Skip to main content

Posts

Showing posts with the label visual vitamin

Langit Gudang Selatan, Pagi Tadi

Setelah semalam sulit tidur akibat memikirkan 'tobucil cook book' yang ga kelar-kelar itu, tadi pagi sekitar setengah tujuh, aku dibangunkan oleh matahari yang membuat kamarku bersinar terang- benderang. Emas. Silau. Di tengah langit yang kelabu, sinar keemasannya seperti jari-jemari yang coba merengkuh kehidupan yang ada di bumi. Aku terengkuh olehnya. Bangun. Mengambil kamera. Meski dengan silau, mengabadikan kilau rengkuhannya yang memantul di dinding tembok tetangga.  Lima menit kemudian, langit kembali kelabu. Redup. Matahari, pagi,  terima kasih untuk kilaunya meski hanya sekejap.

Siejinkwie dan Perjalanan Persahabatan

Hal yang paling menyenangkan di bulan ulang tahun adalah menerima hadiah dari seorang sahabat. Adalah  Adi Marsiela  yang tahun ini memberiku hadiah istimewa: mengajakku menonton Sin Jie Kwie di Negeri Ajaib, sebuah pertunjukkan teater produksi ke 126, Teater Koma di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Maret 2012 lalu. Sebuah pertunjukkan yang diangkat dari roman karya Tiokengjian dan Lokdanchung dan disadur serta disutradarai oleh Nano Riantiarno, ini berlangsung hampir lima jam dengan sela istirahat 15 menit.  Kami berangkat dari Bandung, Sabtu siang, berkereta ke Gambir menembus sore yang cerah. Langit sepanjang perjalanan begitu indah. Kebahagianku menerima hadiah ini, terasa gempita diiringi derap kereta Argo Parahyangan  yang membawa kami ke ibukota. Aku selalu suka bunyi kereta. Sejak melakukan perjalanan kereta ke Malang bersama cik Rani dua tahun lalu, baru sekarang aku melakukan kembali perjalanan kereta dengan seorang sahabat. Setiap detiknya b...

Secangkir Kopi Dari Playa, Ketika Ideologi Kehilangan Rasa Cinta

Jarak dari Minggiran dan Kedai Kebun, kurang dari 500m, namun malam itu (19/12) Yogjakarta basah. Hujan tak kunjung berhenti, meski rintik tapi cukup kerap. Dari lima tiket yang sengaja kubeli, hanya dua saja yang ternyata terpakai. Tanpa Akum, Gendis memutuskan ikut meski terlihat ragu. Mas Sudi, mengantarkan aku dan Gendis ke Kedai Kebun, tempat berkumpul para penonton yang akan menonton pertunjukkan Papermoon Puppet Theatre : Secangkir Kopi Dari Playa . Sesampai di Kedai Kebun, antusiasku bertambah karena bertemu teman-teman. Sementara mata Gendis mulai berkaca-kaca ketika menyadari dialah satu-satunya anak kecil di ruangan itu. "Tante aku mau pulang," katanya hampir terisak. Aku tidak bisa memaksanya tetap ikut menonton pertunjukkan ini. Ya sudah, aku hubungi mas Sudi untuk menjemput Gendis kembali. Tak lama malah bapaknya muncul. Rupanya Gendis mengsms bapaknya juga, minta di jemput. Bapaknya Gendis datang dengan temannya, Lipi, seorang seniman perempuan dari Bangl...

In The Smile of Daniel Day Lewis

I Love Jack White Like a Little Brother..

Smile Johnny, Smile!

Benicio del toro, Senyummu Itu Loh..

The White Stripes Jepretan Annie Leibovitz

The White Stripes , Annie Leibovitz Akhirnya aku menemukan foto ini. Pertama kali aku melihatnya di majalah Vouge  dan langsung membuatku berkomentar: "Gila ini foto keren banget!" aku suka banget sama suasana dan warnanya. Ganjil. Jack White disini pas banget dengan kostum putih dan pisau dapur di tangannya. Sementara Meg White sebagai sasaran tembak, tersenyum innocent.  Menurutku Annie Leibovitz pas banget mendeskripsikan karakter The White Stripes di foto ini yang seksi misterius dan bisa jadi bebahaya, penuh kejutan tapi semuanya terkontrol. Latar belakang yang sepertinya menggambarkan daerah industri, seperti menjadi metafor Detroit yang industrial, keras, murung, serius dan menyimpan kisah pahit yang lama-lama mengental bersama asap dan debu southwest Detroit. Itu sebabnya menurutku warna merah yang ditampilkan disini lebih untuk menggambarkan 'kekentalan itu' (makanya bukan merah terang, tapi lebih murung dan gelap). Warna putih justu menambah dramatis  puca...