Skip to main content

Selingkuh Atau Tidak, Bukan Itu Pertanyaannya

Hidup sehari-hari saya rasakan biasa saja. Saya dan suami memiliki komunikasi yang baik dan kami bisa berbicara apa saja tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah seksual, tetapi kehidupan seksual kami rasanya kok tidak mengalami peningkatan. Bahkan sebaliknya yang terjadi. Mengapa perubahan ini terjadi? Apakah berselingkuh merupakan sebuah ide yang baik untuk mengatasinya?"

Dipicu oleh sebuah konsultasi seks di sebuah media, milis alumni tempat saya kuliah dulu, diramaikan dengan subject perbincangan: ‘Benarkan Selingkuh itu Perlu?’. Berbagai reaksi bermunculan menanggapi subject ini. Ada yang melihatnya dari sisi agama: selingkuh akan menjadi sesuatu yang dahsyat ancamannya hingga orang akan berpikir berulang-ulang kali untuk melakukannya. Ada pula yang menganggap perselingkuhan sebagai sebuah pelanggaran yang sangat berat terhadap cinta. Juga muncul pendapat, bahwa sebelum menikah, benahi dulu motivasinya, sehingga perselingkuhan bisa dihindari.

Dalam waktu yang hampir bersamaan dengan perdebatan di milis tentang perselingkuhan, beberapa temen curhat pada saya. Suatu ketika mereka bangun tidur dan merasa tidak mengenali pasangan mereka. Padahal mereka telah membina rumah tangga bertahun-tahun. Perasaan asing yang sulit untuk dibicarakan dan dibiarkan terus. Alhasil, masing-masing pihak semakin asing satu sama lain. Saat kondisi seperti itulah, pihak ketiga (atau yang sering dianggap sebagai penyebab perselingkuhan) datang sebagai oase yang menawarkan kebaruan di tengah perasaan terasing.

Saya sendiri belum menikah. Saya belum punya pengalaman bagaimana rasanya menjaga komitmen dalam relasi pernikahan. Tapi saya sering merhatikan orang-orang yang sudah menikah selama bertahun-tahun dan terjebak ke dalam keterasingan itu. Apa yang salah? kenapa keterasingan itu muncul. Kenapa tiba-tiba pasangan yang satu tidak mengenali pasangan yang lain?

Saya dan temen saya yang sudah menikah selama tiga tahun pernah membahas hal ini. Dia bilang, faktor rutinitas menjadi salah satu penyebab keterasingan itu. Sibuk mengurus anak, sibuk bekerja. dan semua kesibukan lain yang mengatas namakan urusan keluarga yang kemudian bukannya mendekatkan pasangan satu sama lain, tapi malah menjauhkan. Konstruksi sosial mengenai pernikahan sering kali diartikan sebagai peleburan dua individu menjadi satu juga pembagian peran antara pihak laki-laki dan perempuan; laki-laki sebagai kepala keluarga yang mengayomi dan perempuan sebagai pihak yang diayomi. Konstruksi social seperti ini, membatasi ruang gerak individu untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu yang mandiri dan sepakat untuk membuat komitmen melalui relasi pernikahan. Banyak pasangan justru merasa kehilangan kehidupan pribadi justru setelah mereka menikah. Padahal bagaimana pernikahan itu bisa berjalan dengan baik, sangat ditentukan oleh proses negosiasi yang terus menerus dari kedua pihak yang bersepakat untuk menikah.

saya sendiri termasuk yang tidak setuju dengan konsep melebur menjadi satu. buat saya setiap individu yang berkomitmen dalam pernikahan harus terus menerus membangun dirinya, identitasnya masing-masing dan menegosiasikannya pada pasangannya. Bagaimana dia bisa menjadi ayah atau ibu, ketika sebagai individu, masing-masing tidak tahu apa yang mereka inginkan dan bagaimana mendeskripsikan dirinya.

Saya bertanya pada temen saya itu, kapan terakhir dia ngobrol dari hati ke hati sama pasangannya tentang diri masing-masing tentang keinginan dan harapan masing-masing. Temen saya bilang itu dia lakukan terakhir kali 3 tahun yang lalu, ketika masih pacaran. kebayang kan, apa yang bisa terjadi dalam 3 tahun menikah ketika anak kemudian muncul sebagai konsekuensi.

Sering kali ketika salah satu pasangan yang sudah menikah ditanya, apa yang membuat mereka bahagia, yang bersangkutan sering kali menjawab: 'saya bahagia ketika keluarga saya begini....' atau 'saya bahagian ketika pasangan saya'... 'saya bahagia ketika anak saya begitu...' jarang sekali mereka menjawab 'saya bahagia ketika saya menikmati matahari pagi'.. bla..bla.. bla.. konsep ‘melebur jadi satu’ itulah yang membuat kebahagiaan bukan lagi milik individu, tapi harus menjadi milik keluarga atau pasanagnnya. Suara individu tak lagi mendapat ruang. Masing-masing terjebak dalam kewajiban menyenangkan orang lain dan harus mengesampingkan keinginan, aktualisai dan aspirasi diri sendiri/individu. Kondisi seperti ini membuat relasi perkawinan bukan lagi menjadi sebuah proses negosiasi, tapi penyerahan diri sepihak dan berarti ada pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Dan selingkuh menjadi ‘alternatif’ katarsis untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi individu.

