Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tigapuluh sekian

Menjadi Penjilid dan Perjalanan Menemukan Fokus

Playing The Building, foto vitarlenology 2008 Suatu hari, ketika berkunjung untuk pertama kalinya ke markas besar Etsy, di Brooklyn, NYC, tahun 2008, Vanessa Bertonzi yang saat itu bekerja sebagai humasnya Etsy, bertanya padaku "Setelah pulang dari Amerika, apa yang akan kamu lakukan?" Saat itu spontan aku menjawab, "Aku mau jadi desainer stationery." Padahal, aku belum sekalipun punya pengalaman ikut kelas menjilid buku atau hal-hal yang sifatnya mengasah keterampilanku menjilid buku.  Jawabanku lebih didasarkan pada kesukaanku akan stationery terutama sekali notebook dan alat-alat tulis. Desain Stationery seperti apa yang ingin aku buat, itupun masih kabur. Namun rupanya, jawabanku itu seperti mantra untuk diriku sendiri dan patok yang ditancapkan, bahwa perjalanan fokusku dimulai dari situ. Menemukan kelas book binding di Etsy Lab pada saat itu, seperti terminal awal yang akhirnya membawaku menelusuri ‘book binding’ sebagai fokus yang ingin aku dalami. Pert...

Catatan Dua Belas Tahun Tobucil

Jika ditanya bagaimana rasanya menjalani Tobucil selama 12 tahun? aku pasti menjawab, biasa-biasa saja. Biasa karena, masa-masa sulit  membangun pondasi Tobucil sudah terlampaui di sepuluh tahun pertama. Sepuluh tahun berikutnya adalah menjawab masa pertumbuhan, mau tumbuh seperti apa? Ketika menengok kembali perjalanan Tobucil selama 12 tahun, aku tidak pernah membayangkan Tobucil seperti saat ini. Aku hanya berusaha menjalaninya sebaik yang aku mampu. Setelah ditinggalkan oleh dua pendiri lainnya, aku hanya berusaha menjawab tantangan pada diriku sendiri: 'jika setelah ditinggalkan aku berhenti, aku tidak akan pernah bisa menjalani persoalan hidup yang lebih besar dari Tobucil'. Dan upaya menjawab tantangan itu  kemudian mengantarkanku sampai waktu 12 tahun.  Aku ingat, di awal tahun 2000 an, ketika Tobucil baru saja berdiri, banyak orang melabeli Tobucil sebagai  'Toko Buku Alternatif' atau 'Ruang Alternatif'. Tobucil pada saat itu, hadir sebaga...

Kapanpun, Kalau Mau..!

Phnom Penh, foto oleh vitarlenology "Kamu bisa bahagia kapanpun, kalau mau!"  - Agustinus Wibowo - Kata-kata ini muncul tak sengaja dari perbincangan bersama  Agustinus saat ia berkunjung ke Bandung. Dan sampai saat ini, kata-katanya itu nempel di kepalaku. Ya, kapanpun, kalau mau. Kalau ga mau? berarti ga akan menemukan kapan yang disebut sebagai 'kapanpun' itu. Bukankah bahagia itu bisa datang setiap detik bersama dengan setiap hembusan nafas? kebahagiaan-kebahagiaan yang sederhana, tanpa syarat dan pamrih. Namun, jika kebahagiaan itu bisa begitu sederhana, mengapa banyak orang merasa sulit merasa bahagia? Dan mengapa kebahagiaan mesti dipersulit kalau ia bisa datang dengan mudah. Aku menyakini bahwa kebahagiaan itu selalu datang dalam bentuk yang berbeda-beda. Dan memang benar ia bisa datang kapanpun. Menjadi 'kebahagiaan' ketika yang datang dan berbeda-beda itu mau aku terima sebagai kebahagiaan. Kalau tidak mau, ya tidak akan terasa sebagai se...

Pekerjaan Menuju Bahagia

foto oleh vitarlenology "Hal terbaik di dunia ini adalah sesuatu yang dikerjakan oleh tangan." Tulisan itu tanpa sengaja kutemukan di sebuah rajutan tangan milik seorang teman. Tentu saja aku membenarkan sekaligus meyakininya. Apalagi setelah beberapa tahun terakhir ini, aku memutuskan untuk fokus dalam urusan pekerjaan tangan ini (baca: sebagai penjilid alias book binder). Sejak kecil aku membuat mainanku sendiri. Kesenangan ini memang terkondisikan oleh lingkungan keluarga. Ibuku meski bekerja di kantor, ia selalu menjahit sendiri baju untuk anak-anaknya. Sementara bapakku itu hobinya otomotif dan sangat senang mobil tua. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam sampai tengah malam, sepulang kantor hanya untuk mengutak-atik Opel Rekord Olympia tahun 1954nya itu. Selain terkondisikan, karena kedua orang tuaku bukan orang tua yang cukup berlebihan untuk membelikan mainan atau kesukaan anak-anaknya. Bapak lebih senang membelikan buku cara membuat atau buku aneka percob...

