Skip to main content

Posts

Night at The Museum 2: Battle of The Smithsonian (2009)

* * * Udah lama ga nonton di bioskop dan aku mengawalinya kembali dengan film ini. Film yang entah kenapa setelah selesai menontonnya aku merasa bahagia banget. Kebahagiaan yang mungkin ga terlalu berhubungan dengan filmnya, tapi filmnya mengingatkanku kembali semua perasaan yang sulit di gambarkan ketika aku berpetualang di museum-museum Washington (Smithsonian tentunya) dan Museum Natural History (NYC) setahun yang lalu. I miss all of those place.. I miss my friends at Brooklyn Museum... jadi sentimentil.. Film ini menurutku film yang keren banget untuk memberikan penontonnya imajinasi bahwa museum adalah tempat yang menyenangkan. Kamu bisa merasakan petualangan apapun di museum, tinggal pilih saja. Sebuah film dengan tema yang sangat cocok dengan misi pengembangan audience development museum.. hehehehhe... aku merasa pesannya dapet aja. Dibandingkan dengan Night at The Museum yang pertama, yang kedua, jauh lebih menarik. Karena kompleks memorial park washington itu isinya emang muse...

The Reader (2008)

* * * * Rasanya nyesek banget setelah selesai nonton film ini. Sebuah kait mengait kisah yang mulanya sederhana saja dan akar masalah di film ini juga sederhana saja, namun, bagaimana sebab musabab yang sederhana inilah yang kemudian mempengaruhi kehidupan seseorang secara permanen, bahkan menentukan hidup dan mati. Berkisah tentang Michael Berg muda (David Kross) yang cinta abadinya tertanam kuat pada sosok Hanna Schmitz (Kate Winslet). Sebuah pertemuan tidak sengaja dan berkembang dengan hubungan rahasia yang begitu dalam. Saat itu, Michael baru saja berusia 15 tahun, sementara Hanna seusia dengan ibunya. Pada Hanna, Michael menemukan kemampuan dirinya, meskipun Michael acap kali sulit memahami apa yang sesungguhnya terjadi pada Hanna. Hanna menyembunyikan sebuah rahasia darinya. Hubungan berakhir dengan tiba-tiba seiring dengan menghilangnya Hanna dengan tiba-tiba pula. Semua rasa cinta Michael kepada Hanna menjadi bara yang terus menyala. Tanpa sengaja, Michael menjumpai Hanna kemb...

The Child and The Fox/ Le Renard et l'enfant (2007)

* * * * Saat membaca judulnya, aku teringat cerita di masa kecil tentang 'Ruby si Rubah Kecil'. Cerita itu membuatku menangis sedih untuk pertama kalinya gara-gara sebuah buku. Dan ternyata aku tetep juga menangis, tapi karena haru saat menonton film yang berkisah tentang persahabatan seorang anak perempuan dengan 'lily' rubah liar yang hidup di hutan dekat rumahnya. Menonton film ini, seperti sedang didongengi oleh Kate Winslet sebagai narator edisi bahasa Inggris tentang lika liku kehidupan seekor rubah dari pandangan seorang anak perempuan. Film ini sangat menyenangkan bagiku. Seperti menonton dokumenter National Geographic tapi terasa manis dan segar, hanyut dalam pemandangan Perancis Selatan yang indah dari musim ke musim. Pemainnya hanya seorang gadis kecil yang tak disebutkan namanya diperankan oleh Bertille Noël-Bruneau dan seekor rubah yang diberi nama lily. Bagiku yang dibesarkan oleh buku-buku cerita anak-anak terjemahan dari Eropa, film ini seperti memanggil...

Rachel Getting Married (2008)

* * * * Gara-gara penasaran sama Anne Hathaway aku langsung nyari film ini ke toko dvd tetangga. Anne dinominasikan sebagai aktris terbaik Oscar 2009, lewat film ini. Dan setelah menontonnya, aku suka sama aktingnya dan juga filmnya secara keseluruhan. Selama ini, Anne main di film dengan peran-peran yang menurutku biasa-biasa aja. Rachel Getting Married bercerita tentang Kym yang bermasalah dengan narkoba dan menghuni panti rehabilitasi, pulang ke rumah beberapa hari saja khusus untuk menghadiri pernikahan Rachel (Rosemarie DeWitt). Saat berkumpul keluarga inilah, masalah keluarga di masa lalu yang belum selesai, muncul kembali di antara ketegangan mempersiapkan pesta pernikahan. Kym memang pernah melakukan kesalahan besar. Saat dia dalam pengaruh obat, ia mengendarai mobil bersama adik bungsunya, Ethan. Saat itu Kym tidak dapat mengendalikan mobil yang disetirinya dan saat mobil itu terjun bebas ke sungai, Kym tak bisa menyelamatkan Ethan yang tenggelam bersama mobil itu. Kematian Et...

