Skip to main content

Posts

vitarlenology@memento.com

Dear Sigit, Kamu bukan orang pertama yang bertanya, ilmu apakah vitarlenology itu? Mungkin terdengar ngawur dan mengada-ada, karena kujamin kau tak akan menemukannya di kamus manapun. Paling-paling kamu akan menemukan kata yang mirip jika kamu search di google __ vitalogy(ilmu kehidupan), buku karya E.H. Ruddock, M.D., yang ditulis tahun 1899, kemudian menjadi judul album ketiganya Pearl Jam. Dan seperti halnya Alice yang bebas memilih pintu mana pun yang akan ia lalui, aku pun merasa bebas menyusun ilmu kehidupanku sendiri, menamainya, memilih pengaruh, menyusun teks-teks hidupku dengan caraku. Lalu aku menamainya vitarlenology, yang kemudian menggoda banyak orang untuk bertanya ilmu apakah gerangan?. dan aku selalu menjawab vitarlenology itu adalah ilmu kehidupannya tarlen. Jika ilmu kehidupanku itu seperti pohon, dia tumbuh seperti diriku. Semakin besar pohonnya, semakin panjang sejarahnya, semakin banyak lingkaran tahun yang membentuk batangnya. Jika ilmu kehidupanku itu seperti pa...

Bapak Dalam Tidurku

Aku mencari bapak. Bapak yang bisa kuajak bergandengan tangan ketika semua orang menyalami memberiku selamat. Dengan tulus juga dengan cibiran. Bapak yang bisa membuatku aman. Bapak yang bisa menarikku keluar dan memberi matahari, ketika semuanya seperti musim dingin yang panjang dan tak bekesudahan. Bapak yang bisa memelukku, mendekapku, dalam kehangatan dan kebersahajaannya. Lalu bayangan bapakku muncul dimulut tangga lantai 2 hall ruang pamer, di sayap kiri bangunan besar bercat putih, bersalaman denganku, mengalirkan kehangatan dalam darahku. Kehangatan yang sama ketika ia mengusap punggungku. Aku ingin memelukmu, mencari lebih banyak hangat, yang mungkin kau berikan sekedar jabat tangan atau usapanmu pada punggungku. Malam terlalu pekat dan panjang untuk dilalui sendiri. Aku membutuhkan genggaman tanganmu, wahai bapak. Setelah itu waktu berjalan begitu lambat. Langkah kaki seperti sepasang kaki kecil terikat rantai besi. Berat. Dingin. Malam terasa jauh lebih panjang dari tahun-ta...

Pada Mulanya adalah Hobi

Siapa sangka, awalnya hobi nyoba-nyoba resep makanan, eh malah keterusan dan bisa dapat uang saku tambahan pula. Itulah yang terjadi pada Istriana Hardhani atau biasa dipanggil Isti. Mahasiswi Tehnik Lingkungan ITENAS angkatan 2003 ini, doyan banget bikin kue. Sampai satu setengah tahun yang lalu di kampusnya ada acara amal. Isti ikutan berpartisipasi dengan membuat dua puluh lima buah Muffin untuk dijual pada acara itu. Modalnya waktu itu delapan puluh dua ribu rupiah. Selesai acara, keterusan deh bisnis muffin. Seminggu dua kali, Isti membuat masing-masing seratus muffin, untuk dititipkan di 15 point distribusinya. Muffin dengan rasa coklat dan keju itu, biasanya ia jual dengann harga tiga ribu rupiah. itupun, distributiornya mendapat 25% keuntungan dari penjualan. Semua ini Isti lakukan disela-sela waktu senggangnya dalam jadwal perkuliahan yang lumayan padat. “Susahnya, kalo lagi banyak tugas trus banyak pesenan, dua-duanya harus dikerjain. jadinya ya pinter-pinter bagi waktunya aj...

Keseharian Berkota dan Ketegangan di ‘Tapal Batas'

foto by tarlen Kesadaran hidup di ‘tapal batas’ baru saya rasakan beberapa tahun terakhir ini, ketika aktivitas sehari-hari, saya mulai dengan menyebrangi jalan kereta api, yang memisahkan Kebon Pisang dan Gudang Selatan. Saat itulah saya merasakan hidup saya seperti bergerak melintasi dua wilayah dengan ketegangannya masing-masing. Merasakan kontras yang simultan berulang setiap hari. Merasakan relasi saya dan kota ini dengan perasaan benci dan cinta sekaligus. *** Sejak lahir sampai saat ini, saya tinggal di sebuah perkampungan bernama Kebon Pisang. Perkampungan yang konon kabarnya, menurut para sesepuh, dulunya merupakan daerah tak bertuan dan meruoakan ‘kebon pisang’ dalam arti sesungguhnya. Perkampungan ini letaknya persis di antara pintu kereta api Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sunda, di tepi jalan kereta api jalur barat ke timur dan timur ke barat. Pada mulanya perkampungan ini berkembang dan terbentuk dari komunitas Jawa yang berdagang di Pasar Kosambi. Dalam buku “Semerbak Bunga ...

Komunitas Kreatif, Butuh Lebih Banyak Ruang

KOMUNITAS-komunitas kreatif yang berkembang dalam sepuluh terakhir ini, memberi warna baru dalam perkembangan Bandung sebagai satu kota. Bandung yang selama ini dikenal sebagai kota yang kreatif dalam melahirkan tren baru dalam gaya hidup, seperti tak pernah kehabisan ide dan gagasan kreatif. Munculnya ruang-ruang pertemuan dan kegiatan yang mengakomodasi berbagai macam pemikiran dan gagasan-gagasan kreatif, selama ini lebih banyak digagas secara mandiri oleh inisiatif individu atau kelompok. Bersamaan dengan institusi-institusi formal lain yang bergerak di lingkup seni budaya, kerberadaan ruang-ruang inisiatif dan komunitas-komunitas yang ada, memiliki kontribusi yang penting dalam perkembangan budaya kota. Namun fakta bahwa komunitas-komunitas kreatif dan ruang-ruang inisiatif, yang mampu bertahan sangat sedikit, menunjukkan bahwa dan keberlanjutan keberadaan ruang-ruang tersebut menjadi isu yang serius untuk ditanggapi. Berkaitan dengan hal ini...

Kolase, Absurditas dan Keseharian

No Code, PJ Hidupku cukup absurd akhir-akhir ini. Tepatnya tiga bulan terakhir ini. Dalam waktu bersamaan, aku berhadapan dengan kota, dengan kehidupan di dalamnya, dengan diriku sendiri, dengan masa lalu, dengan masa kini, dengan masa depan, dengan semuanya. Sejak Anak Naga Beranak Naga, isu 'how to look your past' dalam konteks hidupku secara luas, menjadi mengemuka (sebenarnya sudah sejak 10 tahun terakhir). Kemudian berhadapan dengan kota ketika terlibat dalam Artepolis. Dan puncak ke absurdan itu terjadi hari ini, ketika aku menemani cicik bertemu dengan seorang ibu pemilik gedung Galangan Kapal VOC yang ingin menonton Anak Naga Beranak Naga. Dia mengundang kami, lewat perantara seorang Legal Antropologist yang kami kenal lewat email. Puncak keabsrudan itu bagiku kemudian terasa seperti gerhana waktu yang terjadi tiba-tiba. Apa yang pernah kualami saat menggarap Anak Naga Beranak Naga, sebagai hipperealitas, terulang lagi dalam intensitas yang lebih kuat. ( di ten...