Perjalanan Menuju Rumah Senja

Aceh 56 Bandung "Hal yang membuatku tidak terlalu memikirkan soal Rumah Senja adalah karena aku ga yakin ada teman yang mau berkomitmen membangun impian itu." "Loh kamu kan masih punya saya.. kamu bisa membangunnya bersama saya." Pembalap gadungan datang beberapa siang yang lalu, mengatakan bahwa ia akan mengambil cuti mengajar (semacam sabatical program) selama 1 tahun.  Dia sendiri belum punya tujuan dengan sabatical programnya itu. Tapi tiba-tiba dia mengingatkan kembali mimpi yang pernah aku tulis beberapa tahun lalu (2 April 2009), tentang rumah masa depan bernama Rumah Senja , rumah tempat aku dan orang-orang yang setuju dengan gagasan itu, bisa menghabiskan hari tua bersama-sama. Tiba-tiba saja aku seperti diingatkan kembali dan menjadi kebetulan yang saling berkait, ketika beberapa waktu terakhir ini aku telah membulatkan tekad akan menghabiskan hari tuaku di Yogja, bukan di Bandung. Pulang kampung dan mengamini kejawaanku. Lalu si Pembalap Gadunga...

Ziarah Kala Rindu

Tidak ada tradisi berziarah yang dilakukan secara khusus di keluargaku.  Tidak pula pada hari raya, dimana orang-orang, keluarga-keluarga, berbondong-bondong pergi berziarah, membuat pemakaman ramai seperti pasar.  Aku berziarah kala rindu saja. Rindu bapak terutama. Dan dalam keluargaku, kerinduan pada bapak itu datangnya berbeda-beda. Setiap anggota keluargaku punya waktunya masing-masing untuk melepas rindu di makam bapak.  Namun tidak setiap rindu, aku pergi ke makamnya. Biasanya hanya kerinduan yang teramat sangat saja yang bisa memaksaku datang dan terpekur di makamnya. Tidak ada ritual khusus juga yang kulakukan. Hanya mengadu diam-diam sambil coba membendung isak dan air mata kegalauan-kegalauan yang sulit diceritakan pada manusia hidup. Seperti mengosongkan sebagian beban pikiran yang blunder dan sulit dipahami bahkan oleh diriku sendiri. Kasihan sekali bapakku itu, sudah mati, masih saja dibebani oleh curhat-curhat anaknya yang satu ini.  Menzi...

Surat Untuk Sahabat di Tahun Ke 35

353003 Memasuki usia 35 tahun, ternyata tidak semenakutkan yang dibayangkan. Malah cukup menyenangkan. Banyak sahabat yang ternyata masih menemani dan yang penting adalah ketenangan karena kesipan mental untuk memasukinya. Mungkin inilah yang disebut menjadi dewasa. Dan rasanya di usia ini aku benar-benar siap untuk itu. Waktu kecil dulu, aku selalu takut menjadi dewasa. Karena menurutku pada waktu itu, menjadi dewasa adalah ga asyik, kehilangan spontanitas, terlalu banyak basa-basi, harus menyerah pada kenyataan, terlalu banyak ketakutan, kehilangan idealisme, kehilangan semangat bermain, terjebak dalam kemapanan dan hal-hal lain  yang pada saat itu terlalu mengerikan dan menakutkan bagiku di masa kecil dulu. namun, tanpa disadari kenyataan hidup yang kujalani menuntutku berpikir lebih dewasa dari usiaku. Bacaan, khayalan, cita-citaku, apa yang kuinginkan, apa yang kualami di keluarga juga lingkungan di sekitarku, hasrat mencari tau, serta keyakinanku, tern...

Siejinkwie dan Perjalanan Persahabatan

Hal yang paling menyenangkan di bulan ulang tahun adalah menerima hadiah dari seorang sahabat. Adalah  Adi Marsiela  yang tahun ini memberiku hadiah istimewa: mengajakku menonton Sin Jie Kwie di Negeri Ajaib, sebuah pertunjukkan teater produksi ke 126, Teater Koma di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 24 Maret 2012 lalu. Sebuah pertunjukkan yang diangkat dari roman karya Tiokengjian dan Lokdanchung dan disadur serta disutradarai oleh Nano Riantiarno, ini berlangsung hampir lima jam dengan sela istirahat 15 menit.  Kami berangkat dari Bandung, Sabtu siang, berkereta ke Gambir menembus sore yang cerah. Langit sepanjang perjalanan begitu indah. Kebahagianku menerima hadiah ini, terasa gempita diiringi derap kereta Argo Parahyangan  yang membawa kami ke ibukota. Aku selalu suka bunyi kereta. Sejak melakukan perjalanan kereta ke Malang bersama cik Rani dua tahun lalu, baru sekarang aku melakukan kembali perjalanan kereta dengan seorang sahabat. Setiap detiknya b...

Ibuku Seluas Samudra

Hari ini ibuku genap 71 tahun. Namun dia yang memberiku hadiah super istimewa. Sebuah dukungan yang aku tau, itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Dia percaya, bahwa seberbeda keyakinan  apapun yang akan mendampingiku nanti, dia akan selalu mendukungku. Karena ibu percaya, itulah jalan kebaikan yang harus aku perjuangkan. Sebagai ibu bekal berharga yang ia berikan padaku adalah  kesempatan dan kepercayaan  padaku untuk berjuang dengan pilihan-pilihan hidupku. Dunia boleh menentang pilihanku, namun restu ibu yang akan selalu menemaniku. Terima kasih ibu, kau beri aku tauladan atas kebesaran dan keluasan hatimu. Selamat ulang tahun. Ibuku dasar samudera tempat lautan berpijak dan sauh melabuh

Membebaskan Pertanyaan

Suatu pagi di jendela gudang selatan foto oleh vitarlenology Katanya setinggi-tingginya maaf adalah ketika kita mampu menerima dengan iklas ketika orang lain tidak bisa mengerti niat baik kita. Tapi ternyata itu sulit. Meski ketika berhasil mencobanya hati terasa lebih longgar karena kita akan terhindar dari banyak pertanyaan tentang mengapa orang lain tidak bisa mengerti kita.  Ternyata, tidak semua hal yang tidak kita mengerti perlu dipelihara sebagai pertanyaan yang menggantung dan membebani. Seringkali ketika pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan menyesaki hati, dia malah mengungkung pikiran dan rasa untuk leluasa mencari jawab. Bebaskan saja pertanyaan-pertanyaan itu. Biarkan waktu yang menjawabnya. Siapa tau, ketika kita iklaskan, waktu malah memberikan jawabannya dan hidup menunjukkan jalan pengertian baru atas apa yang sulit kita pahami selama ini. Semakin bertambah usia, semakin banyak hal yang perlu di lepaskan, di iklaskan.

Kawan Sepermimpian

 foto by vitarlenology Beberapa hari lalu aku terhubung dengan adik seorang teman yang dulu pernah membangun cita-cita bersama. Lalu temanku itu meninggalkanku begitu saja untuk cita-cita yang lain. Si adik, tiba-tiba muncul dan memberi dukungan terhadap cita-cita yang pernah kubangun bersama kakaknya. Diam-diam ternyata si adik menyimak dan mengikuti sepak terjangku selama sepuluh tahun terakhir ini. Aku jadi teringat, masa-masa ketika si kakak meneleponku setiap malam dan bermimpi bersama tentang apa yang kukerjakan selama sepuluh tahun ini, bahwa ini akan menjadi begini dan begitu di masa datang. Benar-benar hampir setiap malam. Setiap ada ide baru, sekecil apapun, si kakak akan menelepon dan membahas panjang lebar denganku. Saat si kakak memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pindah ke kota lain untuk menjalani pekerjaan lain, aku sempat terpukul dan bertanya: "bagaimana dengan semua rencana-rencana dan impian yang kita bangun bersama?" Dengan enteng, si kakak ...

Cara, Jatah Dan Perintah

Foto by Vitarlenology Beberapa hari lalu, kakak laki-lakiku menulis di notenya tentang omongan ustadz yang datang menyambanginya bicara soal jatah dan perintah. "PERINTAH APA  yang harus kita kerjakan ketika "JATAH" itu sampai kepada kita..?"  Jatah yang dimaksud ustadz ini adalah segala kenikmatan yang Tuhan berikan kepada kita. Segala yang menjadi berhak untuk kita nikmati. Nah, sementara perintah adalah kewajiban yang mesti kita jalani setelah jatah kita dapatkan. Rasanya jauh lebih mudah mengenali 'jatah' daripada 'perintah'. Jatah alias segala pemberian Tuhan pada kita, jauh lebih mudah diterima sebagai sesuatu yang memang sepatutnya kita dapatkan. Namun mengenali perintah ternyata jauh lebih sulit daripada menerima jatah. Memang dalam kitab suci tertulis apa saja yang Tuhan perintahkan kepada umatnya. Hanya saja perintah-perintah itu seringkali tidak se-eksplisit yang kita harapkan. Tuhan memberi keleluasaan untuk menerjemahkan perintah it...

Menikahi Impian Dan Cita-cita

the Poem Tim Burton Wrote for Johnny Depp Jika ditanya, apakah aku sudah menikah? Ya. Aku sudah menikah. Menikah dengan impian dan cita-citaku. Menikah dengan banyak orang yang berjalan bersama menuju cita-citaku. Pada impian dan cita-cita aku berkomitmen, berjanji untuk setia, karena cita-cita dan impian tidak pernah berkhianat. Aku yang justru sering mencoba mengkhianatinya. Namun setiap kali aku kembali dari pengkhianatanku,  impian dan cita-cita selalu menerimaku dengan tangan terbuka dan memberiku kekuatan untuk kembali yakin. Sejauh apapun aku berusaha meninggalkan impian dan cita-citaku, aku akan selalu ditarik untuk kembali. Aku tak bisa hidup tanpanya. Bagaimana dengan menikahi laki-laki dengan cita-cita lain dan impian berbeda di kepalanya? Mungkin saja. Menikahi laki-laki yang tau apa yang dia cita-citakan dan dia impikan, sesungguhnya seperti menikahi impian dan cita-cita yang lain. Aku berjanji setia pada impiannya, begitu pula dia bersedia bersetia pada impian dan ...