Love in the Time of Cholera (2007)

* * * Barang siapa percaya cinta sejati itu ada dan akan berakhir happy ending, film ini cukup mewakili keyakinan itu. Diangkat dari novel karya Gabriel Garcia Marquez dengan judul yang sama, film ini mencoba menghadirkan kemeriahan dan kait berkait peristiwa dan tokoh-tokohnya yang tidak sedikit itu. Di sutradarai oleh Mike Newell, film ini berkisah tentang Florentino Ariza (Javier Bardem) yang menakdirkan dirinya sebagai cinta sejati Fermina Daza (Giovanna Mezzogiorno). Namun, nasib juga yang memisahkan Fermina dan Florentino, karena Fermina justru menikahi Dr. Juvenal Urbino (Benjamin Bratt.. God damn.. he's so sexy). Meski harus mengalami patah hati dan berpindah dari satu perempuan ke perempuan lain untuk mengisi hatinya yang ditinggal Fermina, Florentino tetap setia pada takdirnya, bahwa Fermina lah cinta sejatinya meski untuk bertemu takdirnya, Florentino harus menunggu berpuluh tahun. Memang bukan hal mudah untuk memfilmkan, sebuah novel yang sangat kaya detail dan jalan hi...

Le Grand Voyage (2004)

* * * * Bagaimana rasanya 'terpaksa' mengantar ayah pergi haji dari Perancis sampai Saudi Arabia? Ismael Farroukhi (sutradara) mencoba menjawabnya. Lewat Reda (Nicolas Cazale) si anak, dan si ayah (Mohamed Majd), perjalanan spiritual ini, menjadi kisah bagaimana anak dan ayah mencoba saling memahami. Tanpa banyak berkata, gap generasi si ayah yang lahir di tanah asal dan si anak yang lahir di tanah rantau, terungkapkan lewat adegan demi adegan film ini. Bagaimana si ayah masih memeluk agama islam secara taat, sementara anaknya yang lahir di Perancis, sulit mengerti mengapa ritual-ritual agama yang terasa menyulitkan itu masih harus dilakukan. Yang lebih mengherankan lagi, mengapa ayanya harus bersusah payah ke tanah suci dengan menempuh jalan darat, padahal ada pesawat yang bisa mengantar si ayah langsung ke tanah suci tanpa harus bersusah payah. Sebagai sebuah film perjalanan spiritual, Le Grand Voyage, terasa kental dan intens lewat bahasa visualnya untuk menjawab pertanyaan-...

En La Cama/In Bed (2005)

* * * * 'Ternyata one night stand bisa juga jadi sesuatu yang emosional', begitu komentarnya ketika membahas film ini lewat sms. Film garapan sutradara Chile, Matiaz Bize ini hanya di bintangi oleh dua orang aktris Blanca Lewin sebagai Daniella dan Gonzalo Valenzuela sebagai Bruno. Pertemuan yang tak sengaja di sebuah pesta, membawa Daniella dan Bruno ke atas ranjang untuk seks semalam saja (one night stand). Setelah persetubuhan yang menggairahkan antara dua orang asing yang baru saja bertemu, percakapan diantara keduanya, justru membawa mereka ke wilayah diri yang paling dalam. Hal-hal yang selama ini sulit di ungkapkan oleh masing-masing, justru terungkap karena keduanya berpikir, 'setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, setelah ini kita akan sibuk dengan hidup kita masing-masing dan saling melupakan'. Tapi benarkah demikian? benarkan seks hanyalah sekedar penetrasi tanpa emosi? bagaimana dengan gairah saat melakukannya dan emosi yang menyertainya? Kupikir Matias B...