Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Interview with..

Ridwan Kamil: "Potensi, Reputasi, & Kompetensi Sudah Tinggi"

Ridwan Kamil, Foto atas kebaikan Islaminur Pempasa DI taman belakang "kantor"-nya, Ridwan Kamil bersama beberapa rekannya tampak asyik berdiskusi. Dari kantor yang lebih mirip rumah di kawasan Sumur Bandung, Urbane Indonesia, sebuah agensi arsitektur menangani berbagai projek arsitektur bernilai triliun di Dubai, Cina, dan selain kota-kota besar di Indonesia. Emil --panggilan akrabnya-- belum lama ini mendapatkan juara dalam perancangan museum tsunami di Aceh dan mendapat International Young Creative Entrepreneur of the Year (IYCEY) British Council, 2006. Berkaitan dengan wacana kota kreatif, Tarlen Handayani dan Wartawan "PR" Islaminur Pempasa mewawancarainya, Sabtu (15/9). Berikut petikannya. Kenapa Bandung yang dipilih sebagai kota kreatif? Ini Bandung banget , ini contoh (Emil menunjuk suasana taman yang menjadi tempat diskusi bersama rekan-r...

Achmad D. Tardiyana: Masih Menunggu ”Spill Over"

Achmad D. Tardiyana, photo by tarlen DITEMUI di tengah-tengah kesibukannya sebagai seorang Urban Designer, staf pengajar Studi Arsitektur dan Rancang Kota ITB, serta koordinator ”workshop” kegiatan Artepolis, Achmad D. Tardiyana, berbicara tentang peran ”urban designer” dalam relasinya dengan perkembangan potensi kreatif kota. Bicara tentang daya dukung kota, apakah Bandung cukup komunikatif untuk merespons perkembangan aktivitas kreatif warganya? Saya lebih melihatnya pada level individu. Mereka masing-masing beraktivitas, tapi aktivitas ini tidak berkembang dalam komunikasi yang lebih terbuka. Misalnya, orang-orang di luar komunitas, tidak tahu apa yang mereka lakukan dan keberadaan mereka. Menurut saya, sebenarnya sayang. Maksud saya gini , kota yang menarik adalah kota yang menawarkan banyak pilihan dan orang-orang merasa punya kesempatan untuk bisa tahu, pilihan-pilihan yang ditawarkan itu seperti apa. Apa ini semacam proses menyusun puzzle ...

Ngobrol Bareng Moro Cerahati

Badung memang gudangnya orang-orang kreatif. Tak heran, banyak bidang usaha bermunculan berbasis kreatifitas. Salah satunya Cerahati. Video Production yang memproduksi lebih dari enam puluh video klip dari band-band terkenal seperti Koil, Pas Band, Jamrud, Laluna, Boomerang, Rif/ dan banyak lagi. Video klip Mocca, Me & My Boyfriend, garapan Cerahati, meraih penghargaan Best Video MTV Indonesia Video Music Awards 2003. Meski embrionya telah dimulai sejak 1999, baru tahun 2000, Cerahati resmi berdiri. Digawangi oleh lima orang alumni Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB (FSRD ITB), Pumpung Wratsongko, Pundjung Wratsongko, Munadi Alianto alias Xonad, Edy Khemod dan Wahyu Sulasmoro. Cerahati bukan saja menyatukan mereka dalam kesamaan minat, tapi juga menjadi ‘tempat bermain’ untuk selalu menemukan bentuk kreatifitas baru yang berbeda dari yang lain. Seriring dengan perubahan kebijakan pertelevisian di Indonesia, imbasnya dirasakan pula oleh industri video musik. Masa bulan madu dengan MT...

Dewi Lestari: "Mencari Hubungan Lebih Sehat Dengan Tuhan"

Ternyata Neale Donald Walsch, penulis buku Conversation With God, bukan hanya mengingspirasi Alanis Morissette. Dewi Lestari, penulis yang lahir di Bandung, 20 Januari 1976 dan ibu dari Keenan Avalokita Kirana, 14 bulan, termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang terinspirasi oleh buku yang terjual lebih dari 5 juta copy itu. Buku yang membuka mata banyak remaja Amerika bahwa Tuhan adalah “teman ngopi” yang mengasyikan. Menurut Walsch Tuhan lebih sering datang pada manusia dengan cara yang sangat alami dan dengan cara yang lebih menyatu dengan kehidupan itu sendiri. Karena itu, buku Walsch, Conversation With God, menjadi buku yang cukup berpengaruh bagi gerakan kebangkitan spiritualisme baru yang menggabungkan banyak pendekatan dalam mengeksplorasi spiritualitas individu atau yang lebih populer disebut new age. Saat ditemui seusai diskusi kebebasan berekspresi yang diselenggarakan di Common Room, hari sabtu lalu. Dewi menjelaskan kesibukannya mempersiapkan penerbitan baru yang f...

Tommorow People Ensamble: "Eksplorasi tanpa Batasan"

SORE itu, (18/8) Selasar Sunaryo terlihat sibuk dari hari-hari biasa. Beberapa orang soundman tampak mempersiapkan soundsytem untuk pertunjukan "Jazz Merdeka: Gelar Karya Anak Bangsa", yakni pada malam harinya. Tak terkecuali Nikita Dompas, gitaris Tomorrow People Ensamble (TPE), terlihat sibuk dengan peralatan musiknya. Saat disapa, Nikita menyambut dengan ramah dan mengajak ke rumah bambu, yakni sebuah guest house kecil di Selasar Sunaryo, untuk melakukan wawancara. Sementara Azfansandra Karim atau biasa dipanggil Adra, rhodes dan keyboardist TPE, telah menunggu kami. Sedang Elfa Zulhamsyah, drumer TPE, minta izin tidak bisa mengikuti wawancara. Zulham, biasa dia dipanggil, harus menyiapkan peralatan untuk check sound yang akan mereka lakukan satu jam ke depan. Meski telah membaca penjelasannya di My Space TPE, mereka diminta menjelaskan kembali bagaimana TPE pada awalnya. Meski tampak sedikit e...