Skip to main content

Posts

Showing posts with the label catatan lapangan

Catatan Perjalanan 3 - Thailand: Bangkok Dalam Sepenggal Jalan Bernama Khao San

Meski bisa beradaptasi dengan cepat dengan kotanya, namun aku ga bisa beradaptasi dengan cepat dengan moodku yang hilang di tengah jalan. Mungkin karena kehilangan frekuensi dengan teman perjalanan, merasa perjalanan ini jadi terasa sangat lama dan panjang, dan merindukan pekerjaan-pekerjaan. Setelah berhitung, kami memutuskan ga jadi ke Phuket, karena budget terbatas. Akhirnya 6 hari dihabiskan hanya di Bangkok dan kehidupanku selama 6 hari berputar di Khao San Road dan Silom saja. Sempat berkeliling ke beberapa kuil besar, tapi ya semuanya seperti sama saja. Ga banyak perbedaannya. Yang menarik justru demonstrasi 'kaos merah' Thailand yang gencar menyuarakan reformasi kepemimpinan di Thailand. Banyak tempat-tempat tutup juga gara-gara pawai para demonstran yang waktu aku datang mereka udah berdemonstrasi selama 20 hari. Beneran non stop 24 jam. Mereka membangun basecamp dekat Khao San Road. Jadi setiap malam aku bisa mendengarkan pidato para orator seperti suara pengajian d...

Kangen Kerja

Dalam rangka mencari cara mengembalikan mood perjalanan, terpikir olehku bahwa salah satu penyebab hilang mood, selain penyesuaian dengan teman perjalanan, juga kerana aku rindu pada pekerjaan-pekerjaanku di Bandung. Digital detox sebulan mungkin aku bisa, tapi tidak 'bekerja' dalam tiga minggu bisa membuat aku 'gila'. Bekerja dalam arti juga membuat sesuatu (hiks jadi teringat tumpukan bahan baku di deket meja kerjaku). Apalagi  dalam perjalanan ini aku mendapat banyak ide baru untuk berkarya, rasanya ingin segera merealisasikannya. Memang suka serba salah. Kalau kerja terus ga ada istirahatnya juga otak rasanya jenuh. Tapi kalo liburan bener-bener off kerja selama 3 minggu begini, juga rasanya ga karu-karuan. Setidaknya dari perjalanan ini aku jadi tau, waktu maksimum yang bisa kupenuhi untuk off dari pekerjaan itu berapa lama: 2 minggu lah. Cukup. Ga nyentuh bahan2 buat berkarya. Lebih dari itu, aku bisa sakau beneran (untung aku bawa hook crochet, aku bisa merajut...

Teman Perjalanan

 Foto kiriman Tanto yang membuatku terhibur karena teringat bagaimana Nirwan Arsuka "tertakjub-takjub" dengan singkatan ini..cara dia mengatakannya itu loh.. lucu banget.. :D Hal yang paling berat dalam sebuah perjalanan adalah menjaga frekuensi dengan teman seperjalanan. Hari pertama, kedua masih seperti masa-masa serba antusias, tapi saat sudah sampai tempat tujuan dan mulai menemukan minat masing-masing, mulailah setiap tujuan menjadi terlihat berbeda. Pada titik ini, frekuensi atau chemistry masing-masing perlu mengalami penyesuaian lagi. Penyesuaian menjadi sulit saat dari awal udah ketauan beda frekuensi cukup jauh. Jadinya sampai satu titik, perjalanan menjadi masing-masing dan bersama hanya sebatas persoalan teknis (Duh.. kenapa terdengar seperti sebuah hubungan rumah tangga ya... hihihihih.. setidak kesamaan ini disimpulkan dari cerita-cerita temanku yang sudah berumah tangga :D) Ini menjadi sebuah pelajaran jika akan melakukan perjalanan cukup panjang seperti ini...

Catatan Perjalanan 2 - Cambodia: Terbakar Teriknya Tanah Khmer

Selamat datang di Cambodia Perjalanan menyebrang dari Ho Chi Minh ke Phnom Penh, berjalan lancar dan tidak ada kendala yang berarti. Perjalanan mamakan waktu sekitar 6 jam. Kami berangkat 29 Maret 2010 Pk. 10.00, sampai perbatasan sekitar pk. 12.00 waktu setempat (tidak ada perbedaan waktu dengan Jakarta). Teriknya tanah Cambodia, langsung terasa. Tenggorokanku langsung bereaksi dengan hal ini, rasanya kering sekali dan panas. Urusan visa juga ga repot, karena semua dibantuin oleh petugas bis yang membawa penumpang ke Cambodia. Sepanjang perjalanan menuju Phnom Penh daerah yang kulewati terasa gersang dan panas menyengat. Terlihat sekali perbedaan antara Vietnam dan Cambodia, sebagai negara yang lebih kecil dan beda ideologi dengan Vietnam, Cambodia seperti sedang berjuang keluar dari bayang-bayang rezim Khmer Merah dan sedang berusaha membangun dirinya dengan tertatih-tatih. Setidaknya kesan itu aku dapatkan dari ekspresi orang-orang Cambodia yang kutemui sepanjang perjalanan. Seor...

Catatan Perjalanan Bagian 1- Vietnam: Salam dari Paman Ho

  Selamat Datang di kotanya Paman Ho Akhirnya tanggal 24 Maret tiba juga. Perjalanan di mulai dari Jakarta ke Ho Chi Minh. Penerbangan pk. 16.40 WIB dan sampai di Ho Chi Minh Pk. 20.00 waktu setempat. Oya antara Ho Chi Minh dan Jakarta tidak ada perbedaan waktu. Di Ho Chi Minh aku menginap di rumahnya Mba Vera dan Mas Andreas, teman kakakku yang tinggal di daerah Ann Phu, Distrik 2 Ho Chi Minh City. Mereka sedemikian luar biasa. Sangat welcome dan membuat perjalanan ini dimulai kenyamanan rumah sendiri. Menariknya karena Mba Vera dan Mas Andreas adalah orang Indonesia, mereka berlangganan TV satelite yang menayangkan tayangan stasiun TV Indonesia, seperti SCTV, Indosiar, TVONE, Metro TV, hahahah.. jadinya pas jam sinetron tiba, aku sedikit bingung.. sebentar ini di Indonesia atau di Ho Chi Minh sih.. hehehheh..   Perkabelan yang mirip sarang burung di sepanjang jalan-jalan Ho Chi Minh langsung menarik perhatian.. Di Ho Chi Minh, kami menghabiskan 4 malam 5 hari untuk men...

Keterpencilan Komunitas Adat Terpencil

foto dari album vitarlenology Tarlen Handayani Anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur yang diselenggarakan oleh Yayasan Interseksi. Tulisan ini merupakan catatan lapangan kedua yang dipublikasikan di www.interseksi.org Sulit bagi saya membayangkan bagaimana hidup di wilayah relokasi “Komunitas Adat Terpencil” sub etnik Tidung, di Gn. Temblunu, Sembakung, Kaltim. Hidup di sebuah rumah kayu yang dibangun pemerintah, di tengah-tengah hutan Gn. Temblunu yang belum lama dibuka (bahkan bekas bakaran bonggol-bonggol kayunya masih menyisakan asap). Hanya ada air rawa dan 30 rumah saja. Listrik yang menerangi, muncul dari solar sel yang masih perlu stabilizer pengatur tegangan untuk menyalakan lampu dan alat elektronik lain. Semua itu menjadi situasi yang harus dihadapi tiga puluh kepala keluarga warga RT 06 dan RT 0...

Hujan Semalam di Malaysia, Banjir Sebulan di Sembakung*

Foto oleh tarlen Creative Commons Tulisan ini adalah catatan penelitan lapangan yang dibuat untuk Yayasan Interseksi. Tarlen Handayani adalah anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur Sembakung. Sebuah tempat yang sama sekali asing dan saya putuskan sebagai tujuan dari penelitian ini, saat sampai di Nunukan, Kalimantan Timur. Dari rencana semula, wilayah penelitian saya adalah Kepulauan Mentawai, tepatnya di Siberut. Namun, saat workshop persiapan sebelum berangkat ke lapangan, tempat penelitan sepakat di pindah ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur atas pertimbangan beberapa informasi, bahwa Siberut terancam tsunami. Saya menyepakati kepindahan lokasi itu, meski berarti saya harus mempersiapkan semuanya lagi dari awal. Salah satu mentor workshop, Dave Lumenta , memberikan rekomendasi beberapa daerah di sekitar Kecam...

Tenjojaya for The First Time

Tenjojaya diliat dari rumah ibu Rum, photo by tarlen Ini adalah observasi lapangan pertama, yang saya lakukan untuk kepentingan penelitian justice for the poor. Observasi ini bertujuan untuk mencari kejelasan kasus perceraian ibu Rum di daerah Tenjojaya, Sukabumi. Selain itu, moment rapat koordinasi para koordinator lapangan dari 4 daerah PEKKA (Sukabumi, Cianjur, Subang dan Karawang), menjadi moment berharga bagi saya untuk mengerti dan memahami lebih jauh lagi kerja para PL PEKKA di wilayah binaan mereka masing-masing. Perjalanan menuju Ds Cibadak, tempat Mipna, PL PEKKA wilayah Sukabumi, bagi saya jadi perjalanan yang cukup panjang. Berangkat dari terminal Leuwi Panjang, Bandung Pk. 15.00, saya harus mampir ke Cianjur terlebih dahulu, karena harus bertemu Oemi, PL PEKKA wilayah Cianjur. Dari Cianjur barulah melanjutkan perjalanan ke Cibadak, Sukabumi. Alhasil, sampai di Cibadak hampir Pk. 22.30. Perjalanan yang melelahkan. Sampai kosan Mipna,, para PL PEKKA, langsung melakukan rapat...