Skip to main content

Posts

Menikahi Impian Dan Cita-cita

the Poem Tim Burton Wrote for Johnny Depp Jika ditanya, apakah aku sudah menikah? Ya. Aku sudah menikah. Menikah dengan impian dan cita-citaku. Menikah dengan banyak orang yang berjalan bersama menuju cita-citaku. Pada impian dan cita-cita aku berkomitmen, berjanji untuk setia, karena cita-cita dan impian tidak pernah berkhianat. Aku yang justru sering mencoba mengkhianatinya. Namun setiap kali aku kembali dari pengkhianatanku,  impian dan cita-cita selalu menerimaku dengan tangan terbuka dan memberiku kekuatan untuk kembali yakin. Sejauh apapun aku berusaha meninggalkan impian dan cita-citaku, aku akan selalu ditarik untuk kembali. Aku tak bisa hidup tanpanya. Bagaimana dengan menikahi laki-laki dengan cita-cita lain dan impian berbeda di kepalanya? Mungkin saja. Menikahi laki-laki yang tau apa yang dia cita-citakan dan dia impikan, sesungguhnya seperti menikahi impian dan cita-cita yang lain. Aku berjanji setia pada impiannya, begitu pula dia bersedia bersetia pada impian dan ...

Mengaku Kepada Publik: Terima Kasih Untuk Aa Gym

Pagi tadi, selepas sholat Ied, aku menyaksikan Aa Gym di acara Just Alvin, Metro TV. Aa Gym yang membuatku tercengang atas keberaniaannya untuk mengaku bahwa apa yang selama ini dia bangun adalah semata-mata demi pencitraan dan kesombongan belaka sebagai seorang ulama besar. Perlu keberaniaan luar biasa untuk mengaku bahwa selama ini popularitas telah membuatnya sesat. Kebesaran nama telah menyesatkan dirinya dalam kesombongan. Setelah menikah lagi dengan teh Rini beberapa waktu lalu, mengubah hidup Aa Gym secara drastis. Tuhan mengambil kembali semua kemasyuran, meruntuhkan pilar-pilar kesombongannya lewat usaha-usahanya yang hancur karena umat merasa 'terkhianati' oleh kemasan yang selama ini dia bangun. Topeng yang selama ini ia kenakan untuk membuat orang-orang merasa takjub padanya. Dan saat berada di puncak kesombongannya, Tuhan meruntuhkan dengan caraNya sendiri. Perbincangan Alvin Adam dengan Aa Gym, bagiku cukup menggugah. Bukan semata-mata karena membuka sisi Aa Gy...

The White stripes: The Hardest Button to Button

Lagu yang cocok untuk soudtrack 'merenungkan kembali kelakuan para ponakan, tante, om, kakak sepupu dan keluarga besar.' We started living in an old house My ma gave birth and we were checking it out It was a baby boy So we bought him a toy It was a ray gun And it was 1981 We named him Baby He had a toothache He started crying It sounded like an earthquake It didnt last long Because I stopped it I grabbed a rag doll And stuck some little pins in it Now were a family And were alright now We got money and a little place To fight now We dont know you And we dont owe you But if you see us around I got something else to show you Now its easy when you dont know better You think its sleazy? Then put it in a short letter We keep warm But theres just something wrong when you Just feel like youre the hardest little button To button I had opinions That didnt matter I had a brain That felt like pancake batter I got a backyard With nothing in it Except...

Patah Hati

 Light at the end of Angkor Watt, photo by vitarlenology Beberapa hari terakhir ini, persoalan 'patah hati' ini muncul lagi dalam pikiranku. Pertemuan dengan orang menyakiti hati keluargaku terus menerus, om (adik ibuku) yang sangat dekat dengan aku dan keluargaku yang mengalami kecelakaan dan mengalami luka dalam yang serius, orang yang dekat denganku mengalami keretakan hubungan dengan seseorang yang sebelumnya dekat dengannya, dan juga ulang tahun bapak ke 73 tahun jika ia masih hidup sampai saat ini. Semua itu membuat aku kembali memikirkan soal patah hati ini. Apa yang membuat aku merasa patah hati? Apa yang membuat ketika bertemu orang yang menyakiti perasaan, meski sebelumnya lama tidak berjumpa dan dia tak lagi melakukan tindakan-tindakan yang menyakiti, tapi ketika bertemu, rasa sakit yang dulu masih saja tetap ada. Pertemuan dengan orang yang pernah menyakiti, seperti memutar kembali semua pengalaman buruk yang pernah dialami dengan orang itu. Padahal tidak semua h...

Ronde Alkateri

Di Jalan Alkateri, Bandung ada warung ronde yang cukup legendaris. Bukanya setiap Pk. 18.00 sampai malam hari. Kuah gula jawanya pas banget, tidak terlalu manis tapi hangat di badan. Ondenya kerasa banget rasa tepung berasnya. Yang paling seru dari warung ronde Alkateri adalah suasana 'pecinan'nya. Tante penjualnya senang memutar lagu-lagu mandarin, bener-bener suasana yang khas disalah satu sudut kota Bandung.

Tentang Hubungan, Belajar Dari Jack dan Meg White

Jack and Meg White Jika ada selebriti yang memberiku pelajaran berharga tentang hubungan, orang itu adalah Jack White. Musisi paling penting dalam dekade ini. Umurnya lebih tua dariku dua tahun saja. Pelajaran apakah yang dia berikan tentang hubungan? Ketika Jack dan Meg White yang dikenal dunia lewat The White Stripes , media memberitakan bahwa mereka adalah 'brother and sister band'. Namun belakangan terungkap bahwa Jack dan Meg adalah bekas suami istri. Mereka berdua menikah di usia yang sangat muda. Meg adalah cinta pertama sekaligus pacar pertama Jack Anthony Gillis yang kemudian dinikahi pada tahun 1996. Setelah menikah, Jack mengambil nama keluarga Megan Martha White sebagai nama belakangnya. Mereka bercerai tahun 2000. Saat media mengetahui bahwa Jack dan Meg bukanlah kakak beradik, melainkan mantan suami istri, Jack menjelaskan pada majalah Rolling Stone: When you see a band that is two pieces, husband and wife, boyfriend and girlfriend, you think, "Oh, I see ...

Pause/Re-Think: 'Craftivism in My Everyday Life'

 'KLCC' foto by vitarlenology Akhir pekan kemarin, aku pergi ke ibukota, memberi workshop di sebuah mall bergengsi di ibukota. Setelah selesai, aku dan beberapa teman berkeliling di beberapa spot yang 'menarik' untuk di kunjungi. Salah satunya sebuah oulet barang-barang kerajinan olahan kerajinan tradisional berbagai daerah di Indonesia. Desainnya bagus-bagus setidaknya representasi dan karena ditempatkan di mall itu, barang-barang yang biasanya terlihat 'jujur dan sederhana' jadi terlihat prestisius. Jangan tanya soal harga, karena soal masuk akal dan tidak jadi sangat relatif. Kemegahan mall ini, membuat harga yang 'tidak masuk akal menurutku' menjadi punya argumentasi logis. Selain melihat-lihat outlet barang-barang yang mengolah tradisi itu, aku dan teman-teman juga melihat-lihat lantai basement dari mall itu yang berisi jajaran outlet brand yang konon kabarnya 'independen'. Lagi-lagi karena kemegahan mall ini, outlet-outlet itu bisa m...