Skip to main content

Posts

Showing posts with the label tobucinology

Catatan Dua Belas Tahun Tobucil

Jika ditanya bagaimana rasanya menjalani Tobucil selama 12 tahun? aku pasti menjawab, biasa-biasa saja. Biasa karena, masa-masa sulit  membangun pondasi Tobucil sudah terlampaui di sepuluh tahun pertama. Sepuluh tahun berikutnya adalah menjawab masa pertumbuhan, mau tumbuh seperti apa? Ketika menengok kembali perjalanan Tobucil selama 12 tahun, aku tidak pernah membayangkan Tobucil seperti saat ini. Aku hanya berusaha menjalaninya sebaik yang aku mampu. Setelah ditinggalkan oleh dua pendiri lainnya, aku hanya berusaha menjawab tantangan pada diriku sendiri: 'jika setelah ditinggalkan aku berhenti, aku tidak akan pernah bisa menjalani persoalan hidup yang lebih besar dari Tobucil'. Dan upaya menjawab tantangan itu  kemudian mengantarkanku sampai waktu 12 tahun.  Aku ingat, di awal tahun 2000 an, ketika Tobucil baru saja berdiri, banyak orang melabeli Tobucil sebagai  'Toko Buku Alternatif' atau 'Ruang Alternatif'. Tobucil pada saat itu, hadir sebaga...

Pilihan Antara Hobi Dan (Atau) Serius Berbisnis

foto diambil dari  sini  Kelly Rand di buku Handmade to Sell membuat dikotomi (pemisahan) yang menarik antara penggiat hobi dan pembisnis. Dikotomi yang dibuat Kelly ini untuk menjawab pertanyaan mendasar yang seringkali muncul: mengapa kita membuat barang buatan tangan/handmade. Menurut Kelly, penggiat hobi bisa di cirikan sebagai berikut: Membuat barang buatan tangan di waktu luang Membuat barang buatan tangan itu untuk dipakai sendiri atau untuk teman dan kerabat. Biasanya memberikan cuma-cuma barang buatan tangan sebagai hadiah. Membuat barang buatan tangan sebagai pelepas ketegangan atau stres. Membuat barang buatan tangan sebagai sarana penyaluran kreativitas. Menjual barang buatan tangan biasanya hanya sekedar untuk mencari kesenangan dan tambahan uang saku. Dalam konteks negara maju, membuat barang buatan tangan sebagai hobi, bahan-bahan yang dibeli, pelatihan yang diikuti serta biaya yang dikeluarkan untuk proses produksinya, tidak mungkin dimasukan k...

Eliminasi

Rumah kawin di Tangerang, foto oleh vitarlenology, 2005 Ternyata proses eliminasi itu ga hanya di ajang idol-idolan aja. Dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, hidup sering membawaku pada proses eliminasi ini. Kadang posisiku sebagai 'juri' yang mengeliminasi, kadang sebagai 'peserta yang tereliminasi dan ga jarang bisa dua-duanya sekaligus: sebagai yang mengeliminasi sekaligus yang tereliminasi.  Ketika mengelola ruang seperti tobucil, proses eliminasi ini menjadi hal yag lumrah terjadi. Proses eliminasi menjadi bagian dari dinamika komunitas. Ada yang bertahan dan ada yang tersingkir. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Jika dalam kontes 'idol' eliminasi bertujuan untuk mencapai posisi nomer satu, dalam sebuah komunitas seperti tobucil, eliminasi justru bertujuan untuk tetap pada tujuan komunitas itu sendiri, meskipun tujuan dari sebuah komunitas itu bergerak maju seperti cakrawala dan bukan sebuah titik di ujung sebuah puncak seperti halnya g...

Menjadi Kecil Itu Pilihan

Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.' Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah ...

Mari Mulai Mengatur Ide

foto by vitarlenology Ketika memulai Tobucil , tahun 2001 lalu, aku memulainya dengan semangat, antusiasme dan ide-ide yang membludak. Belum selesai satu ide di jalankan, sudah muncul banyak ide yang lain. Rasanya ingin menjalankan semua ide-ide itu dalam satu waktu sekaligus. Awalnya mengikuti perjalanan ide di saat memulai usaha, sangatlah menyenangkan dan menggairahkan.  Namun ketika guliran ide menjadi seperti bola salju yang kian membesar, aku menjadi kewalahan dan akhirnya terlibas olehnya. Aku tidak lagi bisa mengendalikan ide-ide itu, tapi ide-ide itulah yang mengendalikan aku. Aku merasakan tanda-tanda  ketika aku  dikuasai oleh ide adalah ketika aku merasa kewalahan dengan ide-ide  itu sendiri. Terlalu banyak ide yang menggelinding, sampai-sampai aku ga tau ide mana dulu yang perlu di realisasikan.  Aku jadi kehilangan kemampuan untuk membuat skala prioritas, karena semua ide sangat menggoda dan menarik perhatian. Semua ide seperti minta di real...

Kawan Sepermimpian

 foto by vitarlenology Beberapa hari lalu aku terhubung dengan adik seorang teman yang dulu pernah membangun cita-cita bersama. Lalu temanku itu meninggalkanku begitu saja untuk cita-cita yang lain. Si adik, tiba-tiba muncul dan memberi dukungan terhadap cita-cita yang pernah kubangun bersama kakaknya. Diam-diam ternyata si adik menyimak dan mengikuti sepak terjangku selama sepuluh tahun terakhir ini. Aku jadi teringat, masa-masa ketika si kakak meneleponku setiap malam dan bermimpi bersama tentang apa yang kukerjakan selama sepuluh tahun ini, bahwa ini akan menjadi begini dan begitu di masa datang. Benar-benar hampir setiap malam. Setiap ada ide baru, sekecil apapun, si kakak akan menelepon dan membahas panjang lebar denganku. Saat si kakak memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pindah ke kota lain untuk menjalani pekerjaan lain, aku sempat terpukul dan bertanya: "bagaimana dengan semua rencana-rencana dan impian yang kita bangun bersama?" Dengan enteng, si kakak ...

Impian Bersama atau Kepentingan Bersama?

(Tulisan pertama refleksiku setelah aku mengundurkan diri dari Common Room Networks Foundation ) Aku jadi ga percaya kalau mimpi bersama itu ada, yang ada hanyalah persamaan kepentingan dari impian yang berbeda-beda itu. Enam tahun perjalanan philantrophiku membuktikan itu. Dulu (dan sampai kemarin) aku terlalu naif, menganggap bahwa orang-orang yang sama-sama punya mimpi sama yaitu ingin mengubah dunia, berarti bisa lebih mudah mengikatkan diri dalam komitmen untuk membangun mimpi itu bersama-sama. Kupikir, tak perlu lagi memperjelas impian itu, karena ku kira impian kita sudah sama. Tapi ternyata itu pikiran yang sangat bodoh, sama bodohnya ketika menganggap saat memilih hidup bersama, pasangan kita punya mimpi yang sama dengan kita. Setiap orang punya meskipun punya 'tema' mimpi yang sama, namun selalu punya cara berbeda ketika memimpikannya dan mempersepsinya. Perbedaan inilah yang kemudian mendorong cara meraih impian bagi setiap orang berbeda-beda. Sebenernya situa...