Skip to main content

Posts

Yes, It's You!

  Kita memilih untuk berjalan di lorong itu.  Bukan kutukan seperti yang kamu bilang, tapi pilihan.  Aku sudah sampai sini. Kamu sudah sampai mana?  Kita sedang sama-sama menjalaninya.. hanya bebeda rute saja.  Di sini, tidak ada (mungkin tidak banyak, setidaknya aku belum menemukannya) yang mengerti,  seperti kamu mengerti dan memahaminya.. I miss my best friend, so muuuuuuuchhhh..

My Rock N Roll Breastfeeding

Pearl Jam-RS 668 (October 28, 1993)  Aku punya cara bebeda untuk mengapresiasi sesuatu. Musik misalnya. Untuk musisi yang bener-bener berpengaruh pada diriku (setidaknya pemikiranku), prosesnya cukup lama dan panjang. Seperti memahami sebuah pemikiran filsuf yang ga cukup hanya dengan membaca satu buku saja. Pearl Jam misalnya. Band asal Seattle ini memberi pengaruh sangat besar di masa remaja sampai menuju masa dewasa. Awalnya adalah Jeremy yang pertama kali aku dengarkan di tahun 92 saat lagu itu pertama kali di rilis. Saat itu saat itu aku lagi seneng-senengnya sasama Red hot Chili Peppers dan Nirvana. Suara Eddie Vedder yang getir dan berat itu, mengusik kesenanganku menikmati Anthony Kiedis yang manis tapi seenaknya itu. Setelah Eddie Vedder, Kurt Cobain jadi terdengar terlalu pemarah dan terlalu persimistik. Sementara pada satu titik suara Eddie Vedder menyentuh frekuensi kegalauan filosofis masa remajaku yang dipenuhi dengan berjuta-juta pertanyaan mengapa ini begini...

The White Stripes: Conquest

Salah satu video The White Stripes yang aku suka. Sempet merasa ada sesuatu yang beda dengan penyanyinya, keesentrikan yang aneh dan misterius, susah dimengerti. Baru sekarang kemudian di balik penampilannya yang 'creepy' itu, Jack White menyimpan banyak bakat dan energi berkarya yang begitu intens. Mengingatkan aku pada sosok Johnny Deep dari gaya dan intensitas, hanya kematangan yang berbeda, maklum umur mempengaruhi proses. Tapi aku sungguh suka dua orang ini, meski temanku heran. kok bisa aku ngefans sama Jack White.  Pertama aku jatuh cinta dengan karyanya (Conquest adalah lagu pertama yang memikatku) dan membuatku penasaran dengan misteri seniman di belakangnya. Pasti ada sesuatu yang menarik yang membuat dia bisa menciptakan lagu seperti itu. Dan dari referensi dan wawancara2 juga dari It Might Get Loud, semakin membuatku suka dengan misterinya.

Perjalanan Rasa Ingin Tahu

Langit di jendela kamarku 'Apa yang membuat menakutkan ketika mengikuti rasa ingin tahu? bukannya setiap orang akan mengikuti rasa ingin tahunya?' Beberapa waktu lalu, sahabatku mengajukan pertanyaan itu di saat kami mendiskusikan tentang bagaimana anak-anak jaman sekarang (terutama mahasiswa-mahasiswa sahabatku itu) rendah sekali rasa ingin tahunya. Saat itu, aku bilang bahwa mengikuti keingin tahuan itu, bukan sesuatu yang mudah dan gampang, karena perlu keberanian. Ketika rasa ingin tahu itu terus menerus kita ikuti, bisa membawa kita pada lorong yang panjang dan sunyi. Bisa jadi tinggal kita sendirian yang ada di lorong itu. Kita ga tau juga, ujungnya sampai di mana. Mungkin pada satu ceruk, kita akan bertemu dengan para pertapa yang sedang asyik menghikmati keingin tahuannya. Dia memutuskan untuk berhenti di titik itu dan merenungkan substansi semua penelusuran keingin tahuan yang dia jalani itu. Kurasa setiap orang pasti menjalani apa yang kusebut dengan perjalana...

It Might Get Loud (2008)

***** Dokumenter / Sutradara: Davis Gugennheim Aku baru saja mendapatkan dvd ini tadi siang dan langsung menontonnya. Dokumenter tentang proses kreatif seniman-seniman hebat selalu menarik untuk kuketahui. Apalagi salah satu yang menjadi tokoh pencerita di dokumenter ini adalah Jack White , musisi asal Detroit sebaya denganku (FYI: White lahir 9 Juli 1975, lebih tua dua tahun dariku), tapi sejak pertama kali menyimak musik dan permainannya dengan White Stripes , aku langsung jatuh hati pada intensitas dan keseriusannya bereksplorasi. Bagiku, White adalah sedikit dari musisi jenius dan serius di usianya. Dokumenter ini kemudian mengajakku mengetahui lebih jauh proses kreatif White sebagai musisi dan latar belakang artistiknya. Aku seperti menemukan kembali perasaan jatuh cinta pada intensitas seseorang dalam berkarya, seperti yang pernah aku temukan pada Eddie Vedder , Pearl Jam, ketika pertama kali mendengar dia menyanyikan Jeremy di tahun 1992. Intensitas seseorang dalam berkar...

Vitarlenology 2009: Terima Kasih Untukmu

Snorkeling di Karimun Jawa, Mei 2009. Foto oleh Indra. Untuk para sahabat dan semua perjumpaan yang tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata  Ga terasa 2009 segera berlalu. Setahun genap memutari waktu. Banyak hal terjadi sepanjang tahun 2009. Aku coba mereviewnya kembali. Kehilangan Banyak (ga banyak-banyak amat juga sih :D) kehilangan di tahun ini. Terutama kehilangan yang disebabkan oleh kepergian orang lain dari hidupku dan juga keputusanku meninggalkan hidup orang lain.  I am also what I have lost. Awal tahun di mulai dengan perjuangan meninggalkan 'kamu' sepenuhnya. Memenuhi janji pada diriku sendiri untuk bersikap adil. Pada hidupku sendiri. Sepercaya-percayanya aku padamu, ternyata aku ga pernah bisa mempercayaimu atas semua hal-hal yang tidak konsisten dalam dirimu. Terlalu banyak alasan dan tabir dalam hidupmu, ketika aku memaksakan diri untuk menguaknya, itu hanya menyakiti diriku sendiri. Jadi lebih baik, aku melepaskanmu. Bahkan jika kau mengulangi terus...

Selamat Jalan Gus Dur

Foto diambil dari KOMPAS  Aku ga tau, perasaan apa ini? tapi rasanya aku emang sedih dengan kematian Gus Dur. Bagiku Gus Dur seperti jaminan keragaman, pemikiran alternatif  dan pengakukan terhadap kelompok minoritas yang selama ini dianggap liyan, bisa tumbuh dan berkembang di negeri yang sedang belajar jadi dewasa ini. Jika penjamin itu tidak ada lagi, apa yang akan terjadi kemudian? Ku kira, selain kesedihan, perasaan yang menguasai banyak orang adalah  kekawatiran. Setiap orang yang bersetuju dengan keragaman dan pluralitas serta mendukung hak-hak minoritas, mesti menemukan keyakinan untuk menjamin keyakinan dan dukungannya itu, tanpa Gus Dur sebagai tameng yang siap menghadapi kekuasaan anti keberagaman dan abai terhadap hak minoritas. Kepergian Gus Dur seperti kepergiaan guru, bapak yang selama ini memberi jaminan 'zona aman' pada murid dan anak-anaknya untuk terus berpikir alternatif dan mengahargai keragamanan. Gus Dur seperti meretaskan jalan memberi keberan...