Ada satu tip sederhana dan menarik yang saya pikir mungkin itu berguna. Kebiasaan berpegangan tangan dengan pasangan setelah bangun tidur selama 10-15 menit sambil membicarakan hal-hal ringan dan menyenangkan mengenai diri masing-masing bisa jadi resep pernikahan yang bahagia. Saya belum menikah jadi belum merasakan hasilnya. Tapi saya akan coba itu dengan pasangan saya kelak. Meluangkan 10-15 menit setiap hari untuk coba mengenali pasangan masing-masing. Bagaimana keseteraan dalam relasi pernikahan bisa terbangun, jika masing-masing pasangan tidak mengenali pasangannya secara individu. Ketika masing-masing saling mengenal, pengertian dan saling memahami bisa terbangun. Posisi tawar dalam menentukan komitmen pun bisa berjalan seimbang. Jika kondisi ini telah tercapai, apakah selingkuh dibutuhkan atau tidak untuk menjaga gairah kehidupan pernikahan, saya rasa pertanyaan itu menjadi tidak relevan. Gairah dan juga kehidupan seksual menjadi bagian dari identifikasi dan proses untuk terus menerus mengenali pasangan sebagai seorang individu. Karena itu selingkuh bukan semata-mata persoalan kebutuhan seksual yang tak terpuaskan. Tapi coba lihat lebih jauh lagi. Siapa tahu perselingkuhan itu terjadi ketika kita tak lagi merasa mengenali pasangan kita masing-masing.

untuk Jurnalperempuan.com

Comments

Popular posts from this blog

Hujan Semalam di Malaysia, Banjir Sebulan di Sembakung*

Foto oleh tarlen Creative Commons Tulisan ini adalah catatan penelitan lapangan yang dibuat untuk Yayasan Interseksi. Tarlen Handayani adalah anggota Tim Peneliti Hak Minoritas dan Multikulturalisme di kawasan Sembakung, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur Sembakung. Sebuah tempat yang sama sekali asing dan saya putuskan sebagai tujuan dari penelitian ini, saat sampai di Nunukan, Kalimantan Timur. Dari rencana semula, wilayah penelitian saya adalah Kepulauan Mentawai, tepatnya di Siberut. Namun, saat workshop persiapan sebelum berangkat ke lapangan, tempat penelitan sepakat di pindah ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur atas pertimbangan beberapa informasi, bahwa Siberut terancam tsunami. Saya menyepakati kepindahan lokasi itu, meski berarti saya harus mempersiapkan semuanya lagi dari awal. Salah satu mentor workshop, Dave Lumenta , memberikan rekomendasi beberapa daerah di sekitar Kecam

“Rethinking Cool” Gaya Anak Muda Bandung

pic by egga Tak sengaja, suatu siang, saya mendengar percakapan dalam bahasa Sunda dua orang anak laki-laki berseragam SMP di angkot Cihaheum-Ledeng, dalam perjalanan ke tempat kerja saya. “Maneh geus meuli sendal 347 can?” pertanyaan dalam bahasa sunda yang artinya: ‘kamu sudah beli sendal 347 belum? ‘, mengusik saya. Secara reflek, saya memandang si penanya yang duduk di hadapan saya. Ketika memandang mimik mukanya yang berapi-api, mata saya terpaut pada ransel sekolah yang ada dipangkuannya, merek 347, menghiasi ransel berwarna biru tua itu. Temannya yang duduk di sebelah saya menjawab: “acan euy, ku naon aya nu anyar?’ (belum, kenapa ada yang baru?) . Anak SMP yang duduk di hadapan saya itu setengah memarahi temannya: “Payah siah, meuli atuh meh gaul!” (payah kamu, beli dong biar gaul). Saya kaget, sekaligus geli dengan dua orang anak SMP itu. Kegelian saya bukan karena ekspresi mereka, tapi bayangan dandhy yang tiba-tiba muncul di kepala saya. Teman saya, si pemilik clothing la

Menjadi Kecil Itu Pilihan

Tobucil jepretan Chandra Mirtamiharja Aku sering sekali di tanya, apakah suatu hari nanti tobucil akan menjadi tobusar alias toko buku besar? meski seringnya kujawab sambil bercanda, tapi aku serius ketika bilang, tobucil akan tetap menjadi tobucil. Karena tobucil tetap memilih menjadi kecil. Sebagaian yang mendengar jawabanku bisa menerima meski mungkin ga ngerti-ngerti amat dengan maksudku 'tetap menjadi kecil' , tapi sebagian lagi biasanya langsung protes dan merasa aneh dan menganggapku tidak punya cita-cita besar dan tidak mau mengambil resiko menjadi besar. Biasanya aku akan balik berkata pada mereka yang merasa aneh itu, 'memilih tetap kecil itu bukan pilihan yang mudah loh.' Mungkin ada teman-teman yang kemudian bertanya, 'mengapa menjadi kecil itu bukan pilihan yang mudah?' bukankan kecil  itu sepele, remeh dan sederhana? Ketika memulai sebuah usaha dari hal yang kecil, remeh dan sederhana, itu menjadi hal yang mudah dilakukan. Namun jika sebuah