Skip to main content

Posts

Vitalogy Health Club: Sembuh atau Ngga Mau Sembuh?

Foto by tarlen, Pantai Sundak 2005 Sebuah chatting yang cukup intens terjadi semalam, bersama temanku seorang mantan redaktur. Aku berhasil menahannya di kantor sampai hampir pukul 22.30, padahal biasanya pk. 17.00 dia udah pamitan pulang. Tiba-tiba saja kami jadi dekat. Di dekatkan oleh Yahoo Messanger, karena jika dia datang ke tempatku, dia lebih memilih diam dan berbincang dengan buku-buku yang ada di tobucil daripada berbincang denganku. "Dalam diam pun, masing-masing kita sudah bicara banyak," begitu alasannya. Bukan dia yang akan kubicarakan disini, tapi apa yang berusaha dia katakan dan aku baru mulai memahaminya. Setiap kali aku membicarakan bapak, temanku itu pasti langsung bilang: "nah.. nah.. mulai lagi.. kamu belum sembuh rupanya." Dan dengan kengeyelanku itu akau akan bersikeras bilang: "Aku udah sembuh!" padahal pada saat yang sama hatiku sendiri bertanya: 'Iya gitu udah sembuh?'. Ketika aku masih membicarakannya berarti aku belum se...

Heart Sweet Heart My New Heart

Christina's World, by Andrew Wyeth Jika diumpakan, hatiku ini seperti sebuah rumah berkamar-kamar. Ada kamar utama, kamar tamu, kamar mandi, dapur, teras belakang, halaman depan, tempat kerja dan ruang-ruang lain yang fungsinya masih belum terdefinisikan dengan jelas. Sebagai sebuah rumah, tentunya rumah itu butuh pondasi yang kuat, bentuk yang artistik, serta pembagian ruang yang sistematis bergantung kebutuhan. Tujuannya tentu saja untuk membuat penghuninya merasa nyaman tinggal di dalamnya. Sebagai sebuah rumah, ku bayangkan hatiku itu seperti Little House on the Prairie , kecil di tengah padang rumput yang luas. Leluasa untuk bergerak, namun hangat dan nyaman untuk berlindung saat badai menerjang. Aku tak suka rumah yang besar dan megah. Karena kemegahan sering kali tak mencerminkan kehangatan. Aku lebih memilih rumah mungil, tidak besar, dengan barang-barang yang sederhana saja tapi fungsional, ada sentuhan kerajinan tanganku pada setiap detail ruangnya karena aku senang memb...

Surat Buat Ibu

karya titarubi Ibu, setelah kejadian kemarin, sulit bagi saya untuk bisa menerimanya begitu saja. karena bagi saya, kejadian kemarin itu mematahkan diri saya.. Begini ibu, terserah ibu apakah ibu menganggap saya memahami hidup ibu atau tidak. tapi yang jelas saya ingin ibu tau sejelas-jelasnya.. saya sudah ngga tahan lagi dengan sikap ibu yang selalu keras pada diri ibu sendiri. sikap ibu yang selalu merasa hidup sendiri, sikap ibu yang menganggap semua beban kehidupan ini, ibulah yang paling berat menanggungnya. saya sudah bosan dengan sikap ibu yang seperti itu. menyakitkan ya mendengar saya bicara seperti ini pada ibu? maaf kan saya.. tapi saya pada akhirnya terpaksa bersikap keras pada ibu untuk membuat ibu menyadari hal itu. Ibu tau, sikap keras ibu itu bukan hanya melukai diri ibu sendiri.. tapi juga anak-anak ibu.. terutama saya bu... sikap ibu yang keras itu membuat ibu sulit saya raih bu... ibu ada di dekat saya.. tapi mengapa begitu sulit bagi saya untuk menjangkaunya......

Membincangkan Soal Jodoh Dengan Ibu

Steve Buscemi di Paris I Love You Pagi ini kami bertengkar. Sebuah pertengakaran untuk masalah yang berulang. Mulanya dia mengajak kami_ empat orang anaknya_ berintrospeksi. Ibuku itu terganggu sekali ketika beberapa hari sebelumnya, saat dia kembali meributkan soal perjodohan anak-anaknya, aku bilang padanya: "ibu selama ini terlalu protektif sih sama anak..". Rupanya pernyataanku ini membuatnya tak bisa tidur. Ia berpikir dan seperti biasa, berasumsi tentang: mengapa aku mengatakan hal itu. Dan seperti biasa pula, ia mempercayai asumsinya itu. Sampai tadi pagi, sesudah selesai mandi, ibuku memanggilku untuk duduk bersama ketiga saudaraku yang lain. Ia mengajak kami berintrospektif tentang persoalan perjodohan ini. Tapi intinya sebeneranya ibunya mengajukan pembelaannya bahwa dia tidak seperti yang aku katakan. Lalu mulailah dia bercerita kisah hidupnya yang dia ulang-ulang dengan nada dan irama yang sama persis. Juga tentang penilaiannya terhadap anak-anaknya, bahwa masalah...

Melawan Kecanduan, Memulai Aktivitas

Bagi keluarga-keluarga yang hidup di kota besar seperti Bandung, televisi bukan lagi menjadi barang mewah. Televisi senantiasa hadir dan menjadi bagian dari kehidupan keseharian. Aneka program tontonan yang masuk ke ruang-ruang keluarga, kemudian ikut menentukan pola interaksi antar anggota keluarga. Tak jarang pula menonton televisi menjadi saat yang justru menyatukan anggota keluarga. Apa yang dilakukan keluarga Andar Manik, mungkin tidak banyak dilakukan oleh keluarga lain. Sejak sebulan terakhir ini, keluarganya memutuskan hidup tanpa televisi. Meski sempat mendapat protes dari anak bungsunya, Gilang yang baru berumur 10 tahun dan duduk di bangku kelas 4, bapak tiga anak _ Gita, Bintang dan Gilang_ tetap pada keputusannya untuk memutuskan saluran televisi yang ada di rumahnya. "Bukan karena saya tega sama anak, justru karena saya ngga tega melihat anak saya membeku di depan televisi," jelas suami Marintan Sirait ini. "Yang saya kawatirkan adalah efek dari kecand...

“Rethinking Cool” Gaya Anak Muda Bandung

pic by egga Tak sengaja, suatu siang, saya mendengar percakapan dalam bahasa Sunda dua orang anak laki-laki berseragam SMP di angkot Cihaheum-Ledeng, dalam perjalanan ke tempat kerja saya. “Maneh geus meuli sendal 347 can?” pertanyaan dalam bahasa sunda yang artinya: ‘kamu sudah beli sendal 347 belum? ‘, mengusik saya. Secara reflek, saya memandang si penanya yang duduk di hadapan saya. Ketika memandang mimik mukanya yang berapi-api, mata saya terpaut pada ransel sekolah yang ada dipangkuannya, merek 347, menghiasi ransel berwarna biru tua itu. Temannya yang duduk di sebelah saya menjawab: “acan euy, ku naon aya nu anyar?’ (belum, kenapa ada yang baru?) . Anak SMP yang duduk di hadapan saya itu setengah memarahi temannya: “Payah siah, meuli atuh meh gaul!” (payah kamu, beli dong biar gaul). Saya kaget, sekaligus geli dengan dua orang anak SMP itu. Kegelian saya bukan karena ekspresi mereka, tapi bayangan dandhy yang tiba-tiba muncul di kepala saya. Teman saya, si pemilik clothing la...

Komunitas Linux Bandung, Tidak Ingin Sebatas Pengguna

Pic source: Business Week Sudah menjadi kebiasaan di kalangan penggemar teknologi informasi (TI), untuk senantiasa mencoba mengikuti perkembangan terbaru. Tahun 1991, saat sistem operasi bebas Linux (Linux open source operating system) diluncurkan secara resmi oleh penemunya, Linus Torvalds dan Richard Stallman, para penggemar TI di Indonesia tak mau ketinggalan mencobanya. Mulanya sekedar ikut trend, namun pada perkembangannya semangat open source menjadi tujuan yang mereka perjuangkan. Tidak seperti sistem operasi windows dan OS untuk Mac, Linux sejak pertama dikembangkan tahun 1984 sebagai sebuah software terbuka. Yulian malah menyebut, beberapa orang di komunitas Salman ITB, termasuk pelopor dalam pengembangan software yang saat itu disebut sebagai software bebas. Dimana setiap orang bisa menggunakannya secara gratis dan bebas, menyebarkannya juga melakukan perubahan dan pengembangan dengan menyebutkan sumbernya. Setahun kemudian Richard Stallman menciptakan Free Software Fou...