Skip to main content

Posts

Kepedulian yang Melanggengkan Konflik (Israel-Palestina)

Palestinian kids having an ice-cream in Nablus Gambar diambil dari sini Tiba-tiba saja banyak orang menuliskan tagnya di YM dan facebook, mengutuk kekejaman israel di Jalur Gaza. Demo anti Israel juga kembali marak di gelar di banyak kota. Postingan yang mengecam kebrutalan Israel (dan Yahudi) juga banyak menghiasi multiply dan blog. Semua mengutuk Israel (a.k.a. Yahudi). Tapi benarkah semua itu karena kita sungguh-sungguh peduli pada Palestina yang tertindas? Di antara berbagai tanggapan tentang tindakan Israel itu, ada satu postingan yang menggelikan tapi sekaligus membuatku miris. Nada postingan seperti ini selalu muncul setiap kali konflik Israel Palestina kembali memanas, aku dapat dari milis jurnalisme. Media di Amerika dikuasai oleh lobby Yahudi! Maka tidak heran kalau fakta di lapangan selalu ditutupi dan dimanipulasi demi public relation campaign untuk mengelabui rakyat Amerika! Lalu temanku membalas di milis yang sama dengan lucu, namun mengena. Logika kalimat di atas s...

Alergi

Foto by tarlen Seumur-umur, aku ga pernah kena yang namanya alergi. Sekarang, setelah hidup hampir 32 tahun, baru merasakan apa yang namanya alergi. Meski hidung yang beralergi, ternyata dampaknya kemana-mana: tenggorokan, telinga, sinus. Dan jangan ditanya, kalau bagian-bagian itu kemudian bermasalah akibat si alergi ini. Dokter THTku bilang, alergi ini sulit di sembuhkan sama sekali. Dia menetap dalam tubuh dan jalan satu-satunya untuk mencegahnya jadi masalah adalah menjaga tubuh tetap sehat dengan makan yang teratur, istirahat yang cukup dan berolah raga. Sebuah resep klasik dan sederhana untuk hidup sehat. Namun yang sederhana ini juga bukan hal yang mudah untuk di lakukan. Ngomong-ngomong soal alergi ini, nyambung juga sama jawaban temenku, ketika aku nanya sama dia: "heran, kenapa sih setelah putus hubungan asmara, sesudahnya ga bisa temenan aja kaya biasa?" Temenku yang jagoan bikin robot dan sangat rasional ini mentertawakan pertanyaanku yang menurutnya itu pertanyaa...

Hidup di Bandung Dasawarsa 80an - 90an

'Burako alm. jegger bonpis' foto by bapakku Tiba-tiba saja, Bebeng bertanya: "Hey Len, maneh teh lainna budak SMP 20? Atuh gudang beas?" (hey len, bukankah kamu anak SMP 20? Gudang beras ya?). Aku yang ditanya begitu langsung balik menuding Bebeng " Hah? maneh teh budak 20 oge?" tawaku dan tawa Bebeng meledak. Tiba-tiba saja, aku dan Bebeng (yang setiap hari nongkrong di kantor AJI Bandung alias tetangga kamar tobucil) punya kesamaan sejarah, karena bersekolah di SMP yang sama. SMP yang sama sekali bukan SMP favorit (biasanya SMPN 4 tetangga kami, meledek anak-anak SMPN 20 dengan sebuatan sekolah gudang beras. SMPN 20 ini terletak persis di stasiun Cikudapateh). Kenangan kami, ternyata ga jauh beda. Tentang: betapa 'beling'nya daerah kami di jaman remaja dulu. Anak-anak SMPN 20 Bandung (Jl. Centeh, Bandung) pasti ga asing dengan daerah-daerah di sekitarnya: Cinta Asih, Samoja, Gang Warta, Cicadas, Cibangkong, Karees, Cibunut, Alani, Kosambi, B...

Langit Usai Gudang Selatan

Foto by tarlen Setiap senja yang tenggelam, selalu membawa rasa yang berbeda tentang hari ini, apa yang akan usai dan dimulai kembali esok pagi.. gudang selatan, 26 Desember 2008

Langitnya, Masih Langit yang Sama

Foto by tarlen Suatu hari, teman baikku menenangkanku saat aku panik berat karena akan menempuh perjalanan penting dalam hidupku. "Tenang saja, langitnya masih langit yang sama, Tuhannya juga masih Tuhan yang sama, bilang saja pada langit, pada angin kalo kamu butuh ditemani, maka saya akan datang padamu lewat langit, lewat angin, lewat dedaunan..." Seketika saja, semua kepanikan menguap entah kemana. Dan benar saja, di tempat asing itu, saat aku merasa sendirian, aku memandangi langit. "Hey langit, apakabarmu? Aku rindu rumah, aku rindu teman-temanku, sampaikan salamku pada mereka ya.." Begitu pula pada angin "Angin, kirimkan bau bunga sakura di musim semi ini pada ibuku, pada orang-orang yang kucintai, aku ingin mereka merasakan keindahannya dan harumnya.." Sejak itu, aku meyakini, semesta selalu hadir dan ada. Dia terhubung dengan hidup dan kehidupan yang kujalani. Dia ada menaungi perjalananku. Meski manusia seringkali mencoba memutuskan keterhubungan...

Hatiku Di Antara Si Pembawa Rasa Nyaman Vs Si Roller Coaster

Foto by tarlen Mana yang sebaiknya di pilih? lelaki yang memberikan rasa nyaman dengan gairah yang statis, atau lelaki yang menawarkan banyak petualangan mengairahkan, tapi bikin hidup berjalan seperti roller coaster? Pertanyaan ini, kerap kali muncul di usia tiga puluh sekian seperti yang aku rasakan sekarang, ketika akan menentukan pasangan hidup seperti apa yang cocok untuk hidupku. Kalau pertanyaan ini adalah sebuah pilihan, tentunya ini bukan pilihan yang mudah. Sulit. Bahkan teramat sulit. Karena pilihan ini berhubungan dengan karakter calon pasangan yang tentunya akan berubah di kemudian hari. Bagi perempuan lajang yang intens dalam pencarian makna hidup, punya pasangan yang memberi rasa nyaman itu, penting artinya. Nyaman dengan dirinya, nyaman dengan pencapaiannya, secara psikologis dia adalah pribadi yang matang dan sudah bisa berdamai dengan banyak hal dalam hidupnya, bahkan berdamai dengan hal yang paling sulit untuk diterima sekalipun. Baginya, berdamai itu sama dengan me...

We Are Also What We Have Lost

Foto by tarlen Alejandro Gonzales Innarittu menulis kalimat tadi dia akhir film pertama dia, Amores Perros yang menang di banyak festival. Sebuat kutipan yang Innarittu tujukan bagi anaknya yang meninggal sebelum film itu membawa perubahan besar dalam hidup Innarittu, sebagai sutradara yang patut diperhitungkan dalam pentas perfilman dunia. Itu Inarrittu. Kehilangan besar dan perubahan besar (kalau tidak besar, sebut saja penting) dalam hidup, juga aku alami. Aku ingat, kelas 3 SD adalah masa terindah dalam rentang 6 tahun pendidikan dasar yang kutempuh. Di kelas 3 SD itu, aku punya guru yang menyadarkan aku pertama kalinya bahwa aku punya bakat dibidang seni. Dia selalu memberikan apresiasi yang positif terhadap karya-karyaku. Begitu pula teman sebangkuku. Aku ingat namanya Ranti. Aku merasa punya teman yang mengerti dan bisa berbagi keceriaan masa-masa terindah di kelas 3 SD itu. Namun, semua ga berlangsung lama, karena di semester kedua, Ranti pindah sekolah dan aku ga pernah tau la...