasan sudah saatnya mereka mesti berbeda arah. Ada cita-cita lain yang mesti mereka tuju. Hal yang lumrah dan wajar. Ketika tidak selamanya orang yang berjalan bersama, mendukungku  mencapai tujuan akan berjalan terus berbarengan sampai ujung. Toh, realitanya, teman perjalanan akan selalu berganti, seperti sebuah lari estafet yang tetap dari awal sampai akhir menjalaninya adalah aku sendiri tentunya yang punya cita-cita. Aku lebih bisa mengahadapinya dengan santai dan menerimanya sebagai bagian dari dinamika perjalanan. Memang keberadaan teman yang membantu memikirkan banyak hal tentu saja sangat meringankan beban di perjalanan ini. Namun, jika mau jujur teman perjalanan ini juga seringkali menciptakan ketergantungan yang sulit dilepaskan ketika yang digantungi harus pergi meninggalkan perjalanan ini. Jebakannya adalah aku jadi merasa ga yakin bisa me...

'Cangkemanmu' Kekal Abadi

 Gambar diambil dari sini "Rasah Cangkeman.. Sobek..Sobek!!!"  (Jangan banyak omong, ta' sobek-sobek).Begitulah tulisan di stiker yang tertempel di papan pesan meja kerjaku. Ungkapan yang sempat dipopulerkan oleh Tukul Arwana . Tulisan itu langsung saja terasa pas, ketika membaca kutipan Andi Mallarangeng yang benar-benar menyakiti bukan hanya korban Merapi,  tapi juga rakyat Indonesia. Saya lihat mereka itu sudah cukup sebenarnya, makan sudah siapkan dan MCK sudah ada. Mereka ini tinggal menunggu bunyi klenteng-klenteng lalu sarapan, klenteng-klenteng lalu  makan siang dan klenteng-klenteng lalu makan malam," kata Andi Mallarangeng di Gedung Agung, Jl Malioboro, Yogyakarta, Minggu. Sumber DetikNews Sebelumnya ketua DPR alias Dewan Perwakilan Rakyat, Marzuki Ali yang asal cangkeman  terhadap korban tsunami Mentawai: "Mentawai itu kan pulau. Jauh itu. Pulau kesapu dengan tsunami, ombak besar, konsekuensi kita tinggal di pulaulah," kata Marzuki di Gedung D...