Skip to main content

Posts

Impian Bersama atau Kepentingan Bersama?

(Tulisan pertama refleksiku setelah aku mengundurkan diri dari Common Room Networks Foundation ) Aku jadi ga percaya kalau mimpi bersama itu ada, yang ada hanyalah persamaan kepentingan dari impian yang berbeda-beda itu. Enam tahun perjalanan philantrophiku membuktikan itu. Dulu (dan sampai kemarin) aku terlalu naif, menganggap bahwa orang-orang yang sama-sama punya mimpi sama yaitu ingin mengubah dunia, berarti bisa lebih mudah mengikatkan diri dalam komitmen untuk membangun mimpi itu bersama-sama. Kupikir, tak perlu lagi memperjelas impian itu, karena ku kira impian kita sudah sama. Tapi ternyata itu pikiran yang sangat bodoh, sama bodohnya ketika menganggap saat memilih hidup bersama, pasangan kita punya mimpi yang sama dengan kita. Setiap orang punya meskipun punya 'tema' mimpi yang sama, namun selalu punya cara berbeda ketika memimpikannya dan mempersepsinya. Perbedaan inilah yang kemudian mendorong cara meraih impian bagi setiap orang berbeda-beda. Sebenernya situa...

303003 How Lucky I am

pic: www.aestheticapparatus.com Genap tiga puluh tahun yang dapat kukatakan, adalah rasa syukur yang amat sangat. Bersyukur pada Tuhan, masih diberi kesempatan untuk hidup, merasakan kegagalan, belajar untuk sukses, patah hati, lalu menemukan makna apa itu mencintai yang membebaskan. Jika dilihat kebelakang, ngapain aja selama 30 tahun ini, aku merasa bersyukur bisa menjalani proses kehilangan yang sangat panjang. Mamakan waktu hampir setengah kehidupanku. Proses yang menurutku sangat menyakitkan dan berat. Tapi banyak banget pelajaran hidup yang aku dapatkan. Aku bisa memaafkan ibuku atas ketakacuhannya selama proses yang berat itu. Merekonstruksi ulang masa lalu dan melihatnya dengan cara berbeda. Menyadari yang hilang seringkali datang dalam bentuk yang berbeda (terima kasih untuk menjadi bapak buatku). Dan yang penting adalah teman-teman. Teman-teman yang banyak menemaniku dalam perjalanan ini. Semua punya cerita, semua punya peranan, baik protagonis maupun antagonis, tapi semua m...

Tentang Arsitek(tur) dan Seni Mengalami Kebaruan

Photo by tarlen (tulisan ini, tidak ada maksud untuk menyerang siapapun atau profesi tertentu. Apa yang ditulis di sini adalah murni kegelisahanku semata, sebagai seseorang yang pernah sangat-sangat ingin menjadi seorang Arsitek dan kemudian berubah pikiran. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ak u bunuh. Namun menuntutku untuk mencoba mencari jawabannya) "Seni adalah keterampilan untuk mengalami kebaruan-kebaruan dalam hidup." - Bambang Sugiharto, ECF, Unpar, 16 Maret 2007- Hari kemarin, aku harus mengahadapi hal yang membuatku heran. Akhir bulan ini, Common Room dan kineruku berencana memutar film-film pendek dan animasi dari Resfestival 2006 di Bandung. Karena materinya sangat cocok dengan kampus-kampus seni dan desain, kami memutuskan untuk mengajak pihak-pihak kampus tersebut untuk bekerjasama. Salah satunya adalah sebuah program studi arsitektur di salah satu kampus di Bandung. Dari beberapa dosen yang menjadi kontak person, mereka mendukung program ini, karena mere...

Bacalah Atas Nama Keberanianmu Sendiri

photo by tarlen Dua hari lalu, aku diundang rapat sama kepala Dinas Pendidikan TK dan SD kota Bandung. Di undangannya tertulis, karena keprihatianan mereka atas kondisi Indonesia yang ada diperingkat 38 dari 39 negara yang minat bacanya rendah. Yeah, itu berarti Indonesia ada di peringkat kedua paling bawah. Dari daftar undangan yang dilampirkan, aku liat ada beberapa dinas terkait, kalangan akademisi, penerbit dan toko bukunya. Hanya dua toko buku yang diundang, salah satunya tobucil. Dengan naifnya aku mengira, pertemuan itu akan dengan serius membahas bagaimana meningkatkan minat baca dikalangan siswa SD dan TK. Ternyata aku 'ketipu'. Gara-gara salah satu koran terbesar di Jawa Barat, menyumbangkan 50 buah mading buat SD-SD di Bandung, Dinas Pendidikan, sibuk pengen bikin acara seremonial dengan tajuk 'Meningkatkan Gerakan Membaca'. Aduhhhh plis deh.. padahal itu koran yang katanya udah menyebar mengakar pengen aja brandnya masuk ke SD-SD. Sepanjang rapat, aku diem a...

Balada Bapak dan Anak Perempuannya

Pic from The Ballad Jack and Rose, Daniel Day Lewis and Camila Belle “Buat saya bapak udah mati.” Pernyataan itu terlontar dari narasumberku, sebut saja noni, korban perkosaan oleh bapak kandungnya sendiri, yang kuwawancarai siang tadi di tanjung priok Jakarta. Saat rekanku memberitahu dia bahwa bapaknya itu kini harus mendekam 10 tahun di penjara Cianjur sana dan membayar denda 60 juta, wajah gadis manis yang baru 17 tahun itu tiba-tiba bersinar puas. Dalam kasus noni, sejak umur 8 bulan, dia berganti-ganti ikut bapak dan ibunya yang telah bercerai. Ibunya seorang TKW di Arab Saudi dan bapaknya, bekerja sebagai buruh tani di salah satu daerah di Cipanas, Cianjur. Entah apa yang mendorong bapaknya, untuk memperkosa noni sampai tiga kali. Saat kutemui di penjara Cianjurpun, bapaknya noni tak mau mengaku dan malah menyalahkan anaknya yang menurutnya memang nakal. Masyarakat malah sempat mengira kalau noni menggoda ayahnya sendiri. Untungnya hakim merasa, bukti dan rangkaian kejadian cuk...

Last Time I Commited Suicide

Foto by tarlen Secara ga sengaja, pam, cerita tentang enam orang temannya yang dalam 4 bulant terakhir ini mencoba bunuh diri tapi gagal. Cerita ini kemudian mendorongku, cici, pam, dan dame membahas tentang hal ini dalam perjalanan menuju pertemuan spirituality anonymous siang tadi di Selasar Sunaryo. Meski belum pernah mencobanya, namun kami berempat ternyata pernah terpikir untuk bunuh diri, di masa-masa kegelapan kami masing-masing. Pertanyaan paling mendasar muncul, 'apa sih yang mendorong masing-masing dari kami sempat terbersit pikiran untuk bunuh diri?' jawabannya ternyata hampir sama. Pada satu titik, kami ternyata pernah mengalami kondisi, dimana kami tak tau lagi bagaimana kesedihan, tekanan, persoalan, kekosongan, kesepian bla..bla..bla.. itu harus diatasi. Itu puncak keputus asaan manakala, kami tak tau lagi bagaimana harus menyikapi kehidupan ini. *** Aku sempat terpikir untuk bunuh diri, saat aku mengalami kerinduan yang teramat sangat pada bapakku beberapa tahu...

Nu Year, Nu Me?

foto by tarlen "first km. simones" Kebohongan terbesarku selalu dimulai di tahun baru. Sederet resolution buat diriku sendiri, menjadi daftar panjang yang kubuat diawal tahun, tapi ketika akhir tahun aku menengoknya kembali, sebanyak itu pula kebohongan yang kulakukan (yang terdaftar tentunya, yang tidak terdaftar pastinya lebih banyak lagi). Karena aku ga menepati apa yang kujanjikan pada diriku sendiri. Lantas di pergantian tahun seperti ini, aku akan membuat daftar yang tak terealisasi itu, menjadi resolution baruku di awal tahun, begitulah seterusnya. Yang artinya, aku ga pernah buat resolution baru sesungguhnya. Dan kalo aku bilang, tahun baru menandai kebaruan diriku, yeah omong kosong. *** Aku berhenti beresolusi sejak beberapa tahun terakhir ini, saat aku sadar, aku hanya menambah daftar kebohonganku sendiri. Tahun baru datang, ya biarkan dia datang, karena demikian tugas waktu. Berputar dari hari kehari, dari tahun ke tahun, mengantar pertambahan usiaku. Seperti